Tulisan yang dikaitkan 'catatan seniman'

Sekali Lagi, Musikalisasi Puisi

Oleh Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau

Di dunia seni, sesungguhnya musikalisasi puisi bukanlah barang baru. Sebagaimana yang dilansir F. Moses melalui tulisannya di harian ini, Bunyi-Bunyian Plus dalam Musikalisasi Puisi (Lampung Post, 15 Mei 2011), bunyi (instrumen musik) dan teks puisi sudah hadir sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan.

Musikalisasi puisi juga sudah menjadi perhatian bagi para komponis besar, seperti Franz Schubert (1797—1828), yang membuat komposisi musik vokal berdasar syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar Eropa di zaman itu serta Maurice Ravel (1875—1937) yang membuat sebuah karya piano (berjudul Gaspard de la Nuit) berdasar puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807—1841).

Begitu pula di Indonesia. Kelompok musik Bimbo, misalnya, secara sangat ekspresif telah menyanyikan (memusikalisasi) puisi-puisi Taufiq Ismail, seperti Tuhan dan Dengan Puisi Aku. Sementara itu, Ebiet G. Ade pun selalu membawakan puisi-puisi ciptaannya sendiri ke dalam bentuk musik yang melodi baladis. Tak ketinggalan Yan Hartlan, Rita Rubi Hartlan, dan Ully Sigar Rusady, mereka pun gemar memusikalisasi puisi-puisinya. Yang menarik adalah pemusikalisasian itu telah berhasil mengantarkan puisi-puisi yang dimusikalisasi ke khalayak (masyarakat) tanpa terkurangi maknanya.

Oleh banyak orang, musikalisasi puisi masih sering dianggap sebagai salah satu teknik dalam pembacaan puisi. Orkestrasi musik (baik yang sederhana [dengan satu gitar] maupun yang tidak sederhana [orkes ansambel atau simponi]) hanya dijadikan latar atau pengiring pembacaan puisi. Artinya, antara puisi dan musik masih ada jarak. Puisi dan musik masih diperlakukan sebagai dua hal yang berbeda sehingga hasilnya pun baru sampai pada tahap mengiringi pembacaan/penyanyian puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan alat ritmik yang lain. Musikalisasi puisi, dengan demikian, belum dipahami sebagai karya kreatif (cara lain) dalam apresiasi puisi.

Sebagai karya kreatif dalam apresiasi puisi, musikalisasi puisi semakin hari semakin mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya di kalangan kawula muda. Banyaknya penyelenggaraan kegiatan musikalisasi puisi di berbagai sekolah dan daerah membuktikan hal itu. Bahkan, belakangan ini muncul pula komunitas-komunitas (sanggar) baru yang secara intens menggeluti musikalisasi puisi. Komunitas-komunitas itu, baik secara lokal maupun nasional, kemudian berhimpun membentuk wadah baru: Komite Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Di samping di tingkat nasional, konon, Kompi juga telah berdiri di banyak provinsi, seperti Kompi Menado, Kompi Medan, Kompi Lampung, dan Kompi Jambi. Sementara itu, kegiatan musikakisasi puisi pun digelar di mana-mana. Sekadar contoh, di Sumatera, misalnya, setiap tahun (sejak 2006) digelar Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA Se-Sumatera. Tahun ini (2011) festival itu akan digelar di Palembang pada 5 dan 6 Juli 2011 oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan.

Mengapa Musikalisasi Puisi Menarik?

Musikalisasi puisi pada hakikatnya adalah kolaborasi apresiasi seni antara puisi, musik, dan pentas. Melalui musikalisasi puisi, seseorang tidak hanya mendapat kesempatan mengapresiasi puisi dan musik, tetapi juga mendapat kesempatan mengekspresikan apresiasinya itu di depan khalayak. Musikalisasi puisi, dengan demikian, adalah sebuah karya yang jelas membutuhkan daya kreativitas tinggi. Barangkali dua hal terakhir (musik dan pentas) itulah yang menjadikan musikalisasi puisi menarik minat banyak orang (terutama kawula muda) karena dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media/cara alternatif dalam pengembangan kreativitas mereka.

Seperti yang telah kita ketahui, belakangan ini banyak bermunculan kelompok musik (grup band) dengan berbagai corak dan jenisnya. Pada umumnya, tanpa harus mengabaikan proses kreativitas mereka, syair lagunya terkesan sederhana, polos, dan vulgar. Artinya, untuk menangkap makna syair itu seseorang tidak perlu banyak buang energi, begitu mendengar sudah tahu maksudnya, tanpa proses panjang untuk menafsirkannya. Di sinilah sesungguhnya mereka dapat memanfaatkan puisi, seperti yang pernah dilakukan Iwan Fals (bersama Kantata Taqwa) atas puisi Rendra, Kesaksian, God Bless atas puisi Taufiq Ismail, Panggung Sandiwara”, dan Gigi atas puisi Taufiq Ismail, Pintu Surga.

Model Musikalisasi Puisi

Harus diakui hingga kini masih terjadi pro dan kontra terhadap bentuk/model musikalisasi puisi yang dianggap standar. Setidaknya ada tiga model musikalisasi puisi yang dapat diamati. Pertama, model musikalisasi puisi lagu. Dalam model ini puisi digubah menjadi syair lagu. Fokus utama model ini cenderung pada musiknya. Model musikalisasi puisi semacam ini dapat dilihat pada syair-syair lagu yang dibawakan Bimbo atas puisi-puisi Taufiq Ismail serta syair-syair lagu yang dibawakan Reda Gaudiamo dan Tatyana atas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Kedua, model musikalisasi puisi iringan. Dalam model ini puisi dibawakan (dibaca atau didendangkan) dengan diiringi oleh permainan alat-alat musik. Fokus utama model musikalisasi puisi ini adalah keahlian olah vokal pembaca/pendendang puisi. Model ini biasanya dilakukan oleh masyarakat umum dalam lomba-lomba/kegiatan baca puisi. Ketiga, model musikalisasi puisi total. Dalam model ini puisi dan musik dikolaborasikan. Pengikut model ini beranggapan bahwa pada hakikatnya puisi sudah memiliki musiknya sendiri.

Oleh sebab itu, tugas utama dalam musikalisasi puisi adalah mentransformasikan unsur musik yang ada dalam puisi itu ke bentuk yang lebih konkret, melalui alat musik. Dengan kata lain, musikalisasi puisi bukanlah kerja menciptakan musik untuk puisi, melainkan kerja mengonkretkan puisi dalam bentuk musik. Alat musiknya pun tidak harus berupa alat musik yang sudah lazim, tetapi dapat berupa apa saja. Model inilah, yang pada awalnya dilakukan oleh Devies Sanggar Matahari (Jakarta) dan menyebar melalui Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi), rupanya yang berkembang dengan baik.

Terlepas dari pro dan kontra (tiga model) itu, proses musikalisasi puisi (sebagai cara lain mengapresiasi puisi) mau tidak mau harus diawali dari pemahaman puisi. Setelah puisi benar-benar dipahami, langkah berikutnya adalah mencoba mengonkretkan pemahaman itu ke bentuk bunyi (musik). Untuk itu, unsur-unsur musik: nada, melodi, irama, tangga nada, dinamika, serta unsur pendukung lain seperti ekspresi dan harmonisasi perlu dikuasai. Berikut adalah penjelasn singkat mengenai unsur-unsur musik dan pendukung lainnya itu.

(1) Nada (tone) merupakan bagian terkecil dari lagu. Dalam pengertian musik, nada adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur dasar.

(2) Melodi adalah susunan nada secara horizontal dengan lompatan (interval) tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi melodi inilah yang akan mengonkretkan larik-larik puisi menjadi lagu.

(3) Irama adalah ukuran waktu atau tempo. Dalam musikalisasi puisi, irama menjadi sangat penting untuk memberi jiwa pada puisi yang diapresiasi. Puisi yang bersemangat seperti Aku-nya Chairil Anwar, misalnya, akan menjadi lebih bermakna jika dikemas dalam irama yang bervariatif: tempo sedang dengan perubahan (dipercepat dan diperlambat).

(4) Tangga nada berpengaruh besar terhadap penjiwaan puisi. Tangga nada minor, misalnya, cocok dipakai untuk puisi-puisi yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka, dan pesimistis, sedangkan tangga nada mayor lebih cocok digunakan untuk puisi-puisi yang berjiwa optimistis, gagah, berani, riang, dan gembira.

(5) Dinamika berkaitan dengan keras-lembutnya lagu. Kadangkala suatu lagu dinyanyikan dengan sangat lembut pada awal penyajian, kemudian berangsur-angsur keras, atau mendadak keras, kembali melembut pada bagian tertentu, kemudian mengeras atau melembut pada bagian akhir (ending). Perubahan keras-lembutnya lagu ini akan memberikan nuansa penjiwaan pada penyajian lagu.

(6) Ekspresi adalah pengungkapan atau proses menyatakan. Dalam musikalisasi puisi, ekspresi menjadi bagian yang sangat penting karena melalui ekspresi inilah menarik tidaknya sebuah musikalisasi puisi. Celakanya, ekspresi tidak hanya terkait dengan pemahaman puisi, tetapi juga terkait dengan karakter orang (keaktoran) apresiator.

(7) Harmonisasi adalah keselarasan. Harmonisasi menjadi sangat dibutuhkan ketika musikalisasi puisi sudah sampai pada tahap orkestrasi yang melibatkan unsur instrumen musik iringan. Pada tahap ini peran iringan adalah memadukan unsur melodi, ritme, tempo, dinamika, serta ekspresi lagu.

Begitulah, jika sejak dulu dunia puisi adalah dunia yang sunyi, musikalisasi puisi dapat dijadikan sebagai salah satu pintu pembuka harapan menuju dunia yang lebih semarak. Di tengah ingar-bingar kawula muda yang sedang gandrung pada seni musik, musikalisasi puisi memiliki peluang untuk menggaet mereka. Jika itu terwujud, mudah-mudahan puisi (dan sastra pada umumnya) tidak lagi seperti diikat dan dipojokkan ke sudut sejarah yang berdebu. Semoga.

Sumber: Lampung Post, 22 Mei 2011

Kesenian (di) Lampung 2009

Isbedy Stiawan Z.S.

Sastrawan

Kesenian tradisional masih mendapat tempat lebih baik dibanding modern di Provinsi Lampung meski sebagian orang akan membantah pernyataan ini. Tetapi, kesenian tradisional (Lampung) ternyata juga belum bisa banyak berbuat manakala berhadapan dengan strategi kebudayaan yang dibuat pemerintah (daerah). Pasalnya, pemerintah masih menomorsatukan dunia pariwisata yang dianggap bisa mendulang devisa bagi pendapatan asli daerah (PAD).

Anggaran di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung konon pada 2010 sebesar 80% untuk pariwisata dan sisanya untuk kebudayaan, demikian pernyataan Dr. Khaidarmansyah dalam diskusi Bilik Jumpa Seniman-Mahasiswa (Bijusa) di UKMBS Unila beberapa waktu lalu. Artinya, kebudayaan–di dalamnya kesenian yang harus pula berbagi antara tradisional dan modern–amatlah kecil. Dus, ini menunjukkan pemerintah provinsi masih kecil perhatiannya kepada kesenian.

Lantas, kesimpulan diskusi, pemerintah paling bertanggung jawab (kepedulian) untuk memajukan kesenian yang hidup, tumbuh, dan berkembang di daerah ini masih sulit diharapkan bisa terwujud. Sektor lain di luar kesenian, seperti politik dan belanja aparatur pemerintah masih mendominasi. Padahal, kalau saja hasil pajak dari dunia hiburan bisa dimaksimalkan, niscaya bisa mengongkosi kegiatan berkesenian. Atau, bantuan dari pihak ketiga bisa diberdayakan, niscaya pula bisa menghidupi kesenian (termasuk yang modern).

Geliat kesenian (di) Lampung pada 2009 sebenarnya terbilang semarak. Misalnya, teater: dua grup teater papan atas Lampung, yaitu Teater Satu pimpinan Iswadi Pratama dan Komunitas Berkat Yakin (KoBer) yang digawangi Ari Pahala Hutabarat telah mengukir prestasi di panggung teater. Teater Satu, selain mementaskan Kisah-kisah yang Mengingatkan di Taman Budaya Lampung, juga tampil di Salihara, Jakarta. Begitu pula KoBer yang mendapat hibah seni dari Yayasan Kelola telah tampil di Padangpanjang, Bengkulu, dan Salihara Jakarta. Kekuatan dua grup teater ini–tanpa mengabaikan kelompok lainnya–sudah cukup memperkenalkan Lampung di kancah seni nasional.

Sayangnya, pemerintah daerah rasanya belum menyentuh kedua teater secara maksimal. Boleh jadi pemda berkilah, yang “diurus” bukan hanya grup teater, melainkan banyak jurai kesenian yang mesti dipedulikan. Namun, perimbangannya yang mesti diperhatikan. Berapa besar pemda menggelontorkan bantuan ke sanggar-sanggar seni yang ternyata ada yang cuma papan nama, sedangkan grup teater yang nyata-nyata “bekerja” tidak didukung, tidak dibantu. Continue reading ‘Kesenian (di) Lampung 2009′

Konstelasi Sastra di Lampung Catatan Dari Amzuch ke Fitri Yani

Isbedy Stiawan ZS

PETA sastra Indonesia tidak lengkap, sekiranya ada upaya untuk menghilangkan Lampung. Terutama beberapa tahun terakhir ini. Pasalnya provinsi bagian selatan pulau Sumatera ini cukup besar perannya bagi kesemarakkan sastra di Indonesia, hampir mendekati peran yang pernah disumbangkan, misalnya Sumatera Barat dan Riau pada masanya.

Sejak 1978-an, sebagai awal “melek” sastra di Lampung, ranah sastra Indonesia mulai memperhitungkan daerah ini sebagai lumbung kesusastraan. Dimulai oleh Assaroeddin Malik Zulqornain Ch.(kelahiran 1956), dinamika sastra di Lampung menjadi bagian dari perpetaan kesusastraan Indonesia. Meskipun, boleh jadi, AMZ dianggap bukan pioner kesastrawanan Lampung, karena Motinggo Busye, A.A. Sarmani Adil, ataupun Andi Wasis yang kelahiran atau pernah mencecap tanah Lampung lebih dulu berkiprah. Tetapi kiprah ketiga sastrawan tersebut dilakukan di luar daerah ini.

Amzuch (A.M.Zulqornain Ch) seperti “memelekkan” orang Lampung tentang sastra Indonesia, betapapun Lampung memunyai sastra tradisional (tutur) yang cukup kuat sebagai kekayaan budaya. Karya-karya Amzuch berupa cerpen, puisi, dan esai mewarnai media masa nasional sekaligus menciptakan peta sastra Indonesia tertuju ke Lampung. Sebagai pioner memang Amzuch kemudian seperti menghilang, tapi sejarah kesusatraan (di) Lampung tidak bisa begitu saja meniadakan perannya.

Perkembangan berikut, “pulangnya” para perantau: Iwan Nurdaya-Djafar, Sugandhi Putra, Hendra Z., Djuhardi Basri, dan “masuknya” Naim Emel Prahana karena menyunting gadis Metro berdarah Jawa. Bersamaan “kepulangan” para perantau itu, dinamika sastra di Lampung kian bergolak dengan munculnya Syaiful Irba Tanpaka, Achmad Rich, serta yang berkiprah kemudian yaitu Panji Utama, A.J. Erwin, Iswadi Pratama, Ivan Sumantri Bonang, D.Pramudia Muchtar, Eddy Samudra Kertagama, dan lain-lain—untuk sekadar menyebut beberapa nama.

Forum Puisi Indonesia 87 yang digagas Dewan Kesenian Jakarta di TIM, 3-5 September 1987 adalah tonggak dan bukti bahwa Lampung sedang memasuki peta sastra di Indonesia. Sejumlah sastrawan Lampung (Iwan Nurdaya-Djafar, Syaiful Irba Tanpaka, Sugandhi Putra, Naim Emel Prahana, Achmad Rich) mewakili Lampung di forum yang dihadiri sekitar 87 penyair se-Indonesia tersebut. Selepas Forum Puisi Indonesia 87, media masa bergengsi kala itu—Berita Buana dengan penjaga gawangnya Abdul Hadi W.M., Pelita dengan redaktur tamu Sutardji Calzoum Bachri di samping media lain yakni Merdeka Minggu, Horison, Berita Yudha—banyak memberi peluang bagi publikasi karya para sastrawan Lampung. Bahkan sumbang pemikiran sastrawan Lampung pada saat polemik sastra kontekstual versus sastra transendental yang menyita halaman budaya media masa saat itu.

Pertemuan-pertemuan sastra, yang juga menghadirkan para sastrawan Jakarta dan daerah lain di Lampung. punya peran cukup besar menstimulus generasi sastra berikutnya. Ditambah lagi workshop maupun penerbitan antologi sastra secara berkala dan didanai swadaya telah pula menularkan semangat menulis karya sastra pada generasi muda.

Dan, tak bisa diabaikan dalam membantu perkembangan sastra di Lampung adalah peran media radio—dalam hal ini RRI Cabang Tanjungkarang dan Radio Suara Bhakti (Rasubha)—yang peduli pada dunia sastra dengan menyediakan acara puisi. Bahkan Rasubha menerbitkan antologi puisi bertajuk Memetik Puisi dari Udara (1987). Itu semua sebagai sumbangsih bagi perkembangan dan kemajuan sastra (Indonesia) di Lampung.

Kemudian peran kampus juga cukup besar. Adalah IAIN Radin Intan pernah menoreh sejarah sastra di Lampung ketika mengundang Hamid Jabbar ke kampusnya. Namun sumbangsih terbesar bagi munculnya sastrawan Lampung di kalangan kampus, tentulah Universitas Lampung. Baik kegiatan sastra yang digagas FKIP Jurusan Bahasa dan Seni Unila, apatah lagi yang dilakukan UKMBS Unila melalui gelar pembacaan puisi maupun workshop.

Dari kawah UKMBS Unila muncul sastrawan seperti Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, Diah Indra Mertawirana (kini Diah Merta), Lupita Lukman, dan Elya Harda. Sementara itu, tampilnya Dina Oktaviani yang kala itu berstatus sisiw SMAN 9 Bandarlampung kuga menghentakkan jagat sastra Indonesia. Karya-karya puisi Dina yang masih belia telah bermunculan di Republika, Kompas, dan Media Indonesia. Sayang usia Dina menaburkan keharuman bagi sastra di Lampung tak lama: ia hijrah ke Jakarta dan kini menetap di Yogyakarta.

Sebelumnya, Iswadi Pratama, A.J. Erwin, Panji Utama, Rivian A.Chevy, dan Ivan Sumantri Bonang juga lahir dari UKMBS Unila, namun untuk tiga serangkai Panji-Iswadi-Erwin kemudian lebih dikenal jebolan Forum Semesta (?). Sementara dari FKIP liwat komunitas KSS tercatat Aris Hadiyanto dan Anton Kurniawan. Dari Unila juga lahir penyair Alex R.Nainggolan yang kini kembali ke Jakarta, dua cerpenis: M. Arman AZ dan Ardiansyah. Dinamika dan semaraknya kesastraan di Lampung kian terasa dengan hadirnya Oyos Saroso H.N., Budi P. Hutasuhut, “pulang”nya Y. Wibowo, dan munculnya nama-nama baru yang sekejap lalu menghilang dalam kancah sastra Lampung. Ataupun kehadiran penyair Fitri Yani, seperti “mendadak”, namun mampu menghentak kancah perpuisian di Lampung—juga Tanah Air.

Fitri Yani, kelahiran Liwa 28 Februari 1986 dan mahasiswi FKIP Unila jurusan Bahasa dan Seni, pertama kali saya jumpai puisi-puisinya dimuat majalah budaya GONG, kemudian Kompas, dan Lampung Post. Setelah saya membaca puisi-puisinya, Fitri Yani adalah penyair muda Lampung potensial dan menjanjikan. Ia bisa seiring jalan dengan para sastrawan terdahulu dari daerah ini.

Bersamaan dengan Fitri Yani, saya juga mencatat kehadiran F. Moses. dengan puisi dan cerpennya di Lampung Post dan Suara Pembaruan. Moses, alumnus Sanata Dharma Jogjakarta yang kini bekerja di Kantor Bahasa, sekiranya ia tekuni untuk menulis cerpen, bukan tidak mungkin ia potensial sebagai kreator prosa ketimbang “pengrajin” puisi.

Tetapi, di tengah semaraknya sastra Lampung tampaknya kepenyairan memegang kunci dalam peta sastra di Indonesia. Continue reading ‘Konstelasi Sastra di Lampung Catatan Dari Amzuch ke Fitri Yani’


Dokumentasi

Ruang ini sekadar meruangdokumentasikan yang saya dedikasikan buat anak saya bernama Biru serta pembaca sekalian-di penjuru dunia. karena berbagai keterbatasan, arsip tersusun secara acak. Maaf atas segala kekurangan. Terima kasih atas kunjungan Anda.

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya.

Blog Stats

  • 1,892 hits

sepuisi dalam buku

Antologi puisi


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.