Aforisme Sastra

F. Moses

Puisi “mengakurasikan ruang bagi ukuran irama di dalamnya”, maka ia laiknya bunyi dari bahasa keseharian manusia “penuh perhitungan”. Tata bahasa dari keragaman kata-kata yang sudah disterilkan dari perlakuan bunyi-bunyi tidak penting. Penuh pemikiran pelbagai isyarat segala tendensi. Barangkali juga ruang harapan segala renik dimaksudnya. Aforisme—bergerak tepat bagi wilayah pemaknaan penikmatnya. Lantas, demikiankah aforisme berpotensi menjadi kesatuan arti yang bulat sekaligus utuh?

Sastra sebagai medium terpenting yang menggunakan sekaligus memberdayakan bahasa, pada akhirnya ialah karya sastra, aforisme menjadi kehadiran persebaran (mungkin juga peleburan) tersendiri berpenuh potensi. Namun ia bisa juga bukan apa-apa, bila kekuatan makna tak menyerap di dalamnya.

Aforisme, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani ‘aphorismos’ dari ‘apo’ dan horizein; suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima secara umum. Kemudian berujung pada satu penegasan bahwa aforisme harus berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat, seperti dalam karya Hippocrates yang merupakan etimologi kata aforisme: “Jalan yang sudah licin karena ditapaki adalah jalan yang sudah aman”.

Dalam KBBI, aforisme lebih kurang dimaknakan sebagai pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum—seperti peribahasa. Sekali lagi, lantas seberapa tangguhkah sekumpulan kalimat dapat dibenarkan kesahihannya menjadi sebuah aforisme? Di sini peran pembaca berperan penting bagaimana ia mengoptimalkan seluruh daya interpretasinya, saya pikir.

Menyoal kedalaman pengertian dari aforisme tidak saya runcingkan lebih lanjut. Maksudnya, barangkali, karena keterlanjuran banyak pengertian dari arti tersebut—seperti halnya adagium juga bersinonim dengan aforisme. Hanya saja, secara umum untuk ditukar-pikirkan saja menyoal aforisme. Artinya lagi, bahwa aforisme (kalau boleh dikatakan) ialah sebarisan beberapa kata yang berpotensi menjadi heroik dalam sebuah karya sastra; prosa maupun puisi. (lebih…)

Iklan

Puisi di Sulawesi Tenggara

Pembaca budiman, berikut beberapa catatan. Apakah puisi ataukah sajak — tentu saja tanpa tendensi.  Kecuali “etika kontemplatif” , maksudnya lebih kurang dengan sadar penghargaan bagi sebuah imajinasi ialah kelahiran beberapa catatan. Syukur dapat bertukar getar. salam sastraholic

F. Moses

Permintaan Kesaksian

cucuk telunjukmu di luka lambungku

kelak paham aku-kau durikan

semoga mengerti sisa peluh seperti darah di jarimu

seperti menyaksi di Getsemani

kau kenang bertancap paku dari gelisah sempurnamu

kering dahaga dari terik haus

keluh peluh lantang teriak

kau memberiku minum dari kering air di matamu

“sudah selesai,”

kau harap perjamuan kedua kaliku bersamamu

ini puncak keingintahuan

hendak kembali memberi ciuman terakhir bagiku

sebelum heningmu berpura berserah

jauh gegas mencari matahari di malam buta

                                                Lampung-Bekasi, 2013-2015

 

Angin

 gusar busar lempung ulu cakrawala

tunggang-langgang bogkah pinus

lebam terompah susut kerongkongan langit

munajat kudus bepergian diutus

ruku-ruku selasih mengerjap

puji namamu

dalam bapa, putera, serta ruh bertiup

getar kidung bercengkeram mazmur

pupus ambang

musnah mambang

sepasukan tinggi ke rendah

khatam bukit angin pukul tiga sore

                             Jakarta-Bekasi, 2011-2015

Kerajaan Puisi

ingar cahaya menukik

kelindan rambat pagar dada

tujah rasuk rusuk kata

santun sigap bentuk kerajaan kata-kata

 berpuisilah

sebab kerajaan kata-kata sudah dekat

cungkil tak biasa di antara gairah

merayakan telanjang kata di tubir kilat

seperti luka manuskrip di negeri fakir tafsir

                             Kepri-Bekasi, 2015

Teluk Kota

Kota berpeluh cahaya

derap rusuh ombak menujah lambungmu

malam menjelma nyanyian pusaka

melelapkan

yang terlahir dari perkara mendaging

“marilah berpuisi kepada semua yang letih, lesu, dan berbeban berat,” demikian nyanyian kotamu

                                                       Maluku, 9/10/14

sumber –Harian Rakyat Sultra, 3 April 2017

Jurus Novel Seno Gumira Ajidarma

Oleh F. Moses

fb_img_1488789051098Pada Agustus (2016), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menaja program bertajuk MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara): Penulisan Novel. MASTERA yang beranggotakan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, ini sudah memulai program sejak 1997. Tak hanya novel, tahun-tahun sebelumnya pernah puisi, esai, dan drama. Keempat bentuk proses kreatif tersebut berputar setiap tahunnya. Pada 2016 giliran novel—selain kehadiran beberapa peserta dari negara tetangga, tentu saja dari Indonesia.

Sepanjang pelatihan penulisan novel, paling menjadi catatan ialah tatkala ceramah oleh Seno Gumira Ajidarma (Seno). Bukan sekadar bagaimana membikin novel, melainkan cara baru menyoal interpretasi dan berstrategi dalam pembuatannya—hal yang tak perlu dipikir sulit tapi juga bukan hal ringan. Tentu saja berujung menyoal proses kreatif menurut Seno.

Seno, dalam ceramahnya memang tak mendeskripsikan pengertian novel secara akademis sebagaimana ilmu susastra dengan segenap “kewajiban penjelasannya”, tapi ia justru membebaskan diri dari kewajiban semacam itu. Hanya kesungguhannya yang tampak: berbagi pengalaman dalam menuliskan novel, roman, atau apapun namanya.

“Pokoknya cerita yang lebih panjang dari cerpen. Jadi, ya, cerita panjang,” imbuhnya.

Dalam sesi tersebut tak hanya Seno, sastrawan seperti Triyanto Triwikromo, dalam kesempatannya mendampingi para peserta sepanjang pelatihan penulisan novel sebelum sesi ceramah dimulai,  juga berkali menegaskan para peserta supaya memunyai “ketertiban” menyangkut persoalan novel, di antaranya terpenting menyoal bahasa.

“Banyak  penulis novel di Indonesia, tapi yang ‘tertib semantik dan sintaksis’, nanti dulu,” tegas Triyanto.

**

Ceramah Seno  menyoal penulisan novel berlangsung hampir empat jam, selama kurun waktu itu ia membeberkan kembali tentang pengalaman—yang menurut saya—enak dan penting untuk disimak. Seperti pada penegasan Seno ketika sebuah cerita menjadi panjang karena benturan kebutuhan yang berbeda dari kebutuhan dalam melahirkan cerita pendek—sebagaimana kita tahu kapasitas Seno menulis tak hanya berbatas pada cerpen, tapi juga novel maupun esai.

“Seperti pengalaman saya dengan cerita panjang  saya yang pertama, ‘roman metropolitan’ Jazz, Parfum, dan Insiden (1996), yang terbentuk bukan dari kehendak dan tujuan ‘menulis roman’, melainkan—yang kemudian sering disebut sebagai—‘membocorkan’ fakta mengenai penindasan di Timor Timur, ketika media massa semasa Orde Baru tak mungkin memuatnya tanpa suatu risiko tertentu,” beber Seno.

Seno dengan berbagai cara memang telah mengungkapkan kembali fakta-fakta Timor Timur dalam bentuk cerpen, tetapi kebutuhan untuk menyampaikannya secara lebih tuntas membuatnya mengungkapkan dengan bentuk cerita yang lebih panjang. Seno mengakui, bahwa cerita itu harus lebih panjang, bukan sekadar ketuntasan fakta itu secara kuantitatif memang ‘banyak’, melainkan juga karena dalam situasi saat itu justru menjadikan cara penuntasan yang mesti disamarkan.

Secara langsung Seno hendak berstrategi menyiasati kebutuhan cerita menjadi panjang “menjadi ruang novel” dalam ceramah tersebut. Sebuah kebelakaan manakala cerita pendek menjadi panjang karena kebutuhan yang memang perlu dan pantas.

“Memang paradoksal. Ketika di satu pihak saya berniat ‘membuka’, saya hanya melakukannya dengan cara ‘menutupi’”, tambah Seno. Usaha penyamaran itulah yang membuatnya tambah panjang ceritanya, karena bagian-bagian “pembocoran” alias bab-bab insiden itu sendiri (seperti pada Laporan Insiden 1, 2, dan seterusnya).

Seno juga mengakui cerita panjangnya yang kedua, seperti Kitab Omong Kosong, semula berjudul Rama-Sinta: Pertempuran Cinta, mendapatkan bentuknya karena “pergulatan dengan hidup” itu juga. Inti dari Kitab Omong Kosong lantaran terbentuk dari kebutuhan berbeda-beda yang tak sepenuhnya by design (demikian Seno membahasakan) atau telah direncanakan, sehingga mencapai bentuk seperti yang bisa dibaca. Bahkan karya cetak ulangnya terpaksa menjadi Edisi Kedua pula, karena Seno menyertakan sedikit tambahan cerita yang dilupakannya pada edisi pertama.

Pengakuan Seno atas cerita Kitab Omong Kosong secara langsung merupakan pengalaman konkret dan pergulatan dengan hidup berperan langsung kepada suatu bentuk cerita panjang. Mengingat apa yang sudah tertulis, maka sekali lagi kita mendapati kata kunci komposisi; dalam hal ini komposisi berbagai macam alur dari dalam.

Persoalan novel paling menarik berikutnya pada Biola Tak Berdawai. Novel karya Seno tersebut diakuinya memang merupakan proyek kerja sama “novelisasi”, dengan sumber skenario maupun film tersebut melalui DVD. Setelah Seno baca skenario dan menonton film karya Sekar Ayu  Asmara tersebut, Seno perkirakan bahwa dengan segala kesetiannya kepada keduanya, jika hanya berpegang pada alur, Seno hanya akan mampu menulis cerita sepanjang tiga puluh halaman saja.

Maka untuk membuatnya lebih panjang, Seno menggunakan lagi “jurus komposisi”, yakni menggunakan lebih dari satu alur untuk bercerita; pertama pada alur sudut pandang Dewa, yang dalam film tak pernah berbicara sama sekali, sebagai narator yang berbicara pada pikirannya sendiri; kedua pada alur Mahabarata, yang diceritakan oleh narator tak kelihatan, yang peluangnya memang diberikan oleh suatu adegan dalam film Biola Tak Berdawai, ketika gambar memperlihatkan komik wayang Mahabarata karya R.A. Kosasih, tetapi yang antara gambar komik dan dialog tokohnya tak berhubungan; ketiga pada alur Biola Tak Berdawai yang “Asli” dari skenario dan film, yang menyatu dengan penceritaan dari sudut pandang Dewa. Dengan kata lain, alur pertama tersebut memang melebur dengan yang ketiga. Dengan “modal” tersebut, bagi Seno cukup untuk menjadi sebuah cerita panjang.

Tak ada keistimewaan komposisi antar alur yang dibuatnya, karena komposisi dimaksud adalah permainan sudut pandang belaka, yakni antara sudut pandang Dewa dan sudut pandang “dalang” yang menceritakan kembali Mahabharata. Namun perlu diketahui betapa bukan hanya masalah panjang yang kurang itulah pembentuk komposisi tersebut, melainkan juga fakta bahwa Seno dalam kesungguhannya menghadapi dua calon pembaca: antara yang sudah dan yang belum menonton filmnya—dan Seno tak berkenan untuk mengorbankan salah satu. Di satu pihak Seno tampak dilematis, di lain pihak menantang kreativitas, karena tatkala Seno mewajibkan diri untuk setia, maka tingkat kesulitan untuk tetap kreatif menjadi lebih tinggi.

Atas hal tersebut, menurut Seno begitulah, bagi yang sudah menonton filmnya  (dan jika membaca bukunya juga, berarti menyukainya) Seno merasa harus memberi jaminan, bahwa dirinya tak akan menyimpangkan alur yang sudah terdapat sebagai naratif Biola Tak Berdawai; sedangkan bagi yang belum menonton filmnya, Seno harus menjamin dirinya sendiri bahwa naratif yang akan “masyarakatnya” baca tanpa teracu pada filmnya pun mandiri sebagai karya yang utuh, tanpa mesti mengkhianati filmnya. Alhasil bagi Seno, menulis dengan kesadaran menghadapi dua golongan pembaca sekaligus seperti itu, menurutnya terasa sebagai tingkat kesulitan tertentu—meski usaha mencari jalan keluarnya (“pengalaman konkret dan pergumulan total”) justru memberikan  bentuk cerita panjang itu sendiri.

Dalam ceramah ini Seno menambahkan, seperti perihal dalam “novel psikologis” yang mempertimbangkan “kewajaran dominan”, maka setiap lajur itu akan berisi karakter-karakter, ataupun karakter, latar, dan banyak lagi aspek yang biasa terdapat  dalam sebuah “novel”, “roman”, atau apapun namanya, yang dalam perjalanan di setiap lajurnya masing-masing, ketika saling terhubungkan membentuk naratif yang utuh sampai jalur berakhir. Dalam cerita panjang di luar “estetika keutuhan” berlaku proses serupa, kecuali bahwa “keutuhan psikologis” tak menjadi tujuannya sedikit pun—sekurangnya sampai jalur berakhir, karena suatu keutuhan dalam simpulan penerimaan.

Dalam menutup ceramahnya, Seno juga kembali mengakui—bahwa komposisi hanyalah sebagian saja dari berbagai dimensi lapisan tak terbatas dalam seni menulis novel, roman, atau apapun namanya. Karena menurut Seno semua itu adalah cerita panjang.

Catatan: naskah sempat dimuat Lampung Post, 16 Oktober 2016

 

Kedalaman Proses dari Sebuah Teater

di-balik-terang-cahaya-fm

Oleh F. Moses

TEATER tak sekadar pertunjukan belaka bagi kepuasan aktor dan penonton di dalamnya. Lebih dari itu, pelbagai catatan menyoal seni berteater berpotensi memberi ragam dampak bagi lingkungannya; baik masyarakat pemerhati maupun pengrajin seni—bahkan masyarakat “gagap seni” sekalipun (semata menonton pertunjukan) terhadap sebuah teater. Maka catatan dirasa sudah tak lagi cukup dari “riuh tepuk tangan” dan apresiasi, karena ada lebih mesti dipahami: menyoal kedalaman dari sebuah proses teater terjadi. Hal terpenting juga, Teater Satu yang didirikan oleh Iswadi Pratama dan Imas Sobariah pada 1996 di Lampung, dalam perjalanan kreativitas seni pertunjukan sekaligus laboratorium penelitian dan penerbitan, dianggap perlu untuk berbagi kedalaman proses bagi “masyarakatnya”. Buku Di Balik Terang Cahaya pun mesti diakui, bahwa catatan atas proses mereka selama ini memang cara terbaik untuk disosialisasikan bagi masyarakat penggiat maupun pemerhati. (lebih…)

Menyoal Kritik (dalam) Sastra

Oleh F. Moses

Pembaca budiman, berpuluh bahkan beratus serta berjuta tak berhingga “tradisi kritik sastra” itu terjadi–maka dalam kehidupan yang “mimesis” ini, saya coba tulis kembali: menyoal kritik sastra.

Kritik sastra setidaknya mampu menunjukkan nilai suatu karya tertentu secara tepat dan cemerlang, meniadakan persoalan-persoalan yang sulit dan rumit meliputi karya tersebut melalui penjelasan, uraian, bahkan penafsiran; diibaratkan sastra mampu menarik bahasa ke dalam wilayahnya—selain mengekspos “kepartikularan” tapi sekaligus strategi wahana untuk menjembatani. Pada perkara lain, menyoal kerumitan-kerumitan yang dimaksud kurang pahamnya pembaca dalam menilai karya sastra, hal ini menyebabkan karya yang dinilai baik pun belum tentu mendapatkan sambutan yang baik pula dari pembaca. Maka dari itu, di sinilah fungsi dari kritik sastra (kalau boleh dikatakan demikian)—apabila seorang kritikus mampu memberikan penjelasan mengenai metafora-metafora tertentu, simbol-simbol tertentu, ataupun makna (pun pemaknaan) di dalam suatu karya sastra tertentu, pembaca tentu mudah memahami karya sastra (sekurangnya terdapat “cara lain” bagi pembaca berproses dalam pendekatannya).

Sebagai misal puisi, mengingat keiintrisikan di dalamnya, salah satunya diksi—merupakan kata atau bila digabungkannya menjadi sebentuk para frasa yang cenderung memberi ruang pemaknaan bagi “tubuh puisi” itu sendiri, bila kata-kata dipilih lalu disusun dengan berbagai cara hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, dapat dikatakan itulah diksi puitis; mendapatkan kepuitisan serta mendapatkan nilai estetik. Maka secara langsung bahwa penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya. Subtil. Detail berpenuh emosi tenaga-pemikiran estetiknya. Mungkin dapat dianggap juga demikian: penyair sebelum menjalankan misi pencapaian usaha kepuitisan terhadap puisi yang hendak ditunaikan, telah dipertimbangkan sematang mungkin.

Bagi pencitraan puisi, pemberian gambaran yang jelas, untuk memberi suasana yang khusus, membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran, penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair mengembangkan gambaran-gambaran angan (pikiran), selain alat kepuitisan yang lain.

Tak lain dapat dikatakan pula, sumber daya puisi dalam pencapaian kinerja puisi ke dalam pengonkretannya terhadap fenomena “keabstrakan” hendak ditunaikannya, dirasa perlu menggunakan angan-angan serupa perumpamaan; dengan hal itu pengapresiasi mengerti arti kata-kata, yang dalam hubungan ini juga harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan dari objek-objek yang disebutkan atau diterangkan, atau secara imajinatif membangun semacam pengalaman di luar hal-hal yang berhubungan dari kerja puisi itu sendiri—sehingga kata-kata akan secara sungguh-sungguh berarti kepada kita. Hal itu secara tidak langsung melunakkan pembaca menanggapi perihal pengalaman dalam teks—telah ketersediaan kekayaan imaji tersimpan. (lebih…)

“Membaca Novel”

F. Moses

Pendekar bahasa bernama Harry Hoijer (1904-1976) berujar—kurang lebih begini: bahasa tak lagi sekadar alat komunikasi, tapi strategi bagi persepsi pembicara menjadi ruang penciptaan dari cara-cara biasa untuk menalarkan buah pengalaman dalam kategori-kategori penting.

Seturut ujaran tersebut, seperti tampak mudah bahasa itu—layaknya rangkaian kereta permainan yang berjalan lurus. Tinggal cara kita membuat kelokan serta latar sekeliling dan stasiun perhentian sesuka hati. Mungkin.

Di negeri ini, sebagaimana kita ketahui, sejak kebebasan bagi media (mungkin lebih khusus pada media lokal) dalam penyampaiannya, bahasa terus melesat—berkembang dalam penciptaan kata maupun frasa-frasa baru bahkan lebih banyak lagi. Sebagaimana kalimat di atas menyoal penciptaan dari cara-cara biasa bagi penalaran buah pengalaman dalam kategori penting, justru etimologi nama maupun kata dasar lain juga menjadi sarat makna dan interpretasi tercipta dari olah bahasa si jurnalis.

Pada media cetak paling umum bagi warga Jakarta yang senantiasa menghadirkan lembaran bergambar—katakanlah, misalnya Warta Kota atau Pos Kota—satu rubrik secara konkret “menghalalkan” cara berbahasanya, sebut saja bagaimana media tersebut (kolom agak “saru) bermain awalan (prefiks) main sikat (asal ucap lalu dicetak).

Bentuk penghalalan tersebut misalnya, pada kata dibooking, dikumbah, diinceng, dan dilajo—khusus pada di-booking itu tercipta dari sebuah kenekatan. Maksudnya, si jurnalis berani memadankan interferensi dari bahasa Inggris. Meski ternyata tetap saja punya tujuan untuk memperhalus wacana tersebut, lantaran semisal menggunakan kata dipesan dianggap berhubungan dengan konteks barang. Jadi, kecenderungan dibooking lantaran dianggap akrab terdengar dalam keseharian. Begitu pula dengan kata yang diserap dari bahasa jawa sebagaimana disebut diatas.

Barangkali itu semua tak lepas dari mudahnya proses keterserapan yang datang bertubi. Satu kata bisa menimbukan banyak arti serta kesamaan. Belum lagi campur tangan penyertaan imbuhan—katakanlah kata benda menjadi kata yang dibendakan dari akhiran ‘an’: siulan, cairan,makanan, serta kuningan. Masih banyak lagi.

Selain itu, “permainan” dalam pembentukan sembarang imbuhan (afiksasi) yang dianggap tepat dan sekenanya. Maksudnya, afiks yang di antaranya prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan prefiks dan sufiks) membuat kata menjadi sarat interpretasi. Kita sebut saja “massa”—tentu sudah tak asing lagi terdengar istilah “dimassa”; awalan ‘di’ tersebut seperti kian mengonktretkan bahwa tak perlu lagi terjadi penjelasan tentang terjadinya bentuk pemukulan, penendangan, penonjokan, penghantaman, maupun penganiayaan—itu semua menjadi konkret atas perwakilan “dimassa”.

Selanjutnya, kecenderungan afiksasi kadang memberi “pelayanan makna” tersendiri. Maksudnya, penempelan imbuhan tak lazim sebagaimana biasa, saya rasa inilah sikap atas cara-cara biasa untuk menalarkan buah pengalaman menjadi begitu penting meski terdengar sepele: bagaimana semisal persilangan prefiks-sufiks seperti “dijadikan”, “dikuatkan”, dihancurkan”, dilemahkan, dikhianatkan”, dan sebagainya—juga bisa menjadi “dinovelbaswedankan”.

Atas penggabungan afiksasi baru tersebut, sebagian masyarakat pemerhati pun (barangkali) bakal bertafisir: “Oh, itu, kan, sosok orang yang kembali disoalkan atas peristiwa 11 tahun lalu. Ia ditangkap serta ditahan tanpa kesesuaian aturan yang berlaku.”

sumber: 27 Juni 2015

Secangkir Teh: Seno Gumira Ajidarma

DSC01032

Oleh F. Moses

“Bicara sastra atau situasi, seperti anugerah sastra, adalah peristiwa sakral. Jadi bukan untuk main-main kayak acara ‘puber’. Saya taksuka bila sastra dianggap main-main. Bila sastra dianggap main-main, saya taksuka. Makanya, pernah, setiap kali diundang oleh sebuah media tertentu saya tak pernah hadir. Itu lantaran esensi menghargai sastra tak saya dapatkan di sana. Jadi percuma saja!”

Itulah sepenggal percakapan paling saya ingat ketika terlibat obrolan dengan sastrawan bernama Seno Gumira Ajidarma (SGA). Obrolan itu terjadi tatkala acara Penulisan Cerpen Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang dihelat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, di Bandung pada medio 2013.

Dalam percakapan itu, “keberangan” begitu tampak bilamana sastra sekadar dianggap main-main, diremehkan, dan bahkan dianggap keisengan belaka. Bagi SGA, sastra tidak lain adalah keintensitasan serta keseriusan tersendiri. Maka jangan pernah beranggapan main-main terhadap sastra.

“Sastra memang butuh perenungan khusus. Bukan lamunan, apalagi kebohongan belaka. Fakta dilarutkan ke imajinasi pengarang di dalamnya,” kata SGA.

Ia juga menambahkan bahwa (konteks acara sastra) lebih baik sastra itu dikemas/dihelat dengan cara sederhana, tetapi jauh lebih serius di dalamnya. Daripada dikemas dengan kemasan wah, tetapi makna dari sastra taklarut di dalamnya.

“Setidaknya mending pura-pura serius, lah, meski taktahu. Ketimbang sok rileks padahal tak mengerti apa-apa menyoal sastra itu,” tambah doktor sastra lulusan UI ini.

Atas “keseriusan” itu pula dan ditambah konsistensinya di dunia sastra, SGA menerima berbagai macam penghargaan, di antaranya penghargaan (1) dari Radio Arif Rahman Hakim untuk cerpen “Kejadian”, 1997; (2) dari majalah Zaman untuk cerpen ”Dunia Gorda”, 1980; (3) dari majalah Zaman untuk cerpen “Cermin”, 1993; (4) dari harian Kompas untuk cerpen “Midnight Express”, 1990; (5) dari harian Suara Pembaruan untuk cerpen “Segitiga Emas”, 1991; (6) dari harian Kompas untuk cerpen “Pelajaran Mengarang”, 1993; (7) dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk buku Saksi Mata, 1995; penghargaan (8) South East Asia (SEA) Write Award untuk buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, 1997; (9) Cerpen “Cinta di Atas Perahu Cadik” terpilih sebagai cerpen terbaik Cerpen Kompas Pilihan 2007; dan (10) cerpen “Dodolitdodolitdodolibret” kembali terpilih sebagai cerpen terbaik Cerpen Pilihan Kompas 2010.

Apabila dilihat dari penghargaan-penghargaan yang diterima, SGA memang lebih dikenal lantaran cerpen-cerpennya. Cerpen-cerpennya dikenal tidak hanya sekadar tegas, jelas, dan kritis, tetapi juga indah dan menyentuh. Meskipun demikian, sastrawan sekaligus dosen, wartawan, dan fotografer yang dilahirkan di Boston pada 19 Juni 1958 ini (dapat dikatakan) sosok “serba bisa” dalam menulis. Ia tak hanya menulis puisi, cerpen, novel, naskah drama, ataupun komik, tetapi juga terbilang produktif menghasilkan karya kritik/esai dan kajian ilmiah yang berhubungan dengan sastra.

Keproduktifan SGA dapat dilihat dalam karyanya yang berupa kumpulan puisi, yakni (1) Mati Mati Mati, 1975; (2) Bayi Mati, 1978; (3) Catatan-Catatan Mira Sato, 1978. Karya berupa kumpulan cerpen, yakni (1) Manusia Kamar, 1988; (2) Matinya Seorang Penari Telanjang, cetakan I tahun 1988, cetakan II tahun 2000 (3) Penembak Misterius, 1993; (4) Saksi Mata, 1994; (5) Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, 1995; (6) Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, 1996; (7) Negeri Kabut, 1996; (8) Atas Nama Malam, 1999; (9) Iblis Tidak Pernah Mati, cetakan I tahun 1999, cetakan II tahun 2001; Kematian Donny Osmond, 2001; (10) Sepotong Senja Buat Pacarku, 2002; Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematianku, 2004; Linguae, 2007.

Karya Seno berupa novel, yakni (1) Jazz, Parfum, dan Insiden, 1996; Wisanggeni Sang Buronan, 2000; Negeri Senja, 2003; Biola Tak Berdawai, 2004; Kitab Omong Kosong, cetakan I tahun 2004, cetakan II tahun 2006; Kalatidha, 2007. Karya kumpulan esai, yakni (1) Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, 1997. Lalu pada karya nonfiksi, yakni Cara Bertutur dalam Film Indonesia: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra FFI 1973-1992, 1997. Kemudian, SGA juga menulis naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami?: Tiga Drama Kekerasan Politik, 2001. Karya komik, yakni berjudul (1) Jakarta 2039, 2001; (2) Taxi Blues, 2001; (3) Sukab Intel Melayu: Misteri Harta Centini.

Pada tahun 2009, SGA menerbitkan buku Nagabumi. Buku tersebut merupakan karya Seno Gumira Ajidarma yang disebut sebagai cerita silat. Sampai saat ini (2103) terbit dalam dua jilid, jilid pertama diberi anak judul “Jurus Tanpa Bentuk” dan jilid kedua diberi judul “Buddha, Pedang, dan Penyamun Terbang”.

Selain fiksi, berbagai karyanya yang nonfiksi, antara lain, (1) Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, 1997-1992; (2) Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, 1997; (3) Kisah Mata, 2002; (4) Surat dari Palmerah, 2002; (5) Affair, Obrolan Tentang Jakarta, 2004; (6) Sembilan Wali dan Siti Jenar; dan (7) Kentut Kosmopolitan, 2008.

Pria gondrong yang dibesarkan di Yogyakarta ini pada usia 17 tahun—tepatnya tahun 1975—mulai terlibat dengan kesenian lantaran bergabung dengan rombongan sandiwara Teater Alam pimpinan Azwar AN. Sekala itu pun, tulisan pertamanya yang berupa puisi muncul . Puisi tersebut dimuat dalam rubrik Puisi Lugu dalam majalah Aktuil yang dijaga oleh Remy Silado—Remy meloloskan puisi Seno, yang dia sebut puisi cukup “jelek”. Pada masa itu Remy memang menyuntikkan eksperimen sastra mbeling yang mempengaruhi Seno yang ketika itu mulai meraba-raba dunia sastra. Setelah itu, cerpennya kali pertama dimuat di koran Berita Nasional kemudian esainya yang pertama, menyoal teater, dimuat harian Kedaulatan Rakyat.

“Barangkali sampai hari ini saya tidak akan terus menulis, jika puisi pertama saya tidak dimuat di majalah Aktuil,” kenang SGA, yang sampai sekarang masih menekuni profesi sebagai dosen di kampus UI, wartawan, dan fotografer.

Menyoal mbeling, perjalanan SGA di dunia sastra juga terbilang unik. Sifat “pemberontak” dan keliarannya berujung hingga pada imajinasinya. Imajinasinya seperti tidak terbendung. Terlebih tatkala ia aktif di majalah Jakarta-Jakarta. Betapa segala fakta menyoal Timor-Timur, misalnya, dilarutkan dalam cerpen.

Menyoal kreativitas SGA, Sunu Wasono (dalam Horison, edisi Februari 2008) mencatat bahwa ia adalah seorang penulis yang mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. SGA menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya. Menulis adalah suatu momentum. Tulisan yang dilahirkan satu detik ke belakang atau satu detik ke depan akan lain hasilnya, karena memang ada seribu satu faktor (yang sebenarnya misterius) dalam sebuah kelahiran sebuah tulisan. (GH)