‘oportunisme Pengarang’–

tuan SukabF. Moses
“Manusia adalah tuan dari segalanya berarti ia adalah tuan dari dunia dan kodratnya sendiri; bahwa manusia menentukan segalanya berarti ia memainkan peran menentukan dalam mengubah dunia dan membentuk kodratnya” (JJP, hlm. 21)
Buku ‘Jejak Mata Pyongyang’ seperti strategi Seno Gumira Ajidarma (Seno) bahwa ada hal paling terpenting untuk ditulis. Seno tidak melebarkan soal tentang jejak film-film yang difestivalkan sejak 4 sampai 13 September 2002 di negeri komunis ortodoks itu, tapi tentang kota Pyongyang yang sejak lama mengendap di ingatannya selama 10 tahun—Pyongyang merupakan ibu kota dari Republik Rakyat Demokratik Korea. Istilah ‘halus’ untuk tidak disebutnya sebagai Korea Utara—maka pada 2012 Seno pun menumpahkan segala dipikirkan tentang kota itu. Pada 2015 terbitlah buku ini.
Buku ini berkaver lanskap gedung sebuah stasiun kereta api di pusat kota Pyongyang (Pyongyang Railway Station), pengantar buku ini pun semacam dari sebuah alasan-alasan Seno sendiri, sepuluh esai besertakan foto-foto yang semuanya sengaja dibuat abu-abu untuk diterima sebagai kesan klasik bagi pembacanya, dan sebuah cerpen Melodrama di Negeri Komunis. Bagi Seno, alih-alih foto menjadi ilustrasi cerita. Karena untuk beberapa hal, dari foto tersebut justru mampu menyusun (mungkin juga mencuatkan) kembali ingatannya.
1 Gambar diambil oleh penulis di atas meja kerja menggunakan kamera HP Redmi 3
2Awal kedatangan Seno ke Pyongyang lantaran menggantikan rekannya, Marselli Sumarno2, sebagai juri pengganti pada Festival Film Negara-Negara Non-Blok dan berkembang Lainnya (8th Pyongyang Film Festival of Non-Aligned and Other Developing Countries). Kedatangan yang bisa dibilang penguatan Seno sebagai kritikus film dari buku pernah diterbitkannya berjudul Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, Festival Film Indonesia, 1973-1992 (Yayasan Bentang Budaya, 2000).
**
Keberanian Seno menyorot Pyongyang memang terpicu sejak kematian Kim Jong II3 pada dekade lalu, tapi bagi saya itu merupakan strategi Seno lantaran tidak ingin pengalamannya menjadi sia-sia belaka. Saya menyebutnya sebagai sikap oportunisme Seno yang positif; sikap pemahaman yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu4. Prinsip di sini saya tafsirkan sikap ‘memerdekakan’ diri terhadap dunia literer yang berseberangan dengan tendensi media. Maksud satu di antaranya ialah mereportasekan segala hal senyaman dirinya sendiri atawa ‘sesantai-santainya’—boleh juga dibilang cuek bebek.
Pemicuan setelah kematian Kim Jong II memang terkesan terlambat bagi Seno. Meski penyesalannya tampak terlambat, dalam buku Jejak Mata Pyongyang ini Seno tetap membuat sedemikian masih punya arti—ya, tapi juga tidak dapat dikatakan terlambat sebab ketika masih di Pyongyang Seno berhasil lebih dulu melahirkan cerpen berjudul ‘Melodrama di Negeri Komunis’; sebuah cerita yang sedikit banyak memanfaatkan
2 Seorang penulis, pembuat film—sekaligus pengajar dari dan di Indonesia. beliau kelahiran Solo, 10 Oktober 1956 (nama yang ngetop dekade 1980—1990-an di Industri perfilman Indonesia. sampai hari ini keintelektualannya menyoal film tetap diperfitungkan
3 Disebuit sebagai Jenderal Besar trtinggi di Korea Utara. Meninggal saat usia 69 pada 2011—dalam sebuah “perjalanan dinas”karena kelelahan fisik. Berjasa besar bagi Korut. Konon, rakyat Korea Utara jauh lebih menganggungkan jasanya ketimbang “Sang Hyang” (berbagai sumber saya dengar sekaligus melacak dari dunia daring)
4 Persis saya kutip dari KBBI
3pengalamannya itu. pengalaman yang sedapat mungkin diabadikan melaui kamera SLR manual-nya5. Hingga menghasilkan banyak foto.
Pemuatan banyak foto-foto dalam buku ini juga menuai arti bagi Seno. Selain arti yang merujuk dari artian yang bukan berarti tanpa berisiko, seperti dengan banyaknya foto-foto tersebut membuat ‘analisis susastra’ yang pernah didengarnya menyebut bahwa dengan terpasangnya banyak foto tersebut seperti kekurangpercayaan kepada kata-kata. Dalam hal ini Seno tidak ambil pusing. Seno justru sungguh bersyukur karena telah mengambil gambar sebanyak-banyaknya dan senekat-nekatnya, juga bahkan dalam keadaan dilarang memotret.
Sekali lagi, saya beranggap dalam buku ini Seno sedang menulis dengan ‘santai sesantai-santainya bagai tiada lain selain santai dan pokoknya santai’, tenang, apa adanya, dan jauh dari tendensi media mana pun atawa apa pun. Seno hendak berkabar belaka. Berbagi pengalaman. Semacam usaha mereportase ala jurnalis yang berusaha menjauhi tuntutan ‘redaksional’. Seno hanya sibuk dengan kamera SLR manual Nikon FM-5 dan ‘pikirannya sendiri’. Seno tampak menampilkan sikap oportunismenya dalam ‘mengembarai’ tugas sekaligus profesi itu sendiri ketika mesti mewakili. Kali ini yang kebetulan diundang tapi justru dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Saking ‘santainya’ Seno pun datang lebih awal ke negara tersebut. Diakuinya, lantaran menjadi juri, Seno harus datang sendirian lebih awal, jauh sebelum festival dimulai. Lalu tepat pada 29 Agustus sudah mendarat dengan Garuda di Beijing. Selanjutnya Seno diajak petugas Air Koryo ke sebuah ruangan di bandara. Kata Seno ruangan itu mirip ruangan kantor-kantor TIKI di Jakarta. Setelah diberi boarding pass, tidak lama kemudian berada dalam penerbangan ke Pyongyang.
5 Kala itu Seno sempat bilang karena kala itu belum bersentuhan dengan kamera digital seperti sekarang ini
4Dalam penerbangannya itu Seno sibuk dengan pikirannya sendiri; sempat berpikir ini pesawat apa, tapi Seno menduga ini pesawat buatan Rusia. Pesawat yang terkesan ‘gemuk’, berbaling-baling, tampak tanpa pramugari, dan berkesan kurang penerangan. Sejauh ingatannya, ada minuman yang dibagikan oleh seorang pria. Tanpa kereta dorong. Hanya air mineral. Seingatnya pun penumpang pesawat itu hanya sedikit.
Seno menganggap catatan dalam bukunya ini merupakan sketsa belaka. Seperti hal pertama paling berkesan justru pada hotel tempatnya menginap di lantai 42, yakni hotel Yangakdo yang terletak di tengah delta sungai Taedong yang disebut pulau Yanggak, sensasi pertamanya lantaran terdapat restoran tidak bernama, tetapi bernomor, yakni Restoran No. 1 dan Restoran No. 2.
Dalam kesempatan itu, Seno dipersilakan makan di Restoran No. 2. Dipersilakan dalam konteks itu berarti diminta untuk duduk dan menunggu. Tidak ada menu dan tidak ada buffet. Kalau pun ada pelayan, kala itu, perempuan yang melayani hanya tersenyum. Tidak mengucapkan apapun. Lantas meletakkan sepasang sumpit. Itulah pengalaman awal yang baginya suatu keajaiban.
Kemudian Seno menggelisahkan kamar yang diinapinya itu. Baginya selama 18 malam memiliki kesan tersendiri. Kesan kesendirian Seno di lantai 42 bahwa dirinya benar-benar sendirian tanpa seorang pun. Hal itu teranggap lantaran tidak pernah ada suara lain di lantai itu. Juga tidak pernah terlihat ada pelayan. Setiap kali ada terdengar, itu pun adalah langkahnya sendiri.
Dalam deskripsi tentang kamar itu disebutnya bahwa kamar itu cukup luas—ada ruang tamu, ruang tengah, lalu barulah tempat tidur lumayan besar—cukuplah bagi Seno untuk memasukkan dua puluh lima orang teman ke dalam, itu pun masih tetap berasa luas. ☺
**
5
Dalam Jejak Mata Pyongyang ini, sekali lagi, justru keragaman‘keunikan dilaluinya’ dengan cermat penuh catatan. Seno memberikan batasan fokus pengalaman sebagai pengarang, wartawan, dan dosen. Saya kira itulah catatan tersndiri. Catatan atas pengalaman Seno yang sempat pula ‘Ditempel Intel Mehong’. Sosok intel yang selalu serba ingin tahu. Ya, intel mehong; sosok yang diam-diam mengamati pergerakan Seno—tentunya peralatan fotografinya itu. Bahkan sampai kamar tempatnya menginap dicurigai dimasuki pula kala Seno sedang keluar.
Selain diamati (pengamatan Seno) sekaligus ditempel intel mehong, Seno mengamati soal ‘baik lelaki atau perempuan, busana atasannya hampir selalu putih dan berlengan pendek’, ribetnya memotret di Pyongyang, kehidupan modernitas serba kelabu lantaran lengang sekaligus serba seragam pula, toleransi umat tidak beragama, hingga persoalan busana kaum formal dan kaum proletar—Seno memotret sebagai wartawan yang berusaha mengungkap ketertutupan.
Tidak luput dari perhatian Seno yakni persoalan bahwa—meski dirinya sudah menuliskan persoalan dengan lugu—ketidakmampuannya mengandaikan dengan begitu saja tentang rakyat di belahan utara Semenanjung Korea yang tertindas dan memang ditindas oleh pemerintah negerinya sendiri. Maka hal paling mencekam bagi mental masyarakat korea Utara bahwa “rakyat taat dan takluk terhadap ideologi negara”.
**
Perjalanan senantiasa menginspirasikan. Setiap panorama atau pun lelaku sosial di dalamnya dapat menjadi sumber bertenaga bila proporsional cara menyajikannya. Dalam hal ini saya melihat Seno melakukan sikap oportunisme dalam kesenyampangan tatkala ia dapat umpan lambung oleh temannya itu—ia paham betul bahwa selain teks
6
yang tentu saja mampu memberi ruang bagi pemaknaan, terlebih gambar mampu bertindak ‘lebih jauh’ bagi pembacanya.
Terpentingnya lagi, sebuah pengembaraan Seno yang secara terselubung ingin membandingkan kehidupan setiap kota. Supaya pembaca sekurangnya mensyukuri; lebih baik kehidupan di Indonesia yang beribu kota Jakarta ketimbang Pyongyang. Mungkin—sebab betapa mengerikan hidup dalam perintah atawa aturan negara yang sedemikian sangar. Salah sedikit bisa tanpa ampun. Salah ucap di mana negara menjadi terancam pun ‘keselamatan bisa fakir’.
Sekian.Terima kasih ☺
Iklan

Meneroka Cerpen dan Puisi Penulis Singapura

sg2oleh F Moses

Sungguh, bagi saya merupakan tantangan tatkala membaca kedalaman bagi puisi dan cerpen para penulis Singapura. Namun, mengingat sifat sastra yang selalu terbuka bagi penafsiran, saya memutuskan tafsiran atau keputusan tersendiri. Maka, sehubung sastra senantiasa membuka diri bagi sebuah kemungkinan penafsiran, secara pribadi saya mencoba bersensasi menelusuri ‘pergerakan bagi estetika’ dalam sastra. Menelusupkan jiwa ini ke relung sanubari terhadap masing-masing proses kreatif yang saya baca. Bukankah justru dengan cara seperti itu saya dapat memaknai keindahan yang sedang bekerja dari masing-masing penulis?

Saat saya mengamati ‘dunia sastra’ di Singapura tengah melaju kuat—terlebih antologi para penulis dalam situasi hari kemerdekaan bagi Singapura yang menurut saya justru membuat karya sastra semakin mengalir deras—saya berpendapat itu tepat untuk mengatakan bahwa Singapura tak akan pernah dapat disebut ‘krisis kesusastraan’. Lantas, bagaimana dengan ‘ukurannya’? serta persoalan kedalaman dalam kesusastraan bagi Singapura. Saya beranggap, persoalan ‘ukuran’ bagi kesusastraan di Singapura, dalam hal ini menyorot pada proses kreatif sastrawan dalam periode-periode tertentu; bermula dari angkatan 1950-an (hingga 1965 sebagai periode momentum) juga awal 2000-an, mempunyai daya matang sangat baik—bahwa penulis hari ini masih mampu berkonsisten dalam merajut perkembangan sebuah estetika. Tentu saja kematangan pencarian bagi jati diri cita rasa cerpen dan puisi yang semakin bertenaga sekaligus berenergi untuk senantiasa bersinergi dengan persoalan bangsa.

Ketika saya meneroka laju perpuisian Singapura kali ini, tampak perpuisian sungguh ditentukan oleh aneka prinsip dalam kesatuan yang bersifat multidimensi. Dalam puisi-puisi pendek sekalipun, tampak keanekaan dileburkan untuk menyelamatkan kesatuan; sementara pada puisi-puisi yang panjang, puisi tersebut berusaha sekuat tenaga mencapai kesempurnaannya sebagai puisi tanpa menyerah atau merusak kesatuan. Maka saya sepakat, bila boleh dikatakan demikian, bahwa berhadapan dengan puisi panjang bukan hanya keberhasilan dalam menemukan perpanjangan  mahupun perluasan yang sebenarnya merupakan suatu dimensi yang berkemungkinan, melainkan sebuah keanekaragaman yang berhasil melampaui batas maksimal. Begitulah kurang lebih laju dari sebuah perpuisian.

Kemudian, ketika saya meneroka laju cerpen kali ini, sebuah cerita diberi kebebasan bagi para tokoh rekaan yang diciptakan untuk berkelindan sebebas-bebasnya. Maksudnya, pelbagai dimensi membentuk keutuhan mahupun kesatuannya tersendiri dalam menafsir setiap realitas ke sebuah fiksi. Seperti tak ubahnya imaji yang juga sama dengan kreativitas puisi; cerpen juga dimensi sarat kemungkinan bagi sebuah keragaman yang berpotensi melampaui batas maksimal. Sekiranya demikianlah laju sebuah cerpen. Perlajuan yang dikemudikan para penulis dari keragaman masing-masing lingkungan serta latar belakang  dengan kekuatan kerangka berpikir menuju “garis finish” bernama katarsis.

Lanjutkan membaca “Meneroka Cerpen dan Puisi Penulis Singapura”

Pertaruhan Bahasa Indonesia dalam Puisi

buku latihan tidur jokpin

Pembaca budiman, berikut saya tulis resensi buku karya Joko Pinurbo–awalnya saya menulis esai setelah membaca buku ini, namun esai taklah cukup, makanya saya coba meresensi–dan diperkenankan oleh satu media cetak. Memang, barangkali kerap tak cukup bagi kontemplasi dari buku sastra yang tak hanya sekadar diesaikan atawa resensi, tapi juga untuk diteliti pada suatu hari.

 

 

 

 

Oleh F. Moses

Judul                  :  Buku Latihan Tidur

Penulis             :  Joko Pinurbo

Penerbit           :  Gramedia Pustaka Utama

Tebal               :   68 halaman

Cetakan           :   Cetakan I, 2017

Harga              :   63.000.000,-

Rosihan Anwar, dalam Majalah Siasat, 9 Januari 1949, dengan tersirat menyebut Chairil Anwar sebagai pelopor kebaruan tata bahasa dalam puisi. Hal tersebut ditandai dengan keefektifannya menggunakan bahasa Indonesia menjadi ekspresif. Tidak seperti zaman sebelumnya yang terlalu ‘meliuk-liuk’.

Dalam puisi, keefektifan tata bahasa dapat dikatakan sebagai sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Dua pilihan itu, bentuk dan pilihan katanya, tetap dari perbendaharaan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang mesti dimaksimalkan ketepatannya. Sebuah pertimbangan yang akan menanggung berhasil atau tidaknya puisi.

Bahasa Indonesia, dalam konteks tersebut, mempertaruhkan perkembangan jumlah setiap lema, seperti pada satu kata bermakna ganda, atau satu makna menimbulkan banyak peristilahan, bahkan ketika dua kata  memiliki dua ujaran yang salah satu unsur hurufnya berbeda, demi bermain bunyi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, di antaranya. Dalam puisi, bahasa Indonesia adalah pertaruhan keberhasilan dalam mengonkretkan keabstrakan puisi. Bergantung kreativitas penulis.

Apalah arti puisi bila tidak ada kedisiplinan gramatikal. Apalah makna puisi bila keluar dari logika daya pikir dan berujung pada nonsens berkepanjangan dalam bait-bait sebagai akibatnya.

Kesembronoan itu menanggung risiko membiarkan puisi jatuh ke jurang tanpa daya. Itu sama runyamnya dengan membiarkan pembaca menjadi kian tersesat dalam medan bahasa yang tengah diperebutkannya.

Membaca buku puisi JokoPinurbo (Jokpin), kita disuguhkan perbendaharaan kata-kata dalam kamus besar kita. Dia seperti semakin membebaskan kata-kata menjadi bentuk yang ‘paling main-main’ sekalipun. Permainan kata ditunjukkan menjadi tata bahasa yang lebih dari sekadar bunyi, dan mempertaruhkan makna. Ia menunjukkan ‘kamus bahasa yang kecil’ jauh lebih berbahaya ketimbang ‘kamus yang besar’ bila diberdayakan sekuat penalaran. Ini adalah provokasi penyair yang tidak untuk dijawab.

Ada 68 puisi dalam buku kumpulan ini.  Puisi-puisinya terasa begitu ‘mengganggu’: main-main dengan kamus, suara hati tentang Yogyakarta, pertanyaan tentang keimanan, bahkan jurus jitu berlatih tidur sekalipun. Keseriusan setiap kata atau frasa dalam kamus besar dirasa lebih ringan dan jenaka di tangan Jokpin. Ini semacam pernyataan bahwa bahasa Indonesia adalah cara komunikasi paling efektif untuk dipahami.

Persoalan bahasa Indonesia sebagai persatuan dari keragaman keterserapan ribuan kata diringkas jadi sarat jenaka, penuh bunyi, dan didaktis.

Saya dibesarkan oleh Bahasa Indonesia// yang pintar dan lucu walau kadang rumit// dan membingungkan. Ia mengajari saya// cara mengarang ilmu sehingga saya tahu//bahwa sumber segala kisah adalah kasih;//bahwa ingin berawal dari angan;//bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;//bahwa segala yang baik akan berbiak;//bahwa orang ramah tidak mudah marah;//bahwa seorang bintang harus tahan banting/ (hal. 4).

Tafsiran lain berpotensi tercipta dari permainan bunyi kata yang biasa dijumpai, bentuk penjelasan sederhana, dan kemudahan untuk dimengerti sekaligus diimajikan. Terlebih lagi, puisi bukan pada persoalan makna paling dituju, melainkan kejelian melihat peluang bagi kata-kata agar tetap dapat dinikmati dan tidak pelik dinalar.

Kegelisahan yang berjajar pada deretan kata paling berpeluang menimbulkan bunyi. Jokpin sengaja mencari, melacak, dan menyusun kembali kata-kata yang sudah ‘terbebani’ menjadi satuan kekuatan kejenakaan. Ini berpotensi melahirkan paradoks bagi makna sebenarnya, dan, tentu saja, kata kian berbunyi dibuatnya.

Jokpin menunjukkan paradoks pada “Gantungkan cita-citamu setinggi gunung”//Gantungkan terbangmu pada sayap-sayap burung//Rajing pangkal pandai.//Jatuh pangkal bangun.//Anak kucing lari-lari.//Anak hujan mencari kopi.//Hujan menghasilkan banjir.//Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.// (hal. 6).

Ada imaji yang kontradiktif bagi peribahasa dalam kehidupan. Kita diajak untuk memaksimalkan imajinasi dengan santun—menerima bentuk serentetan pemiuhan kalimat khas Jokpin.

Membaca puisi-puisi Jokpin semacam menjumpai kenaifan kehidupan. Setiap kalimat, pada umumnya, kerap kali ia kembalikan dengan membenturkan kebaruan melalui tata bahasa yang imajinatif, reflektif, dan kontemplatif. Jokpin tidak sekadar memberi ketegasan pesan terpendam, kejelasan maksud puisi, dan kekritisan menghadapi persoalan lingkungan, tapi juga keindahan bunyi dari narasi proses pemikiran dengan logis.

Puisi menggamit segala persoalan kehidupan, mulai dari yang paling serius hingga remeh.Tantangan penyair tinggal bagaimana menarasikan perihal persoalan tersebut. Hal sama dicetuskan John Keats bahwa puisi adalah suatu usaha membaca indah dari membayangkan suatu narasi proses pemikiran atau logika—dia tidak menyiratkan sebuah puisi yang tidak masuk akal atau tidak memiliki narasi.

Puisi tidak sekadar rentetan kalimat asal bunyi. Lebih dari itu, persoalan makna gramatikal dan kekontekstualan patut diperhitungkan karena penyair terbaik mustahil menulis dari kekosongan permasalahan sosial. Peacock menengarai bahwa puisi memiliki ‘ukuran kolam yang dapat menghadirkan kedalaman lautan seakan ia menyelam dan berada di laut dalam’.

Lanjutkan membaca “Pertaruhan Bahasa Indonesia dalam Puisi”

Bahasa dalam Puisi

F. Moses

Majalah Siasat, 9 Januari 1949, Rosihan Anwar menyiratkan Chairil  Anwar sebagai pelopor dengan membebaskan ikatan bahasa dan bentuk tradisional, maka puisi seperti ambil bagian menjadikan bahasa sebagai alat ujar yang tidak konvensional di wilayahnya. Seperti Sutardji Calzoum Bachri pernah dengan kredonya itu; ‘membebaskan kata-kata dari makna’.

Bahasa dalam puisi merupakan sosok pengemban dua pilihan bagi kebebasan kata-kata tersebut; menjadi sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Meski kedua pilihan itu tetap saja sama-sama berprofesi sebagai bagian dari ‘rumah tangga kata’ yang kerap dimaksimalkan ‘kedalamannya’ oleh siapa pun penulis—tentu saja atas asas pertimbangan bentuk dan pilihan kata—dengan atau tanpa risiko; menanggung keberhasilan atau justru sebaliknya. Atau bisa saja menimbulkan cara terbaru dalam olah rasa bagi gagasan model berbahasa ditawarkan.

Bahasa Indonesia, dalam konteks puisi, bertaruh perkembangannya. Ia menjadi bentuk dan pilihan kata yang akan selalu dimaksimalkan penggunaannya atau ‘boleh diabaikan’ ketika terjadi pergumulan satu kata menjadi banyak arti. Atau satu arti berpotensi banyak kata. Bahkan ketika kata bermain pada konteks ‘pasangan minimal’—istilah fonologi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, dan seterusnya. Bahasa Indonesia juga dipertaruhkan keberhasilannya terhadap pengonkretan hal-hal yang abstrak. Lanjutkan membaca “Bahasa dalam Puisi”

Aforisme Sastra

F. Moses

Puisi “mengakurasikan ruang bagi ukuran irama di dalamnya”, maka ia laiknya bunyi dari bahasa keseharian manusia “penuh perhitungan”. Tata bahasa dari keragaman kata-kata yang sudah disterilkan dari perlakuan bunyi-bunyi tidak penting. Penuh pemikiran pelbagai isyarat segala tendensi. Barangkali juga ruang harapan segala renik dimaksudnya. Aforisme—bergerak tepat bagi wilayah pemaknaan penikmatnya. Lantas, demikiankah aforisme berpotensi menjadi kesatuan arti yang bulat sekaligus utuh?

Sastra sebagai medium terpenting yang menggunakan sekaligus memberdayakan bahasa, pada akhirnya ialah karya sastra, aforisme menjadi kehadiran persebaran (mungkin juga peleburan) tersendiri berpenuh potensi. Namun ia bisa juga bukan apa-apa, bila kekuatan makna tak menyerap di dalamnya.

Aforisme, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani ‘aphorismos’ dari ‘apo’ dan horizein; suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima secara umum. Kemudian berujung pada satu penegasan bahwa aforisme harus berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat, seperti dalam karya Hippocrates yang merupakan etimologi kata aforisme: “Jalan yang sudah licin karena ditapaki adalah jalan yang sudah aman”.

Dalam KBBI, aforisme lebih kurang dimaknakan sebagai pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum—seperti peribahasa. Sekali lagi, lantas seberapa tangguhkah sekumpulan kalimat dapat dibenarkan kesahihannya menjadi sebuah aforisme? Di sini peran pembaca berperan penting bagaimana ia mengoptimalkan seluruh daya interpretasinya, saya pikir.

Menyoal kedalaman pengertian dari aforisme tidak saya runcingkan lebih lanjut. Maksudnya, barangkali, karena keterlanjuran banyak pengertian dari arti tersebut—seperti halnya adagium juga bersinonim dengan aforisme. Hanya saja, secara umum untuk ditukar-pikirkan saja menyoal aforisme. Artinya lagi, bahwa aforisme (kalau boleh dikatakan) ialah sebarisan beberapa kata yang berpotensi menjadi heroik dalam sebuah karya sastra; prosa maupun puisi. Lanjutkan membaca “Aforisme Sastra”

Puisi di Sulawesi Tenggara

Pembaca budiman, berikut beberapa catatan. Apakah puisi ataukah sajak — tentu saja tanpa tendensi.  Kecuali “etika kontemplatif” , maksudnya lebih kurang dengan sadar penghargaan bagi sebuah imajinasi ialah kelahiran beberapa catatan. Syukur dapat bertukar getar. salam sastraholic

F. Moses

Permintaan Kesaksian

Lanjutkan membaca “Puisi di Sulawesi Tenggara”