ANTOLOGI PUISI PROGRAM PENULISAN PUISI–‘SETERIKA KABUT’

buku seterika kabut editor moses

Iklan

Pertaruhan Bahasa Indonesia dalam Puisi

buku latihan tidur jokpin

Pembaca budiman, berikut saya tulis resensi buku karya Joko Pinurbo–awalnya saya menulis esai setelah membaca buku ini, namun esai taklah cukup, makanya saya coba meresensi–dan diperkenankan oleh satu media cetak. Memang, barangkali kerap tak cukup bagi kontemplasi dari buku sastra yang tak hanya sekadar diesaikan atawa resensi, tapi juga untuk diteliti pada suatu hari.

 

 

 

 

Oleh F. Moses

Judul                  :  Buku Latihan Tidur

Penulis             :  Joko Pinurbo

Penerbit           :  Gramedia Pustaka Utama

Tebal               :   68 halaman

Cetakan           :   Cetakan I, 2017

Harga              :   63.000.000,-

Rosihan Anwar, dalam Majalah Siasat, 9 Januari 1949, dengan tersirat menyebut Chairil Anwar sebagai pelopor kebaruan tata bahasa dalam puisi. Hal tersebut ditandai dengan keefektifannya menggunakan bahasa Indonesia menjadi ekspresif. Tidak seperti zaman sebelumnya yang terlalu ‘meliuk-liuk’.

Dalam puisi, keefektifan tata bahasa dapat dikatakan sebagai sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Dua pilihan itu, bentuk dan pilihan katanya, tetap dari perbendaharaan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) yang mesti dimaksimalkan ketepatannya. Sebuah pertimbangan yang akan menanggung berhasil atau tidaknya puisi.

Bahasa Indonesia, dalam konteks tersebut, mempertaruhkan perkembangan jumlah setiap lema, seperti pada satu kata bermakna ganda, atau satu makna menimbulkan banyak peristilahan, bahkan ketika dua kata  memiliki dua ujaran yang salah satu unsur hurufnya berbeda, demi bermain bunyi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, di antaranya. Dalam puisi, bahasa Indonesia adalah pertaruhan keberhasilan dalam mengonkretkan keabstrakan puisi. Bergantung kreativitas penulis.

Apalah arti puisi bila tidak ada kedisiplinan gramatikal. Apalah makna puisi bila keluar dari logika daya pikir dan berujung pada nonsens berkepanjangan dalam bait-bait sebagai akibatnya.

Kesembronoan itu menanggung risiko membiarkan puisi jatuh ke jurang tanpa daya. Itu sama runyamnya dengan membiarkan pembaca menjadi kian tersesat dalam medan bahasa yang tengah diperebutkannya.

Membaca buku puisi JokoPinurbo (Jokpin), kita disuguhkan perbendaharaan kata-kata dalam kamus besar kita. Dia seperti semakin membebaskan kata-kata menjadi bentuk yang ‘paling main-main’ sekalipun. Permainan kata ditunjukkan menjadi tata bahasa yang lebih dari sekadar bunyi, dan mempertaruhkan makna. Ia menunjukkan ‘kamus bahasa yang kecil’ jauh lebih berbahaya ketimbang ‘kamus yang besar’ bila diberdayakan sekuat penalaran. Ini adalah provokasi penyair yang tidak untuk dijawab.

Ada 68 puisi dalam buku kumpulan ini.  Puisi-puisinya terasa begitu ‘mengganggu’: main-main dengan kamus, suara hati tentang Yogyakarta, pertanyaan tentang keimanan, bahkan jurus jitu berlatih tidur sekalipun. Keseriusan setiap kata atau frasa dalam kamus besar dirasa lebih ringan dan jenaka di tangan Jokpin. Ini semacam pernyataan bahwa bahasa Indonesia adalah cara komunikasi paling efektif untuk dipahami.

Persoalan bahasa Indonesia sebagai persatuan dari keragaman keterserapan ribuan kata diringkas jadi sarat jenaka, penuh bunyi, dan didaktis.

Saya dibesarkan oleh Bahasa Indonesia// yang pintar dan lucu walau kadang rumit// dan membingungkan. Ia mengajari saya// cara mengarang ilmu sehingga saya tahu//bahwa sumber segala kisah adalah kasih;//bahwa ingin berawal dari angan;//bahwa ibu tak pernah kehilangan iba;//bahwa segala yang baik akan berbiak;//bahwa orang ramah tidak mudah marah;//bahwa seorang bintang harus tahan banting/ (hal. 4).

Tafsiran lain berpotensi tercipta dari permainan bunyi kata yang biasa dijumpai, bentuk penjelasan sederhana, dan kemudahan untuk dimengerti sekaligus diimajikan. Terlebih lagi, puisi bukan pada persoalan makna paling dituju, melainkan kejelian melihat peluang bagi kata-kata agar tetap dapat dinikmati dan tidak pelik dinalar.

Kegelisahan yang berjajar pada deretan kata paling berpeluang menimbulkan bunyi. Jokpin sengaja mencari, melacak, dan menyusun kembali kata-kata yang sudah ‘terbebani’ menjadi satuan kekuatan kejenakaan. Ini berpotensi melahirkan paradoks bagi makna sebenarnya, dan, tentu saja, kata kian berbunyi dibuatnya.

Jokpin menunjukkan paradoks pada “Gantungkan cita-citamu setinggi gunung”//Gantungkan terbangmu pada sayap-sayap burung//Rajing pangkal pandai.//Jatuh pangkal bangun.//Anak kucing lari-lari.//Anak hujan mencari kopi.//Hujan menghasilkan banjir.//Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.// (hal. 6).

Ada imaji yang kontradiktif bagi peribahasa dalam kehidupan. Kita diajak untuk memaksimalkan imajinasi dengan santun—menerima bentuk serentetan pemiuhan kalimat khas Jokpin.

Membaca puisi-puisi Jokpin semacam menjumpai kenaifan kehidupan. Setiap kalimat, pada umumnya, kerap kali ia kembalikan dengan membenturkan kebaruan melalui tata bahasa yang imajinatif, reflektif, dan kontemplatif. Jokpin tidak sekadar memberi ketegasan pesan terpendam, kejelasan maksud puisi, dan kekritisan menghadapi persoalan lingkungan, tapi juga keindahan bunyi dari narasi proses pemikiran dengan logis.

Puisi menggamit segala persoalan kehidupan, mulai dari yang paling serius hingga remeh.Tantangan penyair tinggal bagaimana menarasikan perihal persoalan tersebut. Hal sama dicetuskan John Keats bahwa puisi adalah suatu usaha membaca indah dari membayangkan suatu narasi proses pemikiran atau logika—dia tidak menyiratkan sebuah puisi yang tidak masuk akal atau tidak memiliki narasi.

Puisi tidak sekadar rentetan kalimat asal bunyi. Lebih dari itu, persoalan makna gramatikal dan kekontekstualan patut diperhitungkan karena penyair terbaik mustahil menulis dari kekosongan permasalahan sosial. Peacock menengarai bahwa puisi memiliki ‘ukuran kolam yang dapat menghadirkan kedalaman lautan seakan ia menyelam dan berada di laut dalam’.

Lanjutkan membaca “Pertaruhan Bahasa Indonesia dalam Puisi”

Bahasa dalam Puisi

F. Moses

Majalah Siasat, 9 Januari 1949, Rosihan Anwar menyiratkan Chairil  Anwar sebagai pelopor dengan membebaskan ikatan bahasa dan bentuk tradisional, maka puisi seperti ambil bagian menjadikan bahasa sebagai alat ujar yang tidak konvensional di wilayahnya. Seperti Sutardji Calzoum Bachri pernah dengan kredonya itu; ‘membebaskan kata-kata dari makna’.

Bahasa dalam puisi merupakan sosok pengemban dua pilihan bagi kebebasan kata-kata tersebut; menjadi sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Meski kedua pilihan itu tetap saja sama-sama berprofesi sebagai bagian dari ‘rumah tangga kata’ yang kerap dimaksimalkan ‘kedalamannya’ oleh siapa pun penulis—tentu saja atas asas pertimbangan bentuk dan pilihan kata—dengan atau tanpa risiko; menanggung keberhasilan atau justru sebaliknya. Atau bisa saja menimbulkan cara terbaru dalam olah rasa bagi gagasan model berbahasa ditawarkan.

Bahasa Indonesia, dalam konteks puisi, bertaruh perkembangannya. Ia menjadi bentuk dan pilihan kata yang akan selalu dimaksimalkan penggunaannya atau ‘boleh diabaikan’ ketika terjadi pergumulan satu kata menjadi banyak arti. Atau satu arti berpotensi banyak kata. Bahkan ketika kata bermain pada konteks ‘pasangan minimal’—istilah fonologi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, dan seterusnya. Bahasa Indonesia juga dipertaruhkan keberhasilannya terhadap pengonkretan hal-hal yang abstrak. Lanjutkan membaca “Bahasa dalam Puisi”

Aforisme Sastra

F. Moses

Puisi “mengakurasikan ruang bagi ukuran irama di dalamnya”, maka ia laiknya bunyi dari bahasa keseharian manusia “penuh perhitungan”. Tata bahasa dari keragaman kata-kata yang sudah disterilkan dari perlakuan bunyi-bunyi tidak penting. Penuh pemikiran pelbagai isyarat segala tendensi. Barangkali juga ruang harapan segala renik dimaksudnya. Aforisme—bergerak tepat bagi wilayah pemaknaan penikmatnya. Lantas, demikiankah aforisme berpotensi menjadi kesatuan arti yang bulat sekaligus utuh?

Sastra sebagai medium terpenting yang menggunakan sekaligus memberdayakan bahasa, pada akhirnya ialah karya sastra, aforisme menjadi kehadiran persebaran (mungkin juga peleburan) tersendiri berpenuh potensi. Namun ia bisa juga bukan apa-apa, bila kekuatan makna tak menyerap di dalamnya.

Aforisme, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani ‘aphorismos’ dari ‘apo’ dan horizein; suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima secara umum. Kemudian berujung pada satu penegasan bahwa aforisme harus berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat, seperti dalam karya Hippocrates yang merupakan etimologi kata aforisme: “Jalan yang sudah licin karena ditapaki adalah jalan yang sudah aman”.

Dalam KBBI, aforisme lebih kurang dimaknakan sebagai pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum—seperti peribahasa. Sekali lagi, lantas seberapa tangguhkah sekumpulan kalimat dapat dibenarkan kesahihannya menjadi sebuah aforisme? Di sini peran pembaca berperan penting bagaimana ia mengoptimalkan seluruh daya interpretasinya, saya pikir.

Menyoal kedalaman pengertian dari aforisme tidak saya runcingkan lebih lanjut. Maksudnya, barangkali, karena keterlanjuran banyak pengertian dari arti tersebut—seperti halnya adagium juga bersinonim dengan aforisme. Hanya saja, secara umum untuk ditukar-pikirkan saja menyoal aforisme. Artinya lagi, bahwa aforisme (kalau boleh dikatakan) ialah sebarisan beberapa kata yang berpotensi menjadi heroik dalam sebuah karya sastra; prosa maupun puisi. Lanjutkan membaca “Aforisme Sastra”

Puisi di Sulawesi Tenggara

Pembaca budiman, berikut beberapa catatan. Apakah puisi ataukah sajak — tentu saja tanpa tendensi.  Kecuali “etika kontemplatif” , maksudnya lebih kurang dengan sadar penghargaan bagi sebuah imajinasi ialah kelahiran beberapa catatan. Syukur dapat bertukar getar. salam sastraholic

F. Moses

Permintaan Kesaksian

Lanjutkan membaca “Puisi di Sulawesi Tenggara”

Jurus Novel Seno Gumira Ajidarma

Oleh F. Moses

fb_img_1488789051098Pada Agustus (2016), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menaja program bertajuk MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara): Penulisan Novel. MASTERA yang beranggotakan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, ini sudah memulai program sejak 1997. Tak hanya novel, tahun-tahun sebelumnya pernah puisi, esai, dan drama. Keempat bentuk proses kreatif tersebut berputar setiap tahunnya. Pada 2016 giliran novel—selain kehadiran beberapa peserta dari negara tetangga, tentu saja dari Indonesia.

Sepanjang pelatihan penulisan novel, paling menjadi catatan ialah tatkala ceramah oleh Seno Gumira Ajidarma (Seno). Bukan sekadar bagaimana membikin novel, melainkan cara baru menyoal interpretasi dan berstrategi dalam pembuatannya—hal yang tak perlu dipikir sulit tapi juga bukan hal ringan. Tentu saja berujung menyoal proses kreatif menurut Seno.

Seno, dalam ceramahnya memang tak mendeskripsikan pengertian novel secara akademis sebagaimana ilmu susastra dengan segenap “kewajiban penjelasannya”, tapi ia justru membebaskan diri dari kewajiban semacam itu. Hanya kesungguhannya yang tampak: berbagi pengalaman dalam menuliskan novel, roman, atau apapun namanya.

“Pokoknya cerita yang lebih panjang dari cerpen. Jadi, ya, cerita panjang,” imbuhnya.

Dalam sesi tersebut tak hanya Seno, sastrawan seperti Triyanto Triwikromo, dalam kesempatannya mendampingi para peserta sepanjang pelatihan penulisan novel sebelum sesi ceramah dimulai,  juga berkali menegaskan para peserta supaya memunyai “ketertiban” menyangkut persoalan novel, di antaranya terpenting menyoal bahasa.

“Banyak  penulis novel di Indonesia, tapi yang ‘tertib semantik dan sintaksis’, nanti dulu,” tegas Triyanto.

**

Ceramah Seno  menyoal penulisan novel berlangsung hampir empat jam, selama kurun waktu itu ia membeberkan kembali tentang pengalaman—yang menurut saya—enak dan penting untuk disimak. Seperti pada penegasan Seno ketika sebuah cerita menjadi panjang karena benturan kebutuhan yang berbeda dari kebutuhan dalam melahirkan cerita pendek—sebagaimana kita tahu kapasitas Seno menulis tak hanya berbatas pada cerpen, tapi juga novel maupun esai.

“Seperti pengalaman saya dengan cerita panjang  saya yang pertama, ‘roman metropolitan’ Jazz, Parfum, dan Insiden (1996), yang terbentuk bukan dari kehendak dan tujuan ‘menulis roman’, melainkan—yang kemudian sering disebut sebagai—‘membocorkan’ fakta mengenai penindasan di Timor Timur, ketika media massa semasa Orde Baru tak mungkin memuatnya tanpa suatu risiko tertentu,” beber Seno.

Seno dengan berbagai cara memang telah mengungkapkan kembali fakta-fakta Timor Timur dalam bentuk cerpen, tetapi kebutuhan untuk menyampaikannya secara lebih tuntas membuatnya mengungkapkan dengan bentuk cerita yang lebih panjang. Seno mengakui, bahwa cerita itu harus lebih panjang, bukan sekadar ketuntasan fakta itu secara kuantitatif memang ‘banyak’, melainkan juga karena dalam situasi saat itu justru menjadikan cara penuntasan yang mesti disamarkan.

Secara langsung Seno hendak berstrategi menyiasati kebutuhan cerita menjadi panjang “menjadi ruang novel” dalam ceramah tersebut. Sebuah kebelakaan manakala cerita pendek menjadi panjang karena kebutuhan yang memang perlu dan pantas.

“Memang paradoksal. Ketika di satu pihak saya berniat ‘membuka’, saya hanya melakukannya dengan cara ‘menutupi’”, tambah Seno. Usaha penyamaran itulah yang membuatnya tambah panjang ceritanya, karena bagian-bagian “pembocoran” alias bab-bab insiden itu sendiri (seperti pada Laporan Insiden 1, 2, dan seterusnya).

Seno juga mengakui cerita panjangnya yang kedua, seperti Kitab Omong Kosong, semula berjudul Rama-Sinta: Pertempuran Cinta, mendapatkan bentuknya karena “pergulatan dengan hidup” itu juga. Inti dari Kitab Omong Kosong lantaran terbentuk dari kebutuhan berbeda-beda yang tak sepenuhnya by design (demikian Seno membahasakan) atau telah direncanakan, sehingga mencapai bentuk seperti yang bisa dibaca. Bahkan karya cetak ulangnya terpaksa menjadi Edisi Kedua pula, karena Seno menyertakan sedikit tambahan cerita yang dilupakannya pada edisi pertama.

Pengakuan Seno atas cerita Kitab Omong Kosong secara langsung merupakan pengalaman konkret dan pergulatan dengan hidup berperan langsung kepada suatu bentuk cerita panjang. Mengingat apa yang sudah tertulis, maka sekali lagi kita mendapati kata kunci komposisi; dalam hal ini komposisi berbagai macam alur dari dalam.

Persoalan novel paling menarik berikutnya pada Biola Tak Berdawai. Novel karya Seno tersebut diakuinya memang merupakan proyek kerja sama “novelisasi”, dengan sumber skenario maupun film tersebut melalui DVD. Setelah Seno baca skenario dan menonton film karya Sekar Ayu  Asmara tersebut, Seno perkirakan bahwa dengan segala kesetiannya kepada keduanya, jika hanya berpegang pada alur, Seno hanya akan mampu menulis cerita sepanjang tiga puluh halaman saja.

Maka untuk membuatnya lebih panjang, Seno menggunakan lagi “jurus komposisi”, yakni menggunakan lebih dari satu alur untuk bercerita; pertama pada alur sudut pandang Dewa, yang dalam film tak pernah berbicara sama sekali, sebagai narator yang berbicara pada pikirannya sendiri; kedua pada alur Mahabarata, yang diceritakan oleh narator tak kelihatan, yang peluangnya memang diberikan oleh suatu adegan dalam film Biola Tak Berdawai, ketika gambar memperlihatkan komik wayang Mahabarata karya R.A. Kosasih, tetapi yang antara gambar komik dan dialog tokohnya tak berhubungan; ketiga pada alur Biola Tak Berdawai yang “Asli” dari skenario dan film, yang menyatu dengan penceritaan dari sudut pandang Dewa. Dengan kata lain, alur pertama tersebut memang melebur dengan yang ketiga. Dengan “modal” tersebut, bagi Seno cukup untuk menjadi sebuah cerita panjang.

Tak ada keistimewaan komposisi antar alur yang dibuatnya, karena komposisi dimaksud adalah permainan sudut pandang belaka, yakni antara sudut pandang Dewa dan sudut pandang “dalang” yang menceritakan kembali Mahabharata. Namun perlu diketahui betapa bukan hanya masalah panjang yang kurang itulah pembentuk komposisi tersebut, melainkan juga fakta bahwa Seno dalam kesungguhannya menghadapi dua calon pembaca: antara yang sudah dan yang belum menonton filmnya—dan Seno tak berkenan untuk mengorbankan salah satu. Di satu pihak Seno tampak dilematis, di lain pihak menantang kreativitas, karena tatkala Seno mewajibkan diri untuk setia, maka tingkat kesulitan untuk tetap kreatif menjadi lebih tinggi.

Atas hal tersebut, menurut Seno begitulah, bagi yang sudah menonton filmnya  (dan jika membaca bukunya juga, berarti menyukainya) Seno merasa harus memberi jaminan, bahwa dirinya tak akan menyimpangkan alur yang sudah terdapat sebagai naratif Biola Tak Berdawai; sedangkan bagi yang belum menonton filmnya, Seno harus menjamin dirinya sendiri bahwa naratif yang akan “masyarakatnya” baca tanpa teracu pada filmnya pun mandiri sebagai karya yang utuh, tanpa mesti mengkhianati filmnya. Alhasil bagi Seno, menulis dengan kesadaran menghadapi dua golongan pembaca sekaligus seperti itu, menurutnya terasa sebagai tingkat kesulitan tertentu—meski usaha mencari jalan keluarnya (“pengalaman konkret dan pergumulan total”) justru memberikan  bentuk cerita panjang itu sendiri.

Dalam ceramah ini Seno menambahkan, seperti perihal dalam “novel psikologis” yang mempertimbangkan “kewajaran dominan”, maka setiap lajur itu akan berisi karakter-karakter, ataupun karakter, latar, dan banyak lagi aspek yang biasa terdapat  dalam sebuah “novel”, “roman”, atau apapun namanya, yang dalam perjalanan di setiap lajurnya masing-masing, ketika saling terhubungkan membentuk naratif yang utuh sampai jalur berakhir. Dalam cerita panjang di luar “estetika keutuhan” berlaku proses serupa, kecuali bahwa “keutuhan psikologis” tak menjadi tujuannya sedikit pun—sekurangnya sampai jalur berakhir, karena suatu keutuhan dalam simpulan penerimaan.

Dalam menutup ceramahnya, Seno juga kembali mengakui—bahwa komposisi hanyalah sebagian saja dari berbagai dimensi lapisan tak terbatas dalam seni menulis novel, roman, atau apapun namanya. Karena menurut Seno semua itu adalah cerita panjang.

Catatan: naskah sempat dimuat Lampung Post, 16 Oktober 2016

 

Kedalaman Proses dari Sebuah Teater

di-balik-terang-cahaya-fm

Oleh F. Moses

TEATER tak sekadar pertunjukan belaka bagi kepuasan aktor dan penonton di dalamnya. Lebih dari itu, pelbagai catatan menyoal seni berteater berpotensi memberi ragam dampak bagi lingkungannya; baik masyarakat pemerhati maupun pengrajin seni—bahkan masyarakat “gagap seni” sekalipun (semata menonton pertunjukan) terhadap sebuah teater. Maka catatan dirasa sudah tak lagi cukup dari “riuh tepuk tangan” dan apresiasi, karena ada lebih mesti dipahami: menyoal kedalaman dari sebuah proses teater terjadi. Hal terpenting juga, Teater Satu yang didirikan oleh Iswadi Pratama dan Imas Sobariah pada 1996 di Lampung, dalam perjalanan kreativitas seni pertunjukan sekaligus laboratorium penelitian dan penerbitan, dianggap perlu untuk berbagi kedalaman proses bagi “masyarakatnya”. Buku Di Balik Terang Cahaya pun mesti diakui, bahwa catatan atas proses mereka selama ini memang cara terbaik untuk disosialisasikan bagi masyarakat penggiat maupun pemerhati. Lanjutkan membaca “Kedalaman Proses dari Sebuah Teater”