Dua Pulau Seribu Satu

F. Moses

Desember, aku menganggapnya sebagai bulan kemuliaan, dalam ingatan. Setidaknya ihwal pertobatan, entah tobat karena apa. Dan, ihwal yang di antaranya ingatan akan pekerjaan pernah terlewati. Aku dan pekerjaan bagai awan yang menggantung di tengah hamparan cakrawala. Suatu ketika kebersamaan jadikannya air: hujan menyejukan. Suatu ketika pula, bagai sepasang awan hitam yang mampu keluarkan kilat membahayakan saat bersentuhan. Sentuhan yang mampu mematikan orang yang sedang ada di bawah. Entah bawah mana. Entah bawah apa. Suatu Desember kelabu jika memang demikian. Apa boleh buat, Desember. Bulan terakhir di akhir tahun. Bulan yang menggenapi suatu masa selama setahun.

Entah kenapa sampai demikian hebatnya Desember, aku anggap sebagai bulan kemuliaan bahkan ihwal pertobatan. Aneh. Setidaknya, bukankah seharusnya aku sibuk berpikir tentang langkah awal tahun nanti. Sekalipun harus kembali bersusah payah kembali bekerja di awal tahun yang baru. Atau setidaknya lagi berpikir di awal nanti menjadi lebih berpengharapan. Ah, lantas kemarin tidak berpengharapan? Seingatku, sebaliknya. Tapi entahlah, aku tidak tahu. Yang kutahu, sejak Januari hingga Desember adalah bekas luka di tubuhku. Ingatanku. Sebagian orang pernah bilang bahwa ingatan kadang menjengkelkan. Tapi ingatan tinggalah ingatan. Ingatan tidak punya salah, sekalipun mampu menjadikannya luka cukup menahun. Luka yang tidak berarti sakit bagiku, karena kadang ia kerap menyembuhkan. Sudahlah, persetan dengan luka. Paling tidak, bernostalgia dengan ingatan.
Januari sampai Desember, kala itu, sampai kini masih terbaring dalam ingatanku. Aku terpisah dari keluarga, terlebih ayah: kepergian yang selamanya pergi dan tak akan pernah kembali kecuali, sesekali ayah pernah hadir sebagai bunga mimpi. Bunga mimpi; tergambar kehangatan yang masih seperti dulu. Juga ibu, bayangnya selalu di antara langkah maupun separo waktuku. Ibu serupa udara di sekeliling. Sekadar mengingatnya, bagiku detak jam adalah kata-katanya. Rasanya, petanda supaya kulekas pulang saja. Barangkali. Mungkin karena ibu kerap ingatkanku akan waktu: dia tidak pernah bisa di ulang. Kecuali, di ingat. Dan waktu ini pula mengharuskanku sejenak pisah dengannya.
Kemudian kekasih, Sejak saat itulah berkomitmen untuk tetap setia meski terpisah oleh jarak. Ruang dan waktu kian jauh, sekalipun cinta kami terbilang hebat. Tetap jauh. Lagi-lagi, meski orang pernah bilang bahwa jauh mata dekat hati. Entah seberapa hebat kata orang bilang demikian. Entah seberapa dahsyat pula pembuktiannya.
Sejak itu pulalah, kami sama-sama hidup di masing-masing pulau. Pulau yang sungguh unik. Betapa anehnya. Keanehan yang membuat kami punya kesamaan cerita tentang pulau kami yang ternyata tidak berpenghuni. Penghuni manusia. Kecuali, sekawanan binatang. Ya, hanya binatang. Mereka cerdik dan pintar. Berakal cemerlang. Kami menyebutnya: inilah dua pulau seribu satu. Ajaib sepanjang masa. Dan hanya kami yang tahu.
Sejak januari hingga Desember itu pula, kami seperti melakukan hubungan jauh: kata hanya terhubungkan oleh perasaan. Berangkat dari rasa. Semacam firasat yang ingin saling menggugat ketika berlainan ruang. Menggugat takdir. Sementara takdir kadang tak tergugat. Entah kenapa kami berdua mesti jauh. Walau demikian, kami tetap punya kesamaan; bekerja di lain pulau. Pulau unik. Dua pulau seribu satu. Betapa hebatnya.
Sekali lagi, dalam hati yang selalu terkatakan, inilah ingatan terdahsyat. Januari hingga Desember waktu itu terus membayang. Dalam lamunan tanpa terasa hingga petang ini aku terus berpikir: dua pulau seribu satu, aku ingin kembali padamu. Tidakkah kau tahu? Hanya kami yang tahu.
Dalam lamunan. Dalam ingatan. Tanpa terasa lamunanku terputus, tiba saja ibu mendekat. Cukup mengagetkan.
“Apa yang kamu lakukan? Sudah berbulan-bulan sejak awal tahun itu kerjamu cuma melamun,” kata ibu ringan sambil terus berjalan. Hanya itu yang Ibu ucapkan. Ya, singkat saja. Pertanyaan yang hanya terus bertanya seperti itu.
Aku hanya diam. Seperti kian ternikmati oleh ingatan. Sambil menatap ke arah daun jendela yang perlahan terdorong oleh angin utara. Sungguh, betapa aku ternikmati oleh ingatan.
***
Tanpa terasa, hampir dua tahun, aku masih bermain-main dengan ingatan. Dan sudah berkali-kali pula Ibu mengeluarkan banyak pertanyaan. Barangkali kini ia bosan untuk bertanya-tanya lagi. Entahlah. Hanya aku yang tahu. Ya, hanya aku yang tahu: ingin kembali bekerja di pulau itu. Ibu, andai saja kau tahu. Sayangnya, tidak tahu. Rasanya tak perlu kau tahu. Dan orang-orang di sini juga tidak perlu tahu.
Dan, sekali lagi, dalam keseharian yang penuh ingatan hanya ingin aku katakan padamu. Kau pasti tahu. Aku hanya ingin kembali bekerja di pulau itu. Pulau unik. Dua pulau seribu satu. Sangat lain daripada yang lain.
Tapi, kadang dalam ingatan aku berpikir, entah kenapa mereka waktu itu di pulau itu tidak melanjutkan agar aku tetap bekerja. Setidaknya; setahun, dua tahun, atau bahkan tiga tahun lagi mereka mempekerjakan aku lagi. Jika perlu sampai selamanya sampai aku tidak mampu lagi bekerja. Karena, toh sekalipun tiba saatnya aku tak mampu lagi bekerja, mereka cukup lebih lama untuk terus bekerja. Bagaimana tidak, dari segi usia saja mereka jauh lebih panjang. Asal kau tahu, di antara mereka bahkan ada yang mampu hidup sampai usia 250 tahun-an. Betapa hebatnya. Betapa uniknya.
Sekali lagi, hanya aku katakan kepadamu: ingin kembali bekerja di pulau itu. Dua pulau seribu satu. Entah kenapa mereka waktu itu tidak mempekerjakan aku lagi. Hanya setahun. Hanya Januari sampai Desember. Suatu masa yang membatu dalam ingatan.
***
Dalam lamunan. Dalam ingatan. Aku ingin kembali bekerja di pulau itu. Dan sungguh tidak ada angan sedikit pun untuk bekerja selain di pulau itu. Pulau yang telah membekas dalam ingatan. Sekalipun pernah menjadi luka. Luka ingatan. Luka yang menyembuhkan dari pulau unik itu. Dua pulau seribu satu.
Dalam lamunan, terkadang masih kuingat kekasihku: entah bagaimana kabar kamu di sana sekarang. Seperti yang telah aku katakan. Aku dan kekasih hanya terhubungkan oleh rasa. Rasa menjadikannya kata. kata hanya terhubungkan oleh perasaan. Berangkat dari rasa. Semacam firasat yang ingin saling menggugat ketika berlainan ruang. Barangkali.
Karena bagiku jelas sekali, kehidupan di sini sangat berbeda dengan kehidupan di pulau itu. Pulau itu sangat menakjubkan. Kehidupan sungguh ada di mana-mana. Semua kehidupan amat terasa begitu bersahaja. Damai. Waktu itu, awalnya memang cukup menakutkan. Seluruh tubuhku sepertinya hanya terisi oleh kengerian. Seolah ketakutan amat menyatu bersama daging-daging di tubuh. Lama-lama, perlahan-lahan, rasa itu hilang.
Terlebih kehidupan sesama pekerja di sana, sekalipun aku dan lainnya adalah pribadi yang terlahir dari bentuk rupa yang sangat lain daripada yang lain, suasana terasa begitu harmonis. Tidak ada persaingan. Sekalipun ada, semua itu disikapi oleh rasa saling menghargai.
Masing-masing dari kami mempunyai kekhasan dan ciri yang sangat berbeda pula, yaitu bahasa. Terkadang, di antara kami sangat tidak mengerti dari masing-masing bahasa ucap. Jika sudah demikian, kami menggunakan bahasa rasa. Sebuah bahasa dari perasaan yang semacam mengisyaratkan dalam berperilaku dan memperlakukan lawan bicara. Entah siapa pun lawan bicaranya itu.
Terlebih masalah pembagian pendapatan, sungguh terasa begitu jujur dan adil. Tidak ada korupsi, kolusi, nepotisme, kesewenang-wenangan kekuasaan, dan entah apalagi namanya. Betapa hebatnya. Pulau unik. Dua pulau seribu satu: dua pulau antara aku dan kekasih.
Kehidupan di pulau itu, sesama makhluk hidup, juga sangat rukun. Padahal mereka berasal dari asal nenek moyang yang sangat berbeda-beda. Tidak pernah ada perselisihan dalam kehidupan mereka. Betapa hebat dan uniknya. Betapa aku iri.
***
Musim tidak berubah. Dari arah utara masih setia mengembuskan angin. Perlahan menyibak dedaunan di antara pohon. Perlahan pula mendorong daun jendela rumahku. Menjadikannya terbuka. Semilir yang datang perlahan pun membasuh wajahku. Semakin menyejukan ingatanku saja.
Dalam lamunan. Dalam ingatan. Pulau unik. Dua pulau seribu satu. Tidak terasa betapa aku lamunkannya tiap saat dan paruh waktu. Entah telah memasuki tahun keberapa aku kemas dalam ingatan. Ingatan yang setidaknya menyembuhkan semua luka kehidupan di sini.
Dalam kesibukan lamunan dan ingatan, kemudian tiba-tiba saja, setelah sekian lama tidak kembali bertanya, dalam lamunan Ibu kembali mendekatiku. Perlahan. Dari wajahnya terbaca sebuah kegelisahan. Dugaanku. Ternyata benar. Ibu kembali oleh pertanyaan yang sama.
Aku hanya diam. Aku masih melamun. Aku masih ingin bernostalgia dengan ingatanku. Ketimbang memikirkan kehidupan di sini: dunia yang amat terbalik dengan kehidupan pulau itu. Jauh sangat berbeda. Ya, pulau unik. Dua pulau seribu satu. Yang hanya berisi makhluk hidup sekawanan binatang. Aku ingin kembali ke pulau itu. Aku ingin sudahi ingatan ini. Aku di sini iri kepadamu.

Telukbetung, Januari 2008

Sumber: Batam Post, 23 Februari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s