Arsip untuk Juni, 2011

Mengolah Cerita

F. Moses

Sebab bukan hanya masakan yang mesti diolah, melainkan juga cerita—entah cerita pendek atau cerita panjang (roman, novel, dan sejenisnya—maaf saya membenturkannya dengan sebutan cerita panjang. Tak bermaksud mengistilahkan apalagi sekadar melegitimasikannya, ya). Karena cerita yang setidaknya menjurus ke “kebaikannya bercerita”, tentunya sadar dan paham betul untuk mengolahnya; entah bagaimana rasanya kelak: asam, asin, gurih, manis, pahit, kecut, dan berakhir enak atau tidak untuk disantap. Tak soal, terpenting tahu benar untuk memasaknya. Berujung olah sadar sang penulis itu sendiri untuk menerima dan berterima. Hmm, semoga bagian pengutaraan saya ini, secara umum dan khusus tak melamurkan penikmat sastra apalagi penulisnya.

Dalam kesempatan ini kali anggaplah saya sedang tak mengulas cerpen “Aku Siapa??” karya penulis Dewa Made Suyadna, tapi hanya racauan ringan kebersamaan kita sambil minum teh hangat atau kopi panas plus gorengan. Tentunya ditengarai pertukaran pikiran di antara kita yang senantiasa saling “bertukar getar” tatkala menyoal cerpen.

Mengolah cerpen, kalau boleh saya bilang lagi, memang tak lain dari masakan. Tinggal siapkan pena dan kertas (seperangkat mesin tik atau komputer atau laptop), kumpulan perbendaharaan kata dalam “laci pikiran”, serta penyedap rasa yang bukan instan dari rempah-rempah imajinasi. Selebihnya niat tulus untuk bilang, “Mari kita mengolah menjadi masakan paling sedap untuk dinikmati menjadi cerita pendek.”

Sekadar imajinasi? Mungkin tak akan pernah cukup bahkan sanggup. Karena tak semua penulis memiliki daya imajinasi kecuali ia memang luar biasa kedatangan “ilham”. Kecuali juga, bila ia memang sekadar mendatangkan imajinasi ala kadarnya. Rasanya pun (mungkin) bakal bisa terasa; hambar dan kering. Dibaca pun hanya berjumpa dengan kebosanan. “Tak menarik, mending langsung baca kalimat paragraf terakhirnya saja,” sela si penikmat cerpen dalam hati. Tentu sebagai penulis tak ingin mengetahui pergumaman dari sela si penikmat yang seperti itu, bukan?—terpenting dalam imajinasi bukanlah sekadar mengada-ada, melainkan bagaimana caranya melebarkan sayap penceritaan menjadi berterima dan meresap ke benak pembacanya. Itu saja, sederhananya.

Baiklah, seperti saya bilang tadi, saya memang tak membahasa cerpen “Aku Siapa??”, kecuali teringat akan momentum Anne Frank. Siapakah Ia?

Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.

Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya ke sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengantarkannya menjadi seorang “pengisah sejati” yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.

Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa  mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.

Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menarik dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”

Pada bulan April 1944 ia mencurahkan hati pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah. Dan memang terjadi, Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya. Karena pada tanggal 4 agustus pagi, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk Anne Frank, disergap oleh intelejen bayaran Nazi lalu digiring ke Penjara, lalu ke kamp pembuangan sampai akhirnya dicampakkan ke sebuah kamp mengerikan di dekat Hannover (Jerman) tahun 1945. Bersama dengan impian remaja dan cita-citanya, akhirnya Anne Frank meninggal dunia karena terlalu lelah, sakit dan lapar. Mayatnya dilempar ke sebuah pemakaman umum Bergen-Belsen. Ia mati dalam usia belasan tahun tanpa sempat tahu bahwa beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, diarinya ditemukan oleh petugas berceceran di lantai Secret Annex yang akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah yang dipublikasikan di seluruh dunia.

Nah, dari kisah di atas, setidaknya kita dapat memetik pelajaran penting bahwa menulis adalah sebuah cara untuk mendokumentasikan segala pikiran, pengalaman dan imajinasi kita ke dalam bentuk tulisan.

Untuk melengkapi jawaban ini, saya semakin teringat penggalan-penggalan bagus dari diari Anne, “Saat aku menulis, aku dapat meluruhkan seluruh deritaku. Ketakutanku lenyap, gairah hidupku bangkit kembali—aku berharap, semoga bisa, oh, aku sangat berharap, hanya dengan menulis aku dapat merekam segalanya, seluruh pikiran, ide fantasi maupun segenap imajinasiku..

Pada awalnya, si Anne tidak berpikir kalau buku diarinya akan dipublikasikan secara luas. Ia menulis untuk dibaca sendiri dan berdasarkan motivasi seperti yang diuraikannya di atas. Dan sebetulnya, dipelajari atau tidak, menulis itu tetap mengiringi hidup kita sehari-hari karena memang sudah menjadi kebutuhan. Baik untuk kepentingan seperti mengerjakan tugas sekolah maupun untuk keperluan yang lebih bersifat privasi seperti menulis surat cinta, sms atau menulis curahan hati di buku diari.

Sekian.

***

Membaca “Mengolah Cerita” di atas, sesungguhnya merupakan rangsangan saya atas pembacaan terhadap seorang cerpenis di bawah ini.

Aku Siapa???

Karya: Dewa Made Suyadna

 

“Lihat ini adalah salah mereka orang-orang tak bertanggung jawab, mereka memerangi orang-orang yang tak bersalah…”. itulah kalimat yang selalu kudengar dari orang berpenampilan rapi yang mempresentasikan hal yang aku rasa intinya sama. Entah sudah berapa kali aku dengar dan aku pun tak tahu kenapa aku tak bosan-bosan mendengarkannya sampai-sampai aku tak ingat apa pun selain kata-kata itu. Continue reading ‘Mengolah Cerita’


Dokumentasi

Ruang ini sekadar meruangdokumentasikan yang saya dedikasikan buat anak saya bernama Biru serta pembaca sekalian-di penjuru dunia. karena berbagai keterbatasan, arsip tersusun secara acak. Maaf atas segala kekurangan. Terima kasih atas kunjungan Anda.

 

Juni 2011
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya.

Blog Stats

  • 1,892 hits

sepuisi dalam buku

Antologi puisi


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.