Kabar dari Peradaban Laut

F. Moses

Barangkali inilah peradaban sekaligus tempat tinggal terunik di muka bumi sepanjang adanya alam. Kami sebagai daratan di tengah hamparan lautan. Sejak puluhan tahun silam kami tinggal di sini. Kami hanya tahu laut. Laut yang kebetulan pula berbatasan dengan perbukitan. Sangat berdekatan dengan daratan lainnya pula. Akan tetapi, laut tetaplah laut yang sejak dulu tak pernah berubah sekalipun berbatasan dengan bukit yang berdekatan dengan daratan.

Dan barangkali pula, inilah adanya kami; kami tertakdirkan hidup di laut. Kami yang teramat mencintai laut sekaligus daratan di jarak yang teramat sangat berdekatan ini. Kecuali, tempat kami berpijak di tengah hamparan cakrawala laut luas ini. Kami sebagai daratan dalam lautan.

Dan, rasanya, kami tak perlu marah jika semua orang di negeri daratan sana menganggap kami seperti serupa ikan. Ikan daratan. Ikan daratan yang kerap termanfaatkan pula oleh mereka yang aus memburu kami. Ya, sudahlah, apalah arti anggapan mereka itu? Sekalipun lama kami teranggap demikian. Kecuali, ketakutan kami yang menjadi seperti hidup di alam perburuan.


Sekali lagi, kami hanya mengenal laut. Laut saat pagi, siang, petang, malam, dan kembali pada pagi lagi yang selalu saja memesona dan tetap saja laut tak pernah berubah. Pesona yang tak akan tergantikan oleh alam manapun. Makanya, kadang kami pun tak habis pikir; entah apa yang telah membuat kami tidak mau pergi apalagi tinggal di negeri daratan sana.
Kami sudah sangat bangga berada di sini: kebanggaan yang sepertinya juga sudah menjadi satu dengan leluhur. Leluhur telah menjadikan kami lebih beradab. Dugaan kami.
Kami dan laut selalu bersahabat dan merasa lebih memiliki peradaban. Peradaban laut: peradaban yang selalu abadi. Abadi sepanjang zaman. Kami tak pernah pula terkikis oleh waktu. Itulah yang membuat kami bangga dan bertahan dan tetap mempertahankan kebudayaan kami sejak zaman nenek moyang dulu.
Sekali lagi, kami sebagai orang-orang laut merasa lebih memiliki peradaban. Peradaban laut. Peradaban yang tak pernah pula berubah oleh perkembangan zaman apa pun. Laut, bagi kami, tetaplah hamparan dari aroma air asin yang selalu menjadikan deburan ombak serta kilauan keperakan saat matahari menyemburkan cahaya panasnya.
Bagi kami lagi di sini, sebagai orang-orang berperadaban laut, laut tetaplah desiran bagi hidup kami; angin laut yang tetap dan tak akan pernah berubah dari apa saja yang kami hela di sini. Laut sangat membantu kami meringankan hidup di kerap dahsyatnya gelombang peradaban yang terkadang mampu membunuh hidup itu sendiri.
Tidak ada yang perlu kami takutkan hidup begini dan seperti ini, malainkan bangga. Kebanggaan telah membuat kami lebih beradab dari orang-orang di daratan sana. Beradab dan lebih memiliki peradaban. Peradaban laut: peradaban tak pernah berubah sepanjang masa.
Satu hal lagi, kami pun lebih bangga dengan bahasa kami. Sekalipun terbilang unik. Bahasa laut. Sekalipun terpinggirkan dan terjauhi. Bahasa yang membuat kami lebih menyatu dan lebih memahami satu dengan lainnya. Terlebih alam. Alam berisi hamparan luasnya lautan. Bahasa membantu kami menyatukannya, bahasa kami dan lautan. Bahasa yang di dalamnya terdapat ribuan juta kata. Kata yang menjadikan kami lebih mudah berbahasa dengan alam. Kata ungkap.
Sekalipun orang-orang di daratan sana beranggapan kami lebih primitif daripada mereka, namun kami tetap bangga. Bahasa laut. Bahasa yang membuat kami jadi lebih menghargai nenek moyang kami di ribuan tahun silam. Kami tetaplah bangga: kebanggaan yang tak pernah pula terpikirkan: entah kenapa kami telah menjadi suratan takdir sebagai orang-orang laut. Karena itulah, sampai perkembangan di zaman apa pun kami tak akan pernah berubah. Berubah yang terkecuali perubahan seiring peradaban kami untuk tetap lebih terlestarikan. Peradaban laut, tak akan pernah kami akhiri. Tak akan pernah juga kami ingkari janji kesetiaan terhadap peradaban kami ini. Peradaban laut. Peradaban sejak zaman nenek moyang kami.

Suatu ketika, kami mendengar kabar tentang peradaban di negeri daratan sana yang cukup membuat kami takut. Sangat meresahkan hati kami di sini. Yaitu tentang peradaban baru yang tengah dibentuk bahkan rencananya akan dilestarikan dan rasanya sudah terlestarikan: peradaban dari mereka, sebagai orang-orang yang terlahir dari daratan di negeri itu. Orang-orang daratan. Mereka sungguh picik bahkan tidak mengenal belas kasih.
Padahal, mereka jauh sungguh lebih maju ketimbang kami. Dari segi penghasilan, tentunya mereka juga lebih berkecukupan daripada kami. Namun entah kenapa mereka kerap saja kelaparan? Lapar untuk selalu membangun peradabannya sendiri. Peradaban untuk saling memakan siapa saja yang menghalangi keinginan sesama orang di negeri itu. Negeri daratan. Padahal, telah lama sudah terkatakan bahwa mereka merupakan orang-orang pintar dan berpendidikan. Entah pintar apa. Entah pendidikan apa. Setidaknya, mereka telah pintar membangun dunianya sendiri menjadi peradaban—yang dapat terkatakan pula—paling modern: bagi diri mereka sendiri serta tempat-tempat bagi mereka mencari dan kemudian membangun peradaban.
Dan, seperti telah kami ketahui, rasanya tak perlu dikatakan lagi untuk masalah pembangunan. Orang-orang di negeri itu tak pernah lelah serta berkesudahan untuk membangun. Segala singgasana dengan amat menjulang sekalipun telah mereka bangun. Membangun bagi dinastinya masing-masing. Dan, jika perlu, segala sesuatunya akan dirasa mampu untuk mereka beli. Mereka mampu membeli segalanya. Apa pun dipertaruhkannya: harta dan kekuasaan. Bila perlu kehormatannya.
Sewaktu-waktu pula, orang-orang di negeri daratan juga tak segan pula untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Atas nama peradaban kebersamaan maupun atas nama tetek bengek lainnya, mereka tetap saja saling tuduh dan curiga. Atas nama peradaban pula, mereka menghalalkan segala cara dalam bertindak. Celakanya, atas nama peradaban, mereka mengkhianati nenek moyangnya sendiri—yang telah ribuan tahun silam melahirkan serta melestarikannya. Barangkali mereka sudah di dalam kubangan kutuk nenek moyang? Entahlah. Terlalu jauh rasanya bagi kami berpikir sampai ke situ.
Orang-orang daratan, tidak pernah berhenti untuk mencari kepuasan. Segenap tubuh mereka pun memang terisi oleh nafsu. Nafsu bersikap untuk menjadi rakus dan tidak ingin berhenti terhadap apa yang telah dicapainya. Selalu saja ada rasa untuk menjadi lebih untuk mencapainya. Semuanya terlakukan oleh perbuatan-perbuatan menghalalkan segala caranya pula. Rasanya pula, mereka tak kenal syukur. Mensyukuri hidup. Betapa hidup selalu merasa berkekurangan tanpa rasa syukur.

Hamparan luas cakrawala lautan yang selalu saja terselingi deburan ombak oleh mata angin dari segala arahnya—seolah dan memang tak pernah letih apalagi berhenti. Juga matahari yang tak pernah mengingkari janjinya: kehadiran menggelap-terangkan seisi semesta. Teranggap di kami pula, sebagai orang-orang yang berkehidupan di laut, kami tak akan pergi dari peradaban ini. Peradaban laut. Peradaban terunik sejak zaman nenek moyang kami. Peradaban yang akan dan selalu tetap kami pertahankan. Peradaban telah membuat kami setia dalam segala rasa maupun firasat.
Dari rasa dan firasat itu pula, kami mendengar kabar.
”Mula-mulanya mereka menyiram seperempat lautan dengan racun. Entah racun apa namanya. Supaya mereka lebih aman saat menyelam. Kemudian mengambilnya untuk diperjual-belikan. Entah mereka mau jual sama siapa,” kata seorang di antara kami.
”Ya, mereka juga akan segera membangun tempat-tempat hiburan. Khususnya adalah hiburan malam. Rencananya pula dan akan segera, di antara pekerjanya adalah perempuan-perempuan di antara orang-orang laut sini,” kata seorang lagi menimpali.
”Mereka pastinya juga menghancurkan peradaban kita,” kata seorang yang lain di antara kami kembali menimpali.
Ya, tanpa sepengetahuan orang-orang dari daratan telah menyerang kami. Perlahan-lahan mereka ingin mengubah keadaan kami. Kelamaan, mereka akan mulai bertindak sesuka hati. Mereka merusak kehidupan kami. Mereka merampas kekayaan kami. Mereka merampas segala keindahan yang ada pada kami.
Tentunya kami tak tinggal diam, sekuat tenaga kami melawan mereka. Semua itu berlangsung sampai saat ini.

Sampai saat ini juga, sangat sulit bagi kami untuk membedakan mana orang-orang laut dan orang-orang daratan. Secara perlahan pula akhirnya kami seperti menyatu. Padahal, tidak menyatu sama sekali. Jika memang demikian, apakah yang membuat kami tidak menyatu? Mungkin itu sama saja ketika kami harus mengukur betapa menjoroknya perbedaan dalam lautan dan hati manusia. Barangkali.
Sekali lagi, semua kehidupan kami bersama orang-orang daratan berlangsung sampai saat ini. Tak ada yang kami takutkan dari mereka sebenarnya. Kecuali, kekhawatiran kami terhadap peradaban dari mereka untuk kami. Terlebih adalah sikap pemaksaan maupun menghalalkan segala cara dari mereka. Itulah sikap paling sangat kami takutkan. Betapa sakit hidup dalam kekhawatiran. Betapa bengis hidup untuk menghalalkan segala cara.
Sejak zaman dulu kami selalu hidup rukun berdampingan. Hidup dalam kebersamaan serta penuh kebersahajaan. Kebersamaan yang sekalipun masing-masing dari kami terlahir dari nenek moyang yang berbeda-beda. Laut telah menyatukan kami.

Yang kami tahu hanya laut. Laut berbatasan dengan bukit-bukit. Kami mengerti betul peradaban laut. Peradaban yang tidak pernah berubah. Laut yang selalu dan seperti hamparan cakrawala kosong dan memang kosong. Kecuali, gerak angin yang tertampak lewat deburan ombak saling beradu maupun balap karenanya. Laut yang masih dan tetap saja laut saat di bawah rembulan sekalipun.
Karena itulah, sekalipun mereka mengusik dan terus selalu saja mengusik, kami hanya sabar yang memang sudah tertakdirkan untuk hidup dalam kesabaran. Betapa nikmat hidup dalam kesabaran. Kami hanya ingin damai. Betapa nikmat hidup dalam kedamaian. Laut terasa cukup telah menguji kami. Laut terasa cukup pula menguji daya, rasa, firasat, maupun cinta kami tentang peradaban. Peradaban laut. Peradaban kami. Peradaban yang tak pernah berubah apalagi berkesudahan—Sekalipun saat ini aroma asin laut seolah menjadi amis bercampur keringat dan air mata. Entah kenapa.

Telukbetung,
Februari—Maret 2008

Sumber: Sinar Harapan, 10 Mei 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s