Pembaca terhormat, berikut puisi milik Wiwik Indah Sari, pelajar SMK Utama Bandarlampung–beberapa puisi menarik saya apresiasikan. Semoga berkenan dan bermanfaat. Salam literer.
Malam dan Penantianku
Malam
jangan terus kau lakukan ini
menyiksaku dalam sepi tiada terkira
rindu telah memasungku disekian jarak waktu
hampa hampa hampa rasa ini
Merasakah kau cintaku
tentang malam yang dingin dan semakin mendingin
tentang cinta dan janji yang akan tertagih
juga impian kecil dengan janur menguning
biarlah aku di sini menantimu
dengan angin malam dan lagu rinduku
biarlah aku menantimu dengan segenap cintaku
di antara malam dan rahasia kecil kita
Guru Pelajar
Aku akan belajar
kepada padi yang semakin lama semakin menunduk
kepada kuda yang mengangkat kaki saat menyusui
kepada laut sering memberi tetapi yang jarang menerima
Aku akan belajar
meski langit mendung kelam
meski sakit datang menghadang
tiada waktu tanpa belajar
Tidak adakah dari kita ingin pintar
hanya orang bodoh yang tidak belajar
sampai kita akan bertanya
benarkah demikian
karena dengan belajar kita bisa meraih mimpi
dengan belajar kita bisa mencipta dunia
oh, aku ingin menjadi pengajar
agar banyak orang menjadi pintar
Aku Bodoh Atau Dibodohi Cinta
Hariku bahagia tanpamu
Hariku juga berdua tanpa artimu di sisiku
aku hanya bisa bertanya bertanya dan bertanya
hanya menanti jawaban yang aku tahu tiada arti
Di satu sisi
aku bimbang, ragu, serta resah
kehadiranmu pastilah akan membuatku bisu seribu bahasa
akan permintaan nakalmu
yang aku rasa begitu menarik hati
Aku bahagia karena bisa membencinya
tetapi aku juga merasa bodoh karena bisa mencintainya
aku seperti bulan di langit kelam
bernyanyi dengan angin malam terselimut asa
aku masih terlalu bodoh untuk mengenal cinta
yang aku tahu
aku hanya butuh engkau untuk selamanya
Tak Secepat Yang Aku Kira
Kemarin kau hanya seorang gadis yang aku kenal
tetapi hari ini kamu seseorang bagiku
aku ingin kita melangkah dengan pasti
jika kau mau membuka pintu hatimu untuku
aku berjanji akan menjagamu
hingga aku tak bisa bernafas lagi
Dan sebelum aku berhasil menyakinimu
yakinilah dirimu sendiri
bahwa aku memang cukup pantas untuk mendampingimu
melewati putaran hidup yang singkat ini
karena aku sadar
bahwa hidup yang paling menyedihkan adalah
ketika kita hidup tanpa cinta
tak di cintai
atau mencintai siapapun
Taman Terindah
Aku berjalan di tengah taman
di bangku taman tak bertuan
sepasang remaja asyik bercanda
dengan saksi sang gugur daun
di tengah kolam
seorang gadis sedang menangis tanpa rintih
ternyata cintanya kandas
sedang tubuhnya berbadan dua
di bawah pohon yang meranggas
sepasang kekasuih asyik berciuman
sedangkan tangan si laki menggenggam erat
tangan sahabat gadis yang diciumnya
aahhh , inilah taman dengan lukisan terindah
tempat cinta datang dan pergi tanpa disadari
air mata wanita telah banyak mengajarkanku
tentang keindahan dan perihnya pengorbanan
aku terus berjalan di taman indah itu
sampai aku hanya menemukan daun gugur yang puas menjadi saksi
pada langit yang kelam aku berbisik
aku bersyukur menjadi laki-laki
karena aku tak pernah menangis dan terluka
SHMILY
Banyak hal indah terputar oleh waktu
semua yang terlewati membuat hal indah itu terlupakan
banyak hal menyenangkan datang silih berganti
dan terlalu banyak pula yang terabaikan
ketika aku melihatmu bahagia di luar sana
ada harapan kecil untuk memutar waktu
aqu jujur tak sanggup menelan kenyataan ini
ketika aku memintamu untuk lebih jujur
merasakan isi hati yang terdalam
kau akan menemukan bahwa aku yang terbaik
dari semua kebahagiaanmu
tetapi jka aku bukan pilihan hatimu
aku berjanji bahwa aku akan baik-baik saja
biarlah aku simpan keping-keping
yang semakin lama hancur menjadi puing
selamat tinggal untukmu yang berbahagia
See How Much I Love You
Ulasan
Menyoal Puisi yang Tak Lebih dari Sekadar Percakapan
Saya membayangkan puisi itu ibarat bertemu seorang pengelana dari negeri jauh di sebuah kota paling terpencil. Saya tak mengenalnya, tapi ia malah jauh lebih mengenali saya. Bahkan dirinya seolah paham betul siapa saya, nah. Lantas saya pun memintanya untuk diceritakan mengapa pertemuan (ajaib buat saya) bisa terjadi.
Setelah perbincangan berlalu, ternyata saya juga masih belum mengerti, karena ia seperti menceritakan suatu hal tanpa menyentuh muasal, mengapa akhirnya bisa tahu bahkan mengenali saya—hingga entah mengapa akhirnya kami bisa saling berjumpa. Ia memang berbicara, namun tak berasa barang satu kalimat ditujukan. Kecuali untuk dirinya sendiri, begitu saya tangkap.
Dari kisah pertemuan singkat di atas, saya sekadar menyentuh ingatan sebagai ”pembaca bersama” saja, bahwa membaca puisi mungkin tak jauh berbeda dari dunia interaksi keseharian untuk saling mengenal. Tak soal entah kedalaman pengenalan maupun selintas pada tubuh puisi itu sendiri yang tak jauh dari pemahaman daripada intinya. Sehingga maksud puisi tak lagi dikenal sebagai wacana puitika belaka, tapi menjadi hidangan sebentuk komunikasi yang indah, anggun, tenang, terbuka, dan wajar.
Dalam pembahasan ini, membaca enam puisi milik Wiwik Indah Sari, kalau boleh saya pertanyakan kembali, apakah yang diciptakannya itu sudah menjadi puisi? Atau hanya sekadar catatan yang berkosmetika metrum, beberapa majas, dan tetek bengek kebelakaan agar disebut puisi? Saya rasa tak perlu dijawab. Karena setidaknya, ”tujuan berpuisi” sudah dilakukannya. Tinggal menjadi puisi yang bagaimana, dan apa kata pembacanya
Berikut catatan sederhana—bagi saya cukup penting, dalam sepemahaman sebagai pembaca puisi.
Dalam puisi ”Malam dan Penantianku”, pada bait pertama larik keempat, hampa hampa hampa rasa ini, menurut saya hanyalah ”kosmetika aksentuasi (tekanan makna)” yang tak perlu, terasa berlebihan. Usaha—yang mungkin maksud dari penulis untuk menekankan makna, justru dapat mengakibatkan makna puisi kian tak ”berserat”. Kemudian pada bait kedua larik kedua, tentang malam yang dingin semakin dingin, yang sepertinya penulis maktubkan menjadi persamaan bunyi yang indah dapat menjadi rusak. Karena dingin adalah puncak dari sebuah peristiwa suasana. Lantas, apakah yang lebih dingin dari dingin? Mungkin akan lebih mudah (andai saja) buat saya menangkapnya bila demikian, tentang malam yang dingin membawa(ku) pada sebuah kebekuan, misalnya.
Hal sederhana (mungkin berkesan sepele) tapi cukup penting, sikap ”kerawanan” penulis yang senantiasa menjelaskan sejelas-jelasnya, yakni dalam puisi ”Aku Bodoh Atau dibodohi Cinta”, di antaranya pada bait pertama larik ketiga, Aku hanya bisa bertanya bertanya dan bertanya, lagi-lagi seperti pemaksaan repetisi, pentingkah? Mungkin ada yang bilang, ”Ah, kan, bebas dan sah saja dalam puisi!”. Satu catatan: ya, boleh, tapi yakin dan beranggaplah, bahwa pembaca anda adalah pembaca yang ”pintar”. Saya kira, itu sudah menjadi kelaziman dalam dunia literer. Kemudian, kelogisan frase pada bait kedua larik ketiga, kehadiranmu pastilah akan membuatku bisu seribu bahasa, membuat saya menjadi sedemikian sulit menangkap frase bisu seribu bahasa. Bagaimana mungkin sebuah kebisuan menjadi seribu bahasa?
Syahdan, pada puisi SHIMILY, penalaran saya (sebagai pembaca) menjadi terganggu, pada bait keempat larik ketiga dan keempat, biarlah aku simpan keping-keping// yang semakin lama hancur menjadi puing, kembali membuat saya kesulitan menangkap sesuatu yang sudah menjadi kepingan dan akan hancur menjadi puing. Apa bedanya ”tujuan” antara puing dan keping? Hal itu dapat mengakibatkan puisi yang baik menjadi gagal karena terjadi kecacatan berfrase.
Kembali menjadi catatan: penulis juga mesti cermat dalam pemilihan kata (diksi). Bersyukurlah, kita punya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dapat dijadikan acuan. Sekaligus dapat memaksimalkan pengayaan diksi, hingga lebih memaksimalkan penggunaan bahasa Indonesia dan tak terbentur pada gagah-gagahan belaka: See How Much I Love You. Sah saja, namun tak mesti.
Demikian catatan dari saya, mengingat betapa puisi tak jauh berbeda laiknya kita berstrategi dalam berkomunikasi dengan pembacanya. Dialog imajiner yang sarat kerendahan hati. Yang meresap menjadi lelaku bahasa sehari-hari. Andai jika memang mampu demikian.
Saya jadi teringat Mandelstam, penyair sastra modern dari Rusia pada awal abad 19, tentang pentingnya bahasa yang jernih dan sederhana dalam puisi—yang oleh Hasif Amini diserukan: ”Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari bening kata yang disuling dari dunia sehari-hari”. Syabas.


0 Tanggapan ke “Menyoal Puisi yang Tak Lebih dari Sekadar Percakapan”