Sajak-sajak F. Moses

Kisah Semalam

setiap malam meyaksikan matahari pagi dari sebalik punggungmu

berharap kau bilang: selamat pagi kekasih, akulah pagimu

kamulah pagiku, katamu menambah

pagi dari malam berkabut semalaman kita tersesat dalam tragedi

tragedi kebekuan kebersamaan kita senyata payah.

Kecuali sengal napasmu, memacu derak ranjang yang jauh aku kuasai. Berakhir kau menguasaiku, terlebih ranjang ini

selalu kembali kita membakarnya selepas malam bersahutan; dari matahari pagi sebalik punggunggu. Bukan sekadar kembali menghangatkan, melainkan panas tubuhku yang ini kali mampu membakar tubuhmu.

aku hangus, katamu.

Gg Manyar-Telukbetung, Februari 2010

Yang Terjadi

begini jadinya;

kita tak pernah sama

di istana keabadian

berperabot angin, daun, dan pot berakar tanpa pernah menyiraminya

seperti daun berjatuhan tertangkup dengan bibir

seperti lembab pagi jauh bersentuh matahari

seperti tangis bayi pagi hari kehabisan air susu

dari perjalanan terakhir seorang yang selesai menjadi ibu

terlebih seperti kering matamu memerhatikan langkah ini

seolah takkan kembali lagi

dari benak musim yang selalu enggan kita beri nama

;dalam kesetiaan kita bersandiwara di dunia entah ini

Telukbetung-Jakarta, 2010

Depan Gereja Tanjungkarang

mendung menggantung

berdedas hujan tiada henti

bunyi serupa detak kerinduan kita

mengemas cinta

merangkum tanya

mendesah pasrah

betapa puluhan tahun jauh dari sua

kita berkarat lantaran larat

seperti kapal enggan sauh

dalam kota menua dan menahun

kita senantiasa mencari persamaan

:tentang siapa lebih tua dari tubuh dan tembok-tembok itu.

Hening. Bening. Tertampar tanya. Lonceng menggema duabelas kali.

Kau pun tersenyum.

2010, Tanjungkarang

Dari Sebutir Debu

“mataku kerasukan debu,” katamu setelah perjalanan jauh

aku seka matamu. Aku seka keringat di lehermu. Aku tiup matamu.

Dari perjalanan jauh ini

perjalanan kita memang selau dipenuhi berahi.

Berahi api selalu membakar ranjang kita semalaman. Tiada henti. Tiada percuma.

Berahi selalu mengantar api menjadikannya abu, sela penyair tua itu. kata-katanya masih membekas dalam ingatanku.

Sekali waktu, aku melihatmu tak berdaya. Dicumbu berpeluk debu yang sedemikian sengat. Aku hangus dipeluk debu, katamu tadi pagi.

Kau tinggal rangka.

Kecuali kata-katamu, senantiasa kuziarahi di dalam tubuhku.

2010

Wajah Baru di Tahun Baru

“mari kita buka,” katamu.

Berpuluh tahun kita menutupnya.

Kita memang sekumpulan pemalas yang suka jarang membuka. Kecuali mengganda dan gemar melipatgandakannya. Di antara penyihir kita mengelabuinya.

Ah, sebentar lagi tahun baru. Aku ingin buka yang selalu setia menutup wajah ini; topeng

2010

Sumber: Lampung Post, 6 Maret 2010

0 Tanggapan ke “Sajak-sajak F. Moses”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Dokumentasi

Ruang ini sekadar meruangdokumentasikan yang saya dedikasikan buat anak saya bernama Biru serta pembaca sekalian-di penjuru dunia. karena berbagai keterbatasan, arsip tersusun secara acak. Maaf atas segala kekurangan. Terima kasih atas kunjungan Anda.

 

Maret 2011
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya.

Blog Stats

  • 1,892 hits

sepuisi dalam buku

Antologi puisi


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.