dari Litani ke Soliter

Pembaca terkasih, berikut puisi -puisi karya F. Moses yang dimuat Lampung Post Minggu, 4 Desember 2011. Semoga berkenan.

Litani Kata

Aku percaya pada satu kata

Frase dan klausa berkuasa

Mencipta langit puisi

Dan akan satu anak kalimat

Judulnya tunggal milik semua

Dikandung dari roh paragraf

Dilahirkan penyair perawan

Yang menderita sengsara

Dalam pemerintahan pembaca tak bernama

Kata wafat dan dimakamkan

Turun ke tempat penantian

Pada hari ketiga bangkit di tubuh pembacanya

Naik ke taman makna

Duduk di sebelah frase dan klausa

Dari situ kata akan datang

Mengadili kalimat yang hidup dan yang mati

Aku percaya akan roh puisi

Kata-katanya tak pelik namun puitis

Persekutuan para penyair puitis

Pengampunan bagi penyempitan makna

Kebangkitan bagi kata yang hilang

Kehidupan kata dalam puisi

Semoga senantiasa menjagamu dari racun waktu

Amin.

Telukbetung, Mei 2011

Makan Malam

Sepiring kita berdua

dua setengah centong nasi sepi

sepotong daging malam

beberapa lauk sisa keramaian

tangan adalah sendok

kaki adalah garpu

sungguh indah makan berdua denganmu

kalau haus tinggal minum air matamu

kau haus juga minum air mataku

kenyang langsung kita tidur

bernyanyi bersama dalam dengkur

kalau kau pusing tinggal masuk mimpiku

kalau aku pusing juga tinggal masuk mimpimu

“Mudah, kan,” kataku

“Kenapa juga makan malam mesti dibikin susah,” katamu

jadi silakan mari makan malam bersama kami

dijamin kenyang seumur jagung

Telukbetung, April—Mei 2011-05-31

Petik Bunga di Taman Rumahmu

jalan-jalan di ranum pipi

buka baju segala lagak mandi hujan

tergelincir di licin leher

tak kuasa terlalu saru mendaki bukit, aku malu

lebih mulia berpintas motong jalan di tengahnya

sasar jalan ke bawah makin malu

petik bunga malam-malam

malah digampar kedua orang tuamu

terancam dibunuh rakyat sekampung

“Ini Timur, Bung,” kata mereka

Telukbetung-Yogyakarta, Mei 2011

Sekolah Malam

“Aku ingin kembali sekolah, Yah,” kata sang anak memelas.

“Kepada siapa? sudah tak mampu membiayaimu, macam-macam toh, tak ada lagi tempat buat orang susah macam kita.”

–”Kepada bulan dan bintang aku belajar, Yah.”

Memang lebih mudah baginya sekolah saat malam, tatkala orang-orang pada merem dan diam; tak ada jeweran apalagi dikte.

Ia melangkah bersama ransel biru berisi dua lembar kertas satu pensil.

Mencatat tujuh bintang dan satu bulan, jauh lebih indah dari kimia fisika, apalagi moral, katanya membatin.

Telukbetung, Juni 2011-06-15

Soliter Gerimis

Di teras rumah, kita pernah bak sepasang gerimis; tak pernah ragu menikam tubuh

Memang terlalu mulia bila bumi tubuhmu adalah pepohonan rindang terlalu bersih

Kau tatap mataku

Aku kembali balas ke matamu. Begitu seterusnya

masihkah perjumpaan ini seperti gerimis paling dingin membatu. Tanpa pernah menyelusup tanah ceruk tubuhmu. Lekuk lengan lekuk pinggul juga paling ngarai tubuhmu.

Sayang kita terlalu bak sepasang gerimis; selalu bersama untuk menyelusup celah-celah kenangan kering. Tanpa pernah menggenang untuk kembali mengenang dari teras rumah masing-masing ingatan yang terlalu gampang melekang.

Kau pilih kemarau

Aku memilih hujan. Begitu seterusnya

Kita memang tak pernah sama. Kecuali dalam dusta

Beranikah kau jujur bak penyair? Setia bermalam menetak kata menjadi sekeping dua keping makna?

Sayang, kau lebih memilih arti ketimbang makna

Sayang, kau lebih mengenal pengartian ketimbang pemaknaan

Terlanjur gawat; kita sama lebih memilih berarti daripada memaknakan arti

Dasar kita gerimis, katamu. Dekat di mata tanpa sesap di hati.

Begitulah kemarin, kita bak sepasang gerimis, kau masih ingat?

Telukbetung, Oktober 2011

 


Bus Tak Masuk ‘Bus Lane’

Pembaca terkasih, berikut tulisan menyoal bahasa, Sebuah tangkapan “kerumpangan kebahagiaan”–yang seharusnya ada paling mesti kita banggakan (Bahasa Indonesia), namun hirap oleh pengaksentuasi yang sepertinya tengah merayakan euforia. Mungkin, ya. Semoga berkenan.

Oleh F. Moses

Saya rasa, menyoal istilah asing tak akan pernah khatam di negeri ini. Pemekaran seperti ranking atau pemeringkatan, take off (lepas landas), random (acak), layout (letak), supermarket (pasar swalayan), briefing (taklimat), snack (kudapan), dan seterusnya. Tentunya masih banyak lagi. Apalagi serapan seperti effect menjadi efek, cartoon (kartun), vacuum (vakum), phase (fase), rhetoric (retorika).

Saya rasa kata-kata itu lebih arif digunakan ketimbang memaksakan kata-kata asing tersebut dalam bahasa keseharian. Ironisnya, percampuran kedua bahasa (istilah: indoglish) terpampang di etalase megah fasilitas umum, seperti The Plaza…, … Laundry and Dry Cleaning, … Tailor, … Haircut, dan istilah lainnya.

Syahdan, dari permasalahan tersebut, ada cerita kecil tentang rekan saya bernama Sun’an di Jakarta, tepatnya di sebuah perusahaan seluler terbesar di bilangan Jakarta Pusat.

Betapa pusing tujuh keliling dirasanya: kata-kata asing berserakan dalam jarak pandangnya, ia pun limbung. Bukan lantaran tak mengerti kata-kata tersebut, melainkan sebuah pertanyaan atas identitas diri di negeri tercinta ini.

Ia seperti memasuki negeri asing bak bukan negerinya sendiri. Kira-kira beginilah ceritanya.

Tatkala lepas terik siang, masuklah ia ke perusahaan tersebut: semula kepanasan, tapi seketika luluh lantaran pendingin ruangan mampu meredakannya dari gerah.

Namun apa daya, disuruh menunggu justru membuatnya makin kecewa lantaran rentetan kata-kata asing terpampang dari pojok pandangannya, bak anak panah terlepas dari busur menghunjam hati kecilnya. “Rasanya kayak di luar negeri saja, kayak bukan tinggal di Indonesia,” katanya membatin.

Kata-kata asing seperti memaksanya mengakrabi menjadi panorama yang memilukan. Mau ikut mengucapkan pun menjadi kelu. Sekali lagi, bukan karena tak mengerti arti seperti meeting room atau ruang pertemuan, cashier (kasir), exit (keluar), gallery (galeri), reception (penerimaan), reserved (pemesanan), fire extinguisher (pemadam api),  customer care (layanan pelanggan), counter (juru hitung), melainkan membuat dirinya gamang. Yang tak lain sekadar bikin panorama sensual berbahasa belaka.

Lantas ia bertanya kepada satu dari karyawan tersebut, dijawabnya pula dengan alasan tak mengerti maksud dan tujuannya. Padahal sepele: karena sesungguhnya pasar seluler ini ditujukan ke masyarakat yang mana? Barangkali itu baru contoh sekuku.

Dari pengalaman teman saya tersebut, (mungkin) juga acap dialami beberapa masyarakat dalam sadar atau sebaliknya. Tak bermaksud menapis euforia nasionalis, marilah kita meresapi kembali Hari Sumpah Pemuda beberapa hari lalu. Sebab, betapa memalukan atas nama global tapi bertingkah bahasa keinggris-inggrisan.

Satu lagi, suatu ketika dari arah Merak menju Jakarta saat melintas di Kota Tangerang, bus yang saya tumpangi malah menghindar dari ruas bus lane. Ah, andai saja bertuliskan “khusus bus”, tentu tak menyasar ke jalur umum yang kebetulan sedang macet. Saya tak tahu, lantaran si sopir tak mengindahkan aturan atau karena sesuatu yang enggan dipahaminya. Itu baru bus lane, belum lainnya. Saya percaya Anda lebih melihat kelainan-kelainan tersebut.

Sumber: Lampung Post, 30 November 2011


Catatan Terakhir

Pembaca terkasih, berikut cerpen “Catatan Terakhir” saya di Majalah Story edisi 25, 25 Agustus 2011 – 24 September 2011. Semoga berkenan.

Catatan Terakhir

Memorabilia kita, suka dan duka berkemeriapan tak pernah lelap, katamu berbisik malu kepadaku. Kala itu hujan rintik-rintik, seperti malu membasahi bumi. Tentu kamu ingat, berpapasan musim hujan itu tiba, selalu terpikir bahwa inilah kesempatan mencuri perhatianmu. Aku selalu teringat kala itu.

Senin, Novermber, kamu tak membawa payung, tapi kurelakan tas ransel sepeninggalan almarhum bapak, delapan tahun silam, untuk memayungimu—sembari sesekali kita berhenti menunggu hujan reda. Pada pemberhentian itu, di ujung gang sebelah jalan raya, dengan jumawanya kusiapkan beberapa kata dari perasaan paling tergesa-gesa. Rambutmu basah, kemejamu melepek, tapi matamu kian bening sebening air hujan dalam terpaan cahaya sore saat itu. Juga basah bibir tipismu makin membuatku salah tingkah. Gugup, jantung berdetak tak terkira begitu cepat. Seperti tabuh genderang suku Indian menyongsong peperangan. Dalam gemetar dan gugup, tak terlepas juga kalimat yang kusiapkan buatmu dalam semalaman suntuk kemarin. Mungkin terlalu lama kamu menunggu pengutaraanku, lantas membuatmu bergegas menaiki bus untuk pulang. Aku gagal, jeritku membatin.

Selasa, Desember, pada selembar kertas aku bikin puisi, hanya untuk dirimu. Tergesa-gesa dengan jemari tak tertahankan menuliskannya. Bagiku lebih jujur ketimbang aku bilang langsung padamu, bukan? Itu sebab pula mengapa ini kali lebih memilih bikin puisi. Semata berpuisi lebih mampu berisyarat. Bukankah puisi jauh lebih bermakna ketimbang kalimat lisan terlesat bak kilat sekali pun?

Pada malam itu, hanya selembar kuanggap berhasil. O, betapa sulit, seperti melarung samudera dalam terpaan cahaya cakrawala hitam pekat. Selain mencermati kata per kata, paling sulit saat mengunggah rasa dari kata paling tepat ke dalam puisi untukmu itu. Paling menggembirakannya, tatkala menyusurinya dalam kubangan kamus besar bahasa kita.

Setelah kuyakin sepuisi paling anggun, paling manis, dan paling berenergi, percaya diriku selalu berharap membawa kita kembali bertemu. Aku lega, tenang, jauh dari bimbang apalagi gamang. Kelegaan emosional jelang tidur malam ini. Aku terlelap. Kemudian mimpi bertemu denganmu.

Rabu, Januari, lewat SMS, kamu bilang kalau ibumu begitu marah kepadaku. Ia memilih menjemputmu dari  kuliah dengan mobilnya, agar kamu tak melulu dibuntuti oleh lelaki yang tak pernah bosan mengejarmu. Kamu sempat dibilang pembangkang, kerap berbohong kalau—sepulang berkuliah—ada saja kegiatan penting yang sekiranya tak ingin diganggu. Aku sangat membutuhkan privasi yang benar-benar tak bisa diganggu, katamu selalu kepada ibumu. Ada saja alasan kau membohonginya.

Kamis, Februari, adalah paling membahagiakanku, kamu menuruti permintaanku dari pesan yang terkirim sebelum mata kuliah itu berlangsung. Aku pun bergegas mencari tempat paling nyaman untuk kita makan bersama nanti. Meski tetap menyesuaikan isi dompet, tak soal, terpenting bisa mengajakmu. Aku menunggumu berteman buku, tak lama berselang, kau bergegas dari ruangan itu menuju arahku. Kita bercakap sebentar untuk kemudian pergi makan siang.

Di warung makan itu, betapa bersyukur karena berhasil mengajakmu. Ya, sekadar bisa bersitatap denganmu. Aku sekadar minum es teh manis, sementara kau menyantap makanan yang aku pesankan, soto mie. Aku asyik menatapmu sambil mengisap rokok kretek. Betapa bahagianya pula, ini kali tak ada hujan. Matahari begitu terik. Kau yang begitu menyukai pedas makin membuat buliran keringat di lehermu mengalir. Satu per satu tetesan itu, aku memperhatikannya sambil tersenyum. Kau makin cantik saat berkeringat, seperti perempuan yang acap bersetia menyimpan rahasia, kataku kembali membatin. Aku mengutarakan perasaanku, sekali lagi dari perasaan tergesa-gesa, ah, akhirnya kau pun menerimaku.

”Ya, ternyata aku juga cinta mati padamu,” katamu.

Jumat, Maret, kau menangis padaku. Kau seperti menyembunyikan perasaanmu. Ada sesuatu yang tak perlu kau tahu, katamu. Dan sejak pertemuan itu kau menghilang dariku. Ah, di mana kamu sekarang?

***

Setelah bulan Maret pada tahun itu, seorang ibu hampir gila memikirkan anak gadisnya. Ia tak pernah tahu di mana keberadaan si anak. Kesehariannya dilanda kekalutan. Seperti iring-iringan gemawan gelap menggantung di kepalanya menyerbu. Ia menjadi tak ingat segalanya, kecuali selalu mencari anak perawan satu-satunya itu. Disambangi kampusnya, teman-teman dekatnya, saudara-saudaranya maupun handai-taulannya, kecuali aku. Pada hari-hari yang menjadikannya berminggu-minggu menemui bulan akan mengantarkannya menjadi setahun, setahun yang selalu melipat harapannya, berharap kembali menemukan sang anak dari cengkeraman buruk bayangannya. Ini pernyataannya paling terakhir: aku dituduh menyembunyikannya.

Aku memang menyembunyikan, tapi bukan raga, melainkan hatinya. Aku tersenyum.

***

April-Agustus, sepanjang bulan itulah aku menunggu kabarmu selain mencari, dari keyakinan yang tak pernah pudar semoga mampu mengantarkanmu kepadaku. Aku tak tahu, mungkin dirimu sudah berjumpa dengan ibu yang sedemikian mencintaimu, juga sekaligus sedemikian membenciku. Andai saja ia bertanya padaku di mana keberadaanmu, pasti kubilang kalau dirimu sedang terlelap dalam hati kecilku, seperti aku bilang tadi. Adakah benar begitu? Ah, mana mungkin, kataku tertawa, semata menghibur diri. Seperti harap-cemas milik penyair saja.

Dan siang ini mereka berkabar bahwa sia-sia saja menunggu, untukku mendapat kabar darimu, apalagi dapat kembali bertemu. Kedua orang tuanya sudah membawanya pulang ke kampung halaman. Untuk selamanya. Untuk usahanya mengajarkanmu tentang kepolosan hidup bertradisi di ranah nenek moyang. Namun, aku yakin, seribu harapku akan membawa kita untuk kembali bertemu. Jika demikianlah keberadaanmu

Berapa lama membuatku menunggumu, aku tak pernah tahu. Kampung halaman kita yang berjarak, semoga mampu memulihkan pertemuan kita.

September, tak ada kegamangan dari laut yang senantiasa menyatu oleh ketegangan arah laut lepas bersamudera tak berhingganya. Tak terhitung semilir angin seperti merapal daratan. Aku menantimu meski lewat mimpi sekalipun. Tak kunjung angin berkabar firasat tentangmu, untuk meresap ke seluruh tubuh dan pikiranku. Kecuali ingatan ini, seperti letusan gunung berapi yang tak akan pernah terketahui. Aku mengingatmu, terlanda oleh kenangan, dari laut yang selalu tertampak anak gunung berapi keabu-abuan dalam kejauhannya.

Adakah kita kembali bertemu? Untukku berkesempatan menyucikan sebuah pertemuan agar seorang ibu yang pernah melahirkanmu menjadi berterima? Sebelum laut menenggelamkan sedalam-dalamnya harapanku. Dan sebelum tanah memendamkan mimpi-mimpimu. Aku tak ingin perasaan ini menjadi sia-sia terbunuh.

Oktober, o ya, surat yang kamu kirim baru aku terima tadi pagi. Dan aku pun semakin tahu, beberapa bulan sudah kamu tinggal bersama kedua orang tuamu di tanah papua. Aku jadi teringat, kamu pernah menangis saat bercerita kepadaku, tentang proyek pekerjaan ayahmu di wilayah perbukitan-perbukitan daerah Papua. Proyek pembalakan hutan-hutan liar.

Kamulah perempuan hitam manis dari tanah mutiara yang sering mereka sebut-sebut. Mereka bilang sia-sia belaka aku menunggumu. Karena semesta yang tak pernah berdendam, tapi para saudara kita telah menjadikan mimpi itu berkeping-keping. Di tengah tidur lelapmu, sebelum kabut memendar diterpa mentari pagi, aku mendengar perbukitan itu meniduri tempat tinggalmu. Aku masih tak tahu, bagaimana denganmu?

Adelia, kamu masih dan selalu mutiara hitam bagiku. Untuk kamu tahu saja, dari getaran catatan terakhir yang mustahil kau baca apalagi terdengar ini, semalam aku kembali memimpikanmu, mimpi kita; kita menikah kemudian berpesta di antara awan-gemawan. Wajahmu yang hitam manis, berkilau putih bersih. Kau tersenyum padaku, sebelum kau menangis dalam pelukanku.

Adelia, semoga itu bukan pertanda.

Telukbetung-Jakarta, Agustus-Oktober 2010

 



Kolam

(Terima kasih saya kepada Benedita–seorang vokalis dari sebuah band di Yogyakarta bernama Airport Radio. Terus terang, catatannya–seperti pernah saya bilang kepadanya–membuat saya tertarik untuk menjadikannya penceritaan. Meski masih jauh menjadi cerita yang keren!)

oleh F Moses

CERITA 74 halaman baru saja selesai dibaca, lalu perempuan itu bergegas dari kursi santai di pinggir kolam renang. Mengenakan pakaian renang bermotif dark chocholate doty, perempuan bertubuh ramping itu melesat ke dalam kolam. Terlihat begitu mahir dan tak mengesankan laiknya perenang biasa, dalam jarak pandang dari sudut kafe itu.

Mendung tampak menggantung di kota itu. Semilir angin menggetarkan rerimbunan aneka bunga di taman sekitar area kolam, di antara jejeran kursi santai dan meja-meja kecil yang terlihat begitu kaku dan sepi, tiada lagi orang-orang untuk kembali berenang saat sore tak bersenja ini, mungkin lantaran sebentar lagi hujan, pikir lelaki itu. Kecuali bersama dirinya di pertemuan kali pertama ini, berawal dari janjian, sore hari di kolam renang hotel lumayan berkelas.

Lelaki itu seperti membelai kerinduan darinya dalam pertemuan ini. Kerinduan tak tertahankan. Dalam pikirannya tak tahu, apakah sebenarnya perempuan itu juga demikian. Lelaki itu tak ambil pusing.

***

Tak lama berselang, lelaki itu menyaksikannya berenang, tiba wajahnya yang manis menyembul di atas permukaan kolam. Disibak rambutnya yang basah tergerai menghalangi jarak pandang, ia menatap tajam lelaki itu, mengerdipkan kedua bola matanya yang bening, lelaki itu diam saja. Segera lelaki itu tahu, setelah mengenakan kimono handuk, perempuan itu bergegas menghampirinya, langsung diseruputnya segelas jus jambu merah.

Mereka saling terdiam beberapa saat. Hening. Terasa angin kembali mengirimkan semilir dari rerimbunan pohon.

“Jadi kau menginap di mana?” kata lelaki itu.

Sebatang rokok dihisapnya, dimainkannya di antara celah jemari. Perempuan itu tampak berkali-kali mengitari handuk mini merah marun pada permukaan wajahnya hingga sudut-sudut telinga, lehernya yang agak jenjang, serta lengan putihnya yang mulus. Dan wajah manisnya, yang sedari tadi menunduk, didongaknya pelan ke arah lelaki itu. Mereka saling bersitatap. Tiada kekosongan di antara keduanya.

“Aku menginap di hotel ini, butuh seminggu untuk mengurus berkas di Kantor Imigrasi besok. Kuharap kau mau menemaniku lagi. Cukup kau tunggu di tempat ini lagi maka aku segera menyusul. Ah, aku rindu kita ngobrol berduaan seperti masa lalu,” kata perempuan itu dalam ketenangan yang seperti mengemas kenangan dari waktu sekian lama yang barangkali diremasnya.

“Terus aku….”

“Ya kau pulang, masak mau bermalam juga, kecuali kalau mau ikutan berenang,” tukasnya semringah dipaksakan.

Mereka kembali sama-sama terdiam. Lelaki itu disergap ingatan masa kisah-kasih yang lama menjadi kenangan.

Selang beberapa menit, perempuan itu kembali mengatakan, “Juli ini kesempatan terakhirku untuk mengatakan kepada Platini, apakah aku diberikan hak untuk tidak ingin memiliki anak dulu.”

***

Hari kedua, gerimis dan macetnya arus lalu-lintas di kota itu tak mematahkan semangat lelaki itu untuk menemuinya kembali. Dari kantornya menuju hotel, seperti kemarin, lelaki itu langsung menuju tempat dari yang pernah dijanjikannya. Suasana di sekitar kolam masih tak seorang pun, kecuali perempuan itu yang tengah berenang.

Dalam jarak pandang, kesekian-kalinya lelaki itu memerhatikannya; bersandar, menyalakan rokok, menunggu teh manis hangat yang baru dipesan, sembari bersedekap kemudian menarik napas panjang, ingin menyambanginya untuk ikutan berenang, namun memalukan buat lelaki itu lantaran tak bisa.

Seketika sang perempuan melihat lelaki itu tersenyum. Senyumnya seperti masih menggetarkan masa lalu di antara mereka. Seperti melempar kenangan yang sekian lama dikemas dan diremasnya.

Kemudian perempuan itu bergegas menghampirinya. Seulas senyumnya menggoda, duduk di sebelahnya sambil memesan segelas minuman.

“Aku menunggumu sejak sore,” katanya.

Sambil menyalakan sebatang rokok, kembali dikatakannya, “Ternyata semua berkas di Kantor Imigrasi sudah beres, tiket untuk besok siang juga sudah kupesan. Tinggal mengambilnya di agen perjalanan. O, ya, terima kasih sudah kembali datang.”

Perempuan itu kembali memalingkan wajahnya ke arah kolam.

Sambil mengisap sebatang rokok, mengembuskannya ke mana angin sesuka hati membawa, lelaki itu menyentuh lengannya. Seperti masa lalu di dalam bioskop tatkala adegan menakutkan menyergap. Di mana sehari sebelum mereka saling memutuskan hubungan kisah-kasih yang hancur lantaran berbeda keyakinan. Kenang sang lelaki.

“Kau yakin atas keputusanmu itu?”

“Ya, seyakin-yakinnya.”

“Dari prinsipmu itu?”

“Ya, seprinsip-prinsipnya.”

Lelaki itu tertegun, perempuan itu pun tak menjawab. Mereka terdiam beberapa saat. Sambil menyeruput teh hangat, kembali lelaki itu berucap.

“Kau kan sudah menikah, sekurang-kurangnya, dalam ikatan berarti siap bagi anak-anakmu kelak.”

Perempuan itu terdiam. Tampak sibuk mengemas kalimat-kalimat berikutnya.

“Ya, pernikahan memang tak lain adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita, sebagai suami-istri. Bertujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal, selamanya.”

“Ya, itulah pernikahan, megah kan? Nah, itu kau tahu.”

“Ya, betapa megah dan dijunjung tingginya sebuah pernikahan yang diselenggarakan secara seremonial, keagamaan, dan adat. Dan dampaknya, tinggi pula riuhnya resepsi pernikahan yang dihadiri ratusan atau ribuan orang yang secara tak langsung mengumumkan legitimasi atas pasangan.”

Waktu menunjuk pukul 21.10.

“Senyatanya, sungguh indah memang, jika sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera-kekal selamanya itu memang terlahir dari sebuah pernikahan—yang sudah dirayakan secara adat maupun diumumkan dalam resepsi besar. Aku hanya berfokus kepada hasil. Sebab, bagiku esensi dan hasil akhir lebih penting ketimbang kertas yang tertanda tangan dalam upacara adat maupun keagamaan nantinya.”

“Nah, itu kau seperti sudah memiliki tujuan,” kata lelaki itu jumawa.

“Ya, aku memang memiliki tujuan dan keinginan untuk hidup berpasangan, tapi aku juga menganut paham banyak cara untuk menuju jalan, bahwa tujuan ini tidak dicapai hanya dengan satu jalan, pernikahan. Di mana berkas untuk mencatatkan diri ke pemerintahan mesti ditandatangi, atas nama kemudahan akses untuk berpasangan. Namun, aku memilih membentuk keluarga dengan cara yang lain, dengan bentuk pernikahan yang lain….”

“Maksudmu?” tukas lelaki itu.

“Tanpa seremoni, tanpa resepsi, tanpa ritual agama, dan tanpa perayaan besar-besaran dengan ratusan hadirin. Buktinya, kami dapat menjalani komitmen dan tanggung-jawab sebagai pasangan yang bahagia sejahtera kekal selamanya.”

“Bersama calon anak-anakmu kelak, tentunya.”

“Tidak, aku memilih hidup tanpa anak,” ucap perempuan itu yakin.

“Kau sudah katakan kepadanya?”

“Karena itulah aku ke sana,” pungkasnya tenang.

Kemudian perempuan itu pun berdiri untuk bergegas menuju kolam. Air hangat yang ditujunya.
Tak terasa pukul 22.05. Dari jarak pandang sekitar 50-an meter, perempuan itu menatapnya. Kembali mengajak lelaki itu seperti memohon menyambanginya agar berdiri dari pinggir kolam.

“Berenanglah di sini sambil kita ngobrol,” pintanya.

Lelaki itu menggeleng, selanjutnya pamit untuk pulang.

“Tolong jangan pulang dulu. Berenang, kan, bisa tak harus di kolam ini,” katanya.

Setelah beberapa langkah memalingkannya, perasaan lelaki itu luluh, berakhir menemaninya di kolam itu hingga larut malam. Mereka mengobrol seperti biasanya.

***

Seminggu setelah kepergian perempuan itu ke Prancis, lelaki itu tak kunjung padam membaca pikiran perempuan itu. Karena belum lama lelaki itu memang sering mendengar: seorang istri yang ditinggal suaminya karena dianggap tak kunjung memberinya anak. Lelaki itu tak pernah tahu, “Siapa yang tolol kalau demikian,” katanya membatin. Juga seorang suami yang ditinggal oleh istrinya untuk kawin lagi, lantaran suaminya memilih untuk tak mau punya anak.
Lantas, bagaimana dengan mantan kekasih hati lelaki itu? Ah, lelaki itu masih belum memikirkannya terlalu dalam.

O ya, semoga kita berkenan tahu apa yang dikabarkannya. Sehari setelah seminggu lalu perempuan itu pergi, lelaki itu menerima pos-el dari perempuan itu—dari negeri jauh di sana. Betapa perempuan itu, rupanya, hanya mengucapkan rasa berterima kasih kepada suaminya yang sangat menghargai hak seksual dan reproduksinya—untuk memilih bentuk berpasangan yang nyaman bagi perempuan itu. Dan untuk memutuskan akan bereproduksi atau tidak. Perempuan seperti menikmati pernikahan yang memerdekakan.

Maaf, memang tidak ada resepsi. Mungkin itu sebab tak turut mengundangmu pada waktu itu. Begitulah perempuan itu mengakhiri isi suratnya.

Lelaki itu menarik napas panjang. Semakin tenggelam di dasar kedalaman kolam air mata kebahagiannya. Kebahagian perempuan itu yang tersisa hanyalah untuk dikenangnya.

Yogyakarta-Lampung, 2011

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Juli 2011


Mengolah Cerita

F. Moses

Sebab bukan hanya masakan yang mesti diolah, melainkan juga cerita—entah cerita pendek atau cerita panjang (roman, novel, dan sejenisnya—maaf saya membenturkannya dengan sebutan cerita panjang. Tak bermaksud mengistilahkan apalagi sekadar melegitimasikannya, ya). Karena cerita yang setidaknya menjurus ke “kebaikannya bercerita”, tentunya sadar dan paham betul untuk mengolahnya; entah bagaimana rasanya kelak: asam, asin, gurih, manis, pahit, kecut, dan berakhir enak atau tidak untuk disantap. Tak soal, terpenting tahu benar untuk memasaknya. Berujung olah sadar sang penulis itu sendiri untuk menerima dan berterima. Hmm, semoga bagian pengutaraan saya ini, secara umum dan khusus tak melamurkan penikmat sastra apalagi penulisnya.

Dalam kesempatan ini kali anggaplah saya sedang tak mengulas cerpen “Aku Siapa??” karya penulis Dewa Made Suyadna, tapi hanya racauan ringan kebersamaan kita sambil minum teh hangat atau kopi panas plus gorengan. Tentunya ditengarai pertukaran pikiran di antara kita yang senantiasa saling “bertukar getar” tatkala menyoal cerpen.

Mengolah cerpen, kalau boleh saya bilang lagi, memang tak lain dari masakan. Tinggal siapkan pena dan kertas (seperangkat mesin tik atau komputer atau laptop), kumpulan perbendaharaan kata dalam “laci pikiran”, serta penyedap rasa yang bukan instan dari rempah-rempah imajinasi. Selebihnya niat tulus untuk bilang, “Mari kita mengolah menjadi masakan paling sedap untuk dinikmati menjadi cerita pendek.”

Sekadar imajinasi? Mungkin tak akan pernah cukup bahkan sanggup. Karena tak semua penulis memiliki daya imajinasi kecuali ia memang luar biasa kedatangan “ilham”. Kecuali juga, bila ia memang sekadar mendatangkan imajinasi ala kadarnya. Rasanya pun (mungkin) bakal bisa terasa; hambar dan kering. Dibaca pun hanya berjumpa dengan kebosanan. “Tak menarik, mending langsung baca kalimat paragraf terakhirnya saja,” sela si penikmat cerpen dalam hati. Tentu sebagai penulis tak ingin mengetahui pergumaman dari sela si penikmat yang seperti itu, bukan?—terpenting dalam imajinasi bukanlah sekadar mengada-ada, melainkan bagaimana caranya melebarkan sayap penceritaan menjadi berterima dan meresap ke benak pembacanya. Itu saja, sederhananya.

Baiklah, seperti saya bilang tadi, saya memang tak membahasa cerpen “Aku Siapa??”, kecuali teringat akan momentum Anne Frank. Siapakah Ia?

Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.

Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya ke sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengantarkannya menjadi seorang “pengisah sejati” yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.

Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa  mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.

Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menarik dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”

Pada bulan April 1944 ia mencurahkan hati pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah. Dan memang terjadi, Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya. Karena pada tanggal 4 agustus pagi, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk Anne Frank, disergap oleh intelejen bayaran Nazi lalu digiring ke Penjara, lalu ke kamp pembuangan sampai akhirnya dicampakkan ke sebuah kamp mengerikan di dekat Hannover (Jerman) tahun 1945. Bersama dengan impian remaja dan cita-citanya, akhirnya Anne Frank meninggal dunia karena terlalu lelah, sakit dan lapar. Mayatnya dilempar ke sebuah pemakaman umum Bergen-Belsen. Ia mati dalam usia belasan tahun tanpa sempat tahu bahwa beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, diarinya ditemukan oleh petugas berceceran di lantai Secret Annex yang akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah yang dipublikasikan di seluruh dunia.

Nah, dari kisah di atas, setidaknya kita dapat memetik pelajaran penting bahwa menulis adalah sebuah cara untuk mendokumentasikan segala pikiran, pengalaman dan imajinasi kita ke dalam bentuk tulisan.

Untuk melengkapi jawaban ini, saya semakin teringat penggalan-penggalan bagus dari diari Anne, “Saat aku menulis, aku dapat meluruhkan seluruh deritaku. Ketakutanku lenyap, gairah hidupku bangkit kembali—aku berharap, semoga bisa, oh, aku sangat berharap, hanya dengan menulis aku dapat merekam segalanya, seluruh pikiran, ide fantasi maupun segenap imajinasiku..

Pada awalnya, si Anne tidak berpikir kalau buku diarinya akan dipublikasikan secara luas. Ia menulis untuk dibaca sendiri dan berdasarkan motivasi seperti yang diuraikannya di atas. Dan sebetulnya, dipelajari atau tidak, menulis itu tetap mengiringi hidup kita sehari-hari karena memang sudah menjadi kebutuhan. Baik untuk kepentingan seperti mengerjakan tugas sekolah maupun untuk keperluan yang lebih bersifat privasi seperti menulis surat cinta, sms atau menulis curahan hati di buku diari.

Sekian.

***

Membaca “Mengolah Cerita” di atas, sesungguhnya merupakan rangsangan saya atas pembacaan terhadap seorang cerpenis di bawah ini.

Aku Siapa???

Karya: Dewa Made Suyadna

 

“Lihat ini adalah salah mereka orang-orang tak bertanggung jawab, mereka memerangi orang-orang yang tak bersalah…”. itulah kalimat yang selalu kudengar dari orang berpenampilan rapi yang mempresentasikan hal yang aku rasa intinya sama. Entah sudah berapa kali aku dengar dan aku pun tak tahu kenapa aku tak bosan-bosan mendengarkannya sampai-sampai aku tak ingat apa pun selain kata-kata itu. Continue reading


Sekali Lagi, Musikalisasi Puisi

Oleh Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau

Di dunia seni, sesungguhnya musikalisasi puisi bukanlah barang baru. Sebagaimana yang dilansir F. Moses melalui tulisannya di harian ini, Bunyi-Bunyian Plus dalam Musikalisasi Puisi (Lampung Post, 15 Mei 2011), bunyi (instrumen musik) dan teks puisi sudah hadir sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan.

Musikalisasi puisi juga sudah menjadi perhatian bagi para komponis besar, seperti Franz Schubert (1797—1828), yang membuat komposisi musik vokal berdasar syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar Eropa di zaman itu serta Maurice Ravel (1875—1937) yang membuat sebuah karya piano (berjudul Gaspard de la Nuit) berdasar puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807—1841).

Begitu pula di Indonesia. Kelompok musik Bimbo, misalnya, secara sangat ekspresif telah menyanyikan (memusikalisasi) puisi-puisi Taufiq Ismail, seperti Tuhan dan Dengan Puisi Aku. Sementara itu, Ebiet G. Ade pun selalu membawakan puisi-puisi ciptaannya sendiri ke dalam bentuk musik yang melodi baladis. Tak ketinggalan Yan Hartlan, Rita Rubi Hartlan, dan Ully Sigar Rusady, mereka pun gemar memusikalisasi puisi-puisinya. Yang menarik adalah pemusikalisasian itu telah berhasil mengantarkan puisi-puisi yang dimusikalisasi ke khalayak (masyarakat) tanpa terkurangi maknanya.

Oleh banyak orang, musikalisasi puisi masih sering dianggap sebagai salah satu teknik dalam pembacaan puisi. Orkestrasi musik (baik yang sederhana [dengan satu gitar] maupun yang tidak sederhana [orkes ansambel atau simponi]) hanya dijadikan latar atau pengiring pembacaan puisi. Artinya, antara puisi dan musik masih ada jarak. Puisi dan musik masih diperlakukan sebagai dua hal yang berbeda sehingga hasilnya pun baru sampai pada tahap mengiringi pembacaan/penyanyian puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan alat ritmik yang lain. Musikalisasi puisi, dengan demikian, belum dipahami sebagai karya kreatif (cara lain) dalam apresiasi puisi.

Sebagai karya kreatif dalam apresiasi puisi, musikalisasi puisi semakin hari semakin mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya di kalangan kawula muda. Banyaknya penyelenggaraan kegiatan musikalisasi puisi di berbagai sekolah dan daerah membuktikan hal itu. Bahkan, belakangan ini muncul pula komunitas-komunitas (sanggar) baru yang secara intens menggeluti musikalisasi puisi. Komunitas-komunitas itu, baik secara lokal maupun nasional, kemudian berhimpun membentuk wadah baru: Komite Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Di samping di tingkat nasional, konon, Kompi juga telah berdiri di banyak provinsi, seperti Kompi Menado, Kompi Medan, Kompi Lampung, dan Kompi Jambi. Sementara itu, kegiatan musikakisasi puisi pun digelar di mana-mana. Sekadar contoh, di Sumatera, misalnya, setiap tahun (sejak 2006) digelar Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA Se-Sumatera. Tahun ini (2011) festival itu akan digelar di Palembang pada 5 dan 6 Juli 2011 oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan.

Mengapa Musikalisasi Puisi Menarik?

Musikalisasi puisi pada hakikatnya adalah kolaborasi apresiasi seni antara puisi, musik, dan pentas. Melalui musikalisasi puisi, seseorang tidak hanya mendapat kesempatan mengapresiasi puisi dan musik, tetapi juga mendapat kesempatan mengekspresikan apresiasinya itu di depan khalayak. Musikalisasi puisi, dengan demikian, adalah sebuah karya yang jelas membutuhkan daya kreativitas tinggi. Barangkali dua hal terakhir (musik dan pentas) itulah yang menjadikan musikalisasi puisi menarik minat banyak orang (terutama kawula muda) karena dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media/cara alternatif dalam pengembangan kreativitas mereka.

Seperti yang telah kita ketahui, belakangan ini banyak bermunculan kelompok musik (grup band) dengan berbagai corak dan jenisnya. Pada umumnya, tanpa harus mengabaikan proses kreativitas mereka, syair lagunya terkesan sederhana, polos, dan vulgar. Artinya, untuk menangkap makna syair itu seseorang tidak perlu banyak buang energi, begitu mendengar sudah tahu maksudnya, tanpa proses panjang untuk menafsirkannya. Di sinilah sesungguhnya mereka dapat memanfaatkan puisi, seperti yang pernah dilakukan Iwan Fals (bersama Kantata Taqwa) atas puisi Rendra, Kesaksian, God Bless atas puisi Taufiq Ismail, Panggung Sandiwara”, dan Gigi atas puisi Taufiq Ismail, Pintu Surga.

Model Musikalisasi Puisi

Harus diakui hingga kini masih terjadi pro dan kontra terhadap bentuk/model musikalisasi puisi yang dianggap standar. Setidaknya ada tiga model musikalisasi puisi yang dapat diamati. Pertama, model musikalisasi puisi lagu. Dalam model ini puisi digubah menjadi syair lagu. Fokus utama model ini cenderung pada musiknya. Model musikalisasi puisi semacam ini dapat dilihat pada syair-syair lagu yang dibawakan Bimbo atas puisi-puisi Taufiq Ismail serta syair-syair lagu yang dibawakan Reda Gaudiamo dan Tatyana atas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Kedua, model musikalisasi puisi iringan. Dalam model ini puisi dibawakan (dibaca atau didendangkan) dengan diiringi oleh permainan alat-alat musik. Fokus utama model musikalisasi puisi ini adalah keahlian olah vokal pembaca/pendendang puisi. Model ini biasanya dilakukan oleh masyarakat umum dalam lomba-lomba/kegiatan baca puisi. Ketiga, model musikalisasi puisi total. Dalam model ini puisi dan musik dikolaborasikan. Pengikut model ini beranggapan bahwa pada hakikatnya puisi sudah memiliki musiknya sendiri.

Oleh sebab itu, tugas utama dalam musikalisasi puisi adalah mentransformasikan unsur musik yang ada dalam puisi itu ke bentuk yang lebih konkret, melalui alat musik. Dengan kata lain, musikalisasi puisi bukanlah kerja menciptakan musik untuk puisi, melainkan kerja mengonkretkan puisi dalam bentuk musik. Alat musiknya pun tidak harus berupa alat musik yang sudah lazim, tetapi dapat berupa apa saja. Model inilah, yang pada awalnya dilakukan oleh Devies Sanggar Matahari (Jakarta) dan menyebar melalui Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi), rupanya yang berkembang dengan baik.

Terlepas dari pro dan kontra (tiga model) itu, proses musikalisasi puisi (sebagai cara lain mengapresiasi puisi) mau tidak mau harus diawali dari pemahaman puisi. Setelah puisi benar-benar dipahami, langkah berikutnya adalah mencoba mengonkretkan pemahaman itu ke bentuk bunyi (musik). Untuk itu, unsur-unsur musik: nada, melodi, irama, tangga nada, dinamika, serta unsur pendukung lain seperti ekspresi dan harmonisasi perlu dikuasai. Berikut adalah penjelasn singkat mengenai unsur-unsur musik dan pendukung lainnya itu.

(1) Nada (tone) merupakan bagian terkecil dari lagu. Dalam pengertian musik, nada adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur dasar.

(2) Melodi adalah susunan nada secara horizontal dengan lompatan (interval) tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi melodi inilah yang akan mengonkretkan larik-larik puisi menjadi lagu.

(3) Irama adalah ukuran waktu atau tempo. Dalam musikalisasi puisi, irama menjadi sangat penting untuk memberi jiwa pada puisi yang diapresiasi. Puisi yang bersemangat seperti Aku-nya Chairil Anwar, misalnya, akan menjadi lebih bermakna jika dikemas dalam irama yang bervariatif: tempo sedang dengan perubahan (dipercepat dan diperlambat).

(4) Tangga nada berpengaruh besar terhadap penjiwaan puisi. Tangga nada minor, misalnya, cocok dipakai untuk puisi-puisi yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka, dan pesimistis, sedangkan tangga nada mayor lebih cocok digunakan untuk puisi-puisi yang berjiwa optimistis, gagah, berani, riang, dan gembira.

(5) Dinamika berkaitan dengan keras-lembutnya lagu. Kadangkala suatu lagu dinyanyikan dengan sangat lembut pada awal penyajian, kemudian berangsur-angsur keras, atau mendadak keras, kembali melembut pada bagian tertentu, kemudian mengeras atau melembut pada bagian akhir (ending). Perubahan keras-lembutnya lagu ini akan memberikan nuansa penjiwaan pada penyajian lagu.

(6) Ekspresi adalah pengungkapan atau proses menyatakan. Dalam musikalisasi puisi, ekspresi menjadi bagian yang sangat penting karena melalui ekspresi inilah menarik tidaknya sebuah musikalisasi puisi. Celakanya, ekspresi tidak hanya terkait dengan pemahaman puisi, tetapi juga terkait dengan karakter orang (keaktoran) apresiator.

(7) Harmonisasi adalah keselarasan. Harmonisasi menjadi sangat dibutuhkan ketika musikalisasi puisi sudah sampai pada tahap orkestrasi yang melibatkan unsur instrumen musik iringan. Pada tahap ini peran iringan adalah memadukan unsur melodi, ritme, tempo, dinamika, serta ekspresi lagu.

Begitulah, jika sejak dulu dunia puisi adalah dunia yang sunyi, musikalisasi puisi dapat dijadikan sebagai salah satu pintu pembuka harapan menuju dunia yang lebih semarak. Di tengah ingar-bingar kawula muda yang sedang gandrung pada seni musik, musikalisasi puisi memiliki peluang untuk menggaet mereka. Jika itu terwujud, mudah-mudahan puisi (dan sastra pada umumnya) tidak lagi seperti diikat dan dipojokkan ke sudut sejarah yang berdebu. Semoga.

Sumber: Lampung Post, 22 Mei 2011


‘Bunyi-Bunyian Plus’ dalam Musikalisasi Puisi

Oleh F. Moses

Musikalisasi puisi bukan semata adalah pengertian, melainkan peristiwa dunia proses kreatif. Semacam metamorfosis dari tiap instrumen; musik dan puisi itu sendiri. Maka untuk memahami musikalisasi puisi dapat dikatakan “mudah tapi sulit”; semacam dibutuhkan usaha konkret dari “bunyi yang abstrak”.

—-

MUDAH kita memberikan bunyi konkret ke dalam puisi itu sendiri, semisal pemusik. Ia akan dengan mudah memasukkan instrumen menjadi pengiring puisi itu sendiri. Atau bukan pemusik sekalipun, asalkan saja ia mampu menghadirkan bunyi bagi puisi itu sendiri. Sementara kesulitan yang acap terjadi adalah kekeliruan dalam bertafsir. Selain faktor lainnya. Seperti keterampilan dalam penguasaan instrumen, keselarasan, vokal, dan penampilan.

Dalam puisi itu sendiri, ada beberapa unsur di dalamnya; seperti rima, irama, maupun tipografi. Selain itu, dalam tradisi berpuisi atau bersajak juga terdapat aksentuasi (penekanan makna) dari bahasa puisi itu sendiri—yang disampaikan oleh si penyair, tentunya. Seperti kebutuhan akan tanda baca (pungtuasi). Untuk bunyi, wilayahnya pun tak sebatas alat musik; bahkan, bila perlu, dari “tubuh kita sendiri pun adalah kehadiran bunyi itu sendiri”—seperti bertepuk-tangan ataupun bunyi ketukan dari tangan pada kepala, misalnya.

Lantas, adakah contoh puisi dalam musikalisasi puisi itu? Atau hanya beberapa saja untuk kesungguhan puisi yang dapat dimusikalisasikan. Menurut saya tak hanya beberapa, karena sesungguhnya semua puisi berhakikat untuk dimusikalisasikan, tinggal bagaimana pemusikalisasi berstrategi dalam menafsirkan puisi itu sendiri ke dalam bentuk musikalisasi. Intinya, seyogianya, puisilah yang dimusikalisasikan dan bukan musik yang dipuisikan.

Musikalisasi memang bukanlah sesuatu yang baru. Sepengamatan saya, bunyi (instrumen musik) dan teks puisi sudah hadir sezak zaman lampau –kalau boleh dikatakan/ditambahkan—sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan. Juga dalam dunia musik (khususnya klasik), musikalisasi puisi sudah menjadi perhatian bagi para komponis sejak dahulu. Sebut saja Franz Schubert (1797-1828), yang membuat komposisi musik vokal berdasarkan syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar eropa di zaman itu. Atau Maurice Ravel (1875-1937), komponis yang membuat sebuah karya piano (berjudul Gaspard de la Nuit) berdasarkan puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807-1841).

***

Musik puisi pernah menghias jagat musik era 70-an, beberapa seniman mencoba untuk memusikalisasikan puisi antara lain, puisi Sanusi Pane, Chairil Anwar, Kirdjomulyo, dan Ramadhan K.H. Karya sastra tersebut digubah menjadi lagu oleh komponis dan penulis lagu, salah satunya F.X. Sutopo. Syair pada lagu bercerita tentang persoalan hidup, tentang lingkungan hidup, dan keindahan alam. Bimbo, bisa dikatakan sebagai penggebrak “avant garde” musik puisi di Indonesia. Mereka bekerja sama dengan penyair Taufiq Ismail “Dengan puisi aku bernyanyi”.

Sikap awal mereka—sepengamatan saya—itulah, seperti sejarah musik puisi yang mesti diingat.

***

Sejak tahun 2006 hingga sekarang ini, setiap tahun Kantor Bahasa Provinsi Lampung (KBPL) mengadakan Bengkel Sastra. Bengkel yang di antaranya semacam pelatihan bagi siswa SMA terhadap musikalisasi puisi itu sendiri. Dan tiap tahunnya pula KBPL mengadakan pementasan bernama Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA. Dari situlah, sekira KBPL membentuk mereka untuk mengenal lebih jauh proses kreatif pemusikalan terhadap sebuah puisi. Mulai dari puisi ranah Lampung dan nasional diperkenalkan kepada mereka. Dan sikap mereka; siswa dan guru, bahkan masyarakat (juga kalangan seniman, tentunya), cukup apresiatif menanggapinya. Dan tak hanya KBPL, tapi juga teman-teman komunitas; Komunitas Berkat Yakin (KoBer), Komunitas Teater Satu, komunitas di Kota Metro, Lampung Barat, Lampung Utara, Lampung Timut, Lampung Selatan, hingga beberapa komunitas kesenian di sekolah-sekolah (SMA dan universitas)—yang sebenarnya juga selalu bagian dari perhatian mereka dan kerap ditunaikannya.

***

Kembali dalam musikalisasi puisi itu sendiri secara umum, dalam masyarakat pencinta seni musik maupun penyair, sikap ”pro dan kontra” terhadap musikalisasi puisi itu sendiri juga masih dalam dalam batas wajar. Sebab sepengamatan saya, inti pokok masalah itu tak lain bersifat mempertanyakan terhadap puisi itu sendiri yang sesungguhnya memiliki keutuhan bunyinya sendiri, seperti ”Mengapa, kok, puisi dimusikalkan segala?”; sebuah artian bahwa instrumen musik dianggap mengganggu puisi itu sendiri. Bahkan ada peranggapan bahwa sikap memusikalisasi justru merusak puisi dari karya penyair itu sendiri pula. Saya beranggap mereka tidaklah salah, dan hak mereka juga untuk menanggapinya demikian, kan?

Terpenting dalam musikalisasi puisi itu sendiri, sepanjang penyesuaianya pada usaha memampukan agar lebih “menjadi” utuh. Keutuhan yang dimaksud adalah usaha semaksimal, sebagus, dan sebaik mungkin, segala bunyi-bunyian pada instrumen musik (secara musikalitas) mampu dan tepat untuk menembus ruang pemaknaan dari puisi itu sendiri. Dan ketika tak mampu menghadirkan ketepatan penafsiran pemaknaan itu, barulah disebut kurang tepat. Bahkan bisa disebut merusak atau “memerkosa”.

Jadi, bukan perkara salah seperti tertangkap dan teranggap. Dan tentang kesalahan itu—kalau boleh saya tekankan—akan salah besar bila kita menambahkan atau justru mengurangi teks puisi karya penyair itu sendiri. Sebab tak lain merupakan sikap perusakan atau “memerkosa” puisi itu sendiri. Dan (barangkali) itulah yang dianggap gagal. Dan justru itulah pula yang dianggap merusak.

Semoga saja, saya selalu berharap, musikalisasi puisi di ranah Lampung, Sang Bumi Ruwai Jurai, terus menggema, lewat “bunyi-bunyian plus” pemusikalisasian—seperti kehadiran puisi dari pengrajinnya, para penyair Lampung, yang selalu tak pernah lelah apalagi berkesudahan untuk selalu “bermazmur lewat puisi”—di Lampung dan wilayah sekitar hingga “seberang lautan”.

Sumber: Lampung Post, 15 Mei 2011


Simfoni Biru Ombak

Berikut cerpen karya Theodora Cynthia Wijaya, pelajar SMA Fransiskus, Bandarlampung. “plus” ulasan sederhana dari saya.

Rina mencoba membersihkan puntung rokok yang berserakan di bawah meja kedai orang tuanya. Memungut setiap puntungnya sih tak jadi soal. Masalahnya adalah serbuk rokok yang tertinggal di lantai itu sangat sulit dihilangkan, seperti melekat di lantai.

Perhatian Rina terpusat ke lantai sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Arnan yang kini tengah berdiri di belakang Rina dengan dua kaleng limun dingin di tangannya.

“Terlihat sibuk sekali, Nona.” Arnan tersenyum.

“Arnan!” Rina berbalik dan melepaskan sarung tangan pembersih dari tangannya.

“Ini, kau terlihat sangat letih.” Arnan memberikan satu kaleng limunnya kepada Rina.

“Terima kasih. Ya, pelanggan yang terakhir adalah yang terburuk.”

“Orang kota jahanam itu?” Ekspresi Arnan berubah. “Dasar keparat perusak pantai! Belum puaskah mereka menghancurkan pantai ini?”

“Iya, mereka selalu datang saat kedai ini buka dan pulang saat kedai hampir tutup. Mereka mengganggu setiap pelanggan, berteriak-teriak, mengotori lantai.. Lama-lama kedai ini bisa bangkrut kehilangan pembeli.” Rina terlihat sedih.

“Benar-benar kurang ajar mereka itu! Aku akan mengusir mereka dari desa dengan membawa perkara perusakan pantai ini ke pengadilan. Cara damai jelas tidak mempan!”

“Arnan, kita tidak mampu membayar pengacara dari kota.”

“Rina, aku tidak sanggup melihatmu terus-terusan tersiksa. Mereka menganggumu dengan berbagai cara. Aku jelas tidak mungkin membiarkan pantai dirusak. Tapi aku lebih tidak mungkin lagi melihatmu dalam keadaan begini. Aku bisa menggunakan harta warisan terakhir dari almarhum ayahku.” Arnan terlihat menimbang-nimbang.

“Arnan, terlalu berisiko. Lagi pula bukankah uang itu akan kita gunakan untuk acara minggu depan?” Rina menyeruput limun kalengnya dan menatap Arnan.

“Hidupku adalah kau dan pantai ini.” Arnan menggenggam tangan Rina, “Aku tak bisa hidup tanpa salah satunya, jangan salah sangka.” Arnan melepas genggamannya dan menatap mata Rina dalam-dalam.

Keluarga Arnan adalah keluarga nelayan. Sejak kecil, Arnan melihat ayahnya memancing ikan dan ia sendiri pun merasakan darah nelayan mengalir dalam tubuhnya. Ia merasa senang bermain di laut. Ia bekerja paruh waktu sebagai petugas pembersih pinggir pantai setelah pulang sekolah. Ketika ayahnya meninggal, Arnan meneruskan pekerjaan ayahnya. Hingga suatu hari, muncul sekelompok pria dari kota yang mengaku sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan di pantai. Sah-sah saja bagi Arnan, toh laut merupakan anugerah Tuhan bagi setiap orang, dan Arnan jelas tidak memiliki hak untuk melarang mereka menangkap ikan di laut. Sampai Arnan tahu, mereka tidak menangkap ikan dengan cara biasa.

“Bagaimana kabar kerja Tuan Hartomo?” Rina tiba-tiba memecah keheningan. Tuan Hartomo adalah sahabat Arnan, seorang naturalist yang mengetahui teknik meremajakan pantai atau paling tidak membantu proses daya lenting suatu ekosistem pantai untuk kembali ke keadaan seimbang.

“Lumayan lancar. Ia sedang mengarantina daerah yang masih selamat dan mendayaguna yang rusak semaksimal mungkin. Tapi itu tidak mudah, ia bilang kerusakan laut di pantai ini sudah parah. Hampir semua terumbu karang yang indah sudah rusak tak berbentuk. Yang paling mengenaskan adalah menurunnya jumlah ikan secara drastis, otomatis pendapatan kami sebagai para nelayan juga menurun jauh. Dulu kami bisa memperoleh hampir setengah kuintal ikan per hari, sekarang… sepuluh kilo juga sudah hebat.” Arnan melempar kaleng kosong limun ke dalam keranjang sampah, raut mukanya kusut.

“Separah itukah keadaannya?” Tanya Rina.

“Ya, nelayan kota itu tidak segan menggunakan pukat harimau, atau bahkan alat peledak. Mereka pikir ikan itu apa? Pohon uang?” Arnan terlihat sangat marah.

“Tenang Arnan, kita selesaikan masalah ini bersama.” Rina memegang lengan dan memandang wajah Arnan lekat-lekat.

Ya, para nelayan dari kota itu menangkap ikan dengan cara yang tidak terpuji. Mereka menggunakan pukat harimau dan bom laut. Pukat harimau adalah jaring yang struktur interval jaringnya sangat kecil dengan kata lain sangat rapat sehingga anak-anak ikan yang masih kecil pun akan tertangkap bersama dengan induknya. Akibatnya, populasi ikan menurun secara drastis. Sekarang bahkan sudah sulit untuk mendapatkan ikan, apalagi yang berukuran besar seperti dulu. Sedangkan bom laut jelas merusak terumbu karang dan mencemari laut, dan ikut serta membunuh semua makhluk laut dalam jangkauan ledak.

“Andai mereka tak pernah datang…,” Rina melempar kaleng limun kosongnya ke dalam keranjang sampah lalu duduk di salah satu kursi kedainya.

“Hah, andai…” Pandangan Arnan menerawang jauh ke luar jendela, ke arah pantai. ”Waw, sepertinya sudah terlalu larut, aku harus pulang untuk mengurus Edna.” Arnan tiba-tiba tersadar. Edna adalah sepupunya yang masih duduk di sekolah dasar.

“Dah, sampaikan salamku padanya” Rina berdiri dari kursinya. “Ya, tentu” Arnan berdiri dan bergegas pergi, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Oh ya, aku baru saja membelikanmu ini.” Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dari sakunya. “Aku membelinya saat pergi menjual ikan tangkapan di kota kemarin. Kau bilang akhir-akhir ini sulit tidur, kotak musik ini menyenandungkan instrumental yang sangat indah.” Arnan menyerahkan kotak musik itu kepada Rina. Rina membukanya. Warnanya biru laut, seperti warna mereka berdua. Ketika dibuka, ada putri duyung kecil yang berdiri dan menari mengelilingi kotak kecil itu, lalu terdengar alunan simfoni bernuansa laut. “Indah sekali, terima kasih.” Rina terlihat gembira.

“Aku harap kau bisa tidur nyenyak malam ini, mimpikan aku.” Arnan mengecup dahi Rina.

“Dengan senang hati.” Rina memeluk tubuh Arnan. Saat itu juga, ia merasakan perasaan damai dan tenang. Tak lama kemudian Arnan pulang. Jam menunjukkan pukul delapan malam.

***

Malamnya Rina tak bisa tidur. Seperti biasa, ia berguling-guling di ranjangnya sambil memikirkan banyak hal, terutama Arnan.

Ia mengenal Arnan ketika ayahnya mengajaknya pergi ke pemakaman orang tua Arnan. Mereka saat itu baru pindah ke desa pinggir pantai. Ayah Rina membuka bisnis kedai pinggir pantai, dan pantai ini merupakan tempat yang pas, banyak ikan di laut, nelayan yang menangkapnya, dan wisatawan yang menjadi pelanggan di kedai mereka.

Ketika Rina dan ayahnya datang ke pemakaman, ada seorang pemuda berbaju hitam yang duduk menghadap ke kedua makam di hadapannya. Wajahnya terlihat sangat sedih. Rina tak pernah melihat kesedihan yang melebihi kesedihan di wajah pemuda itu. Pemuda itu duduk terpatung, matanya kosong. Rina diberitahu oleh ayahnya bahwa pemuda itu adalah putra tunggal yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua pemuda itu meninggal karena kecelakaan saat menangkap ikan di laut tak lama setelah kedatangan para nelayan dari kota. Perahu mereka karam terkena dampak ledakan bom laut itu. Ayah Rina sendiri tahu hal itu setelah tetangga baru yang menyambutnya menceritakan peristiwa tersebut.

Ketika diajak pulang oleh ayahnya, Rina menolak. Ia berkata ingin mengajak bicara dan menenangkan pemuda itu. Sesaat setelah ayah Rina pulang, Rina mencoba mendekati pemuda itu, hujan mulai turun.

“Hmhmhm, maaf mengganggu, saya rasa Anda harus pulang. Lihat hujan mulai turun” Rina berkata dengan lembut. Tapi pemuda itu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia bahkan tidak merespon Rina sedikit pun. Seakan-akan tak ada yang berbicara di sekelilingnya. Bahkan telihat dari matanya, bahwa ia tidak merasa hidup. Hujan rintik-rintik membasahi rambutnya.

“Maaf, tapi sungguh, Anda harus pulang, atau berteduh. Anda bisa sakit.” Rina lalu melihat sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa lagi di pemakaman itu. Kosong. Seperti sepasang mata pemuda ini. Mata yang sangat indah menurut Rina, meski kosong.

“Maaf…” Rina mencoba menyentuh pundak pemuda itu. Tetapi pemuda itu malah terjatuh. Rina mendekatinya dan menyadari bahwa ia pingsan. Rina lantas menariknya ke tempat yang teduh lalu berlari mencari pertolongan. Ia berteriak namun tak ada satu pun orang yang datang menolong. Lalu ia berlari ke desa dan memanggil beberapa warga untuk menolong pemuda itu. Warga yang datang membawa pemuda itu ke rumahnya.

Pemuda itu sebatang kara karena ditinggal oleh kedua orang tuanya. Rina yang iba merawatnya sampai ia siuman. Saat siuman, pemuda itu tetap hanya membisu. Rina membawakan semangkuk sup lalu mencoba mengajaknya bicara. Meski pada awalnya pemuda itu tak menjawab, Rina terus merawatnya hingga ia pulih. Pada akhirnya pemuda itu mau diajak bicara, berkenalan, bahkan ia mulai tersenyum saat Rina datang ke rumahnya untuk membawakan semangkuk sup untuk sarapan.

Sejak saat itu mereka semakin dekat. Rina merasakan bahwa Arnan adalah orang yang selama ini dia cari. Arnan yang tersenyum atau tertawa mampu membuat hari-harinya semarak, mencerahkan hatinya yang gundah, dan yang pasti membuatnya menikmati  apa itu hadiah terindah dari hidup ini. Arnan sendiri merasakan kehadiran Rina sebagai malaikat dalam hidupnya. Rina datang menguatkannya di saat hidupnya hampir hancur. Rina selalu menyemangatinya, dan tak henti peduli padanya. Rina merasa Arnan adalah cahaya matahari dalam hidupnya, dan Arnan merasa bahwa Rina adalah embun segar yang selalu datang setiap paginya.

Sudah lima tahun berlalu. Banyak masalah yang datang silih berganti. Terutama nelayan metropolitan yang tidak menyadari hukum alam itu, mengeksploitasi laut tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem. Rencana pernikahan Rina dan Arnan minggu depan terusik karenanya. Pikiran Arnan bercabang, tapi ia sudah melamar Rina. Mereka akan tetap menikah minggu depan.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Rina masih belum bisa tidur. Ia tetap berguling-guling di ranjangnya. Lalu Rina teringat akan kotak musik pemberian Arnan sore tadi. Ia mengambilnya lalu membukanya perlahan-lahan.

Terdengar alunan simfoni yang lembut, tenang, dan manis. Seperti deru ombak yang sangat familiar di telinga Rina. Hanya saja, dibalik melodinya Rina menangkap nuansa sedih yang tak terlukiskan. Namun ia tak peduli. Saat mendengar simfoni itu, yang terbayang hanyalah wajah Arnan. Dengan senyumnya yang hangat dan pandangan matanya yang mampu membuat Rina gila. Rina terus mendengar simfoninya hingga ia terlelap.

***

Keesokan paginya, saat Rina minum teh dan duduk di kedai miliknya, Edna datang dengan tergesa-gesa dan dengan mata yang sembab. Rina merasakan ada yang tidak beres lalu bertanya kepada Edna apa yang sebenarnya terjadi. Edna awalnya tak mampu berkata apa-apa. Ia terus saja menangis. Rina memandangnya dan merasakan aura kesedihan melekat di pandangan matanya. Edna perlahan-lahan berbicara. Meski tergagap-gagap, ia mengucapkan kata demi kata dengan sangat jelas di telinga Rina, dan jawaban Edna itu sungguh di luar perkiraan Rina, bahkan mungkin di luar batas logikanya. Semerta-merta, cangkir teh yang dipegangnya terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Berita itu mematikan setiap saraf di kepala Rina. Memusnahkan setiap keping jantung hatinya.

Arnan dibunuh

Ia mati

Ia pergi

Dan tak akan pernah kembali

Rina diam terpaku. Pandangannya lurus, kosong. Dalam hati ia benar-benar berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Ia berharap ia akan bangun dan mendapati Arnan sedang duduk di sisinya. Tersenyum dan menggenggam tangannya. Membelai lembut rambutnya, dan membisikkan kata-kata cinta seperti dulu.

Rina merasakan sekujur tubuhnya lemas. Ia perlahan-lahan jatuh ke lantai. Tangannya mengenai kepingan pecahan cangkir teh yang ada di lantai dan saat itu juga ia merasakan darah mengalir dari tangannya. Merah, hangat, dan nyata. Berarti ini bukan mimpi! Ini nyata! Ia tidak sedang terlelap dan ia tidak akan terbangun dengan mendapati Arnan di sampingnya. Karena Rina memang sudah bangun, dan Arnan memang sudah pergi. Meninggalkannya, dengan cintanya kepada Arnan yang masih teramat besar.

Edna tambah menangis melihat Rina yang berteriak- teriak seperti digorok lehernya. Edna meraung-raung dan Rina berteriak-teriak. Suasana sangat pilu, kebisingan itu menimbulkan suara yang sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Tengah malam tadi ketika Edna tertidur, dua orang pencuri memasuki rumahnya. Arnan yang saat itu belum tidur berusaha mengusir kedua pencuri itu dan membela diri. Namun, ia ditusuk dengan parang yang dibawa oleh salah satu kawanan pencuri itu.

Edna yang terbangun karena kebisingan dan teriakan Arnan langsung berteriak melihat kakaknya roboh bersimbah darah. Para tetangga berdatangan menolong Arnan. Namun, mereka terlambat. Arnan tak tertolong lagi. Parang itu menancap tepat di jantungnya.

Salah seorang warga berhasil menangkap pencuri yang membawa parang itu dan warga sekampung langsung menghajarnya habis-habisan. Mereka kesal karena pencuri itu telah merebut nyawa nelayan kebanggaan kampung mereka. Setelah babak belur dan ditanyai dengan ancaman akan dibunuh, pencuri itu mengakui semua perbuatannya. Ia adalah orang suruhan nelayan yang datang dari kota untuk membunuh Arnan. Tujuannya adalah agar Arnan bungkam dan tidak membawa masalah perusakan laut itu ke pengadilan. Nelayan dari kota itu takut Arnan menjadi ancaman bagi dirinya dan bisnisnya. Ia tahu, hanya Arnan-lah satu-satunya orang yang menjadi ancaman, karena nelayan lain tidak mungkin berani. Segala upaya telah dilakukannya untuk memojokkan Arnan, mulai dari menganggu calon istrinya, pekerjaannya, hingga ia putuskan bahwa cara terakhir adalah dengan menyuruh orang untuk membunuhnya seolah-olah memperlihatkan itu sebagai perbuatan pencuri. Sialnya, salah satu anak buahnya tertangkap dan terbongkarlah semua rencana busuknya.

Warga yang tahu marah bukan kepalang. Mereka berusaha menangkap nelayan dari kota itu dan menjebloskannya ke dalam penjara. Tapi nelayan itu telah pergi. Bersama seluruh anak buahnya kecuali yang tertangkap oleh warga. Ia juga telah membayar polisi pinggir pantai agar tutup mulut dan tidak menghiraukan cerita warga. Terlebih dahulu ia mengancam polisi itu dengan menyandera anak dan istrinya . Polisi itu tak bisa berbuat apa-apa. Warga kehilangan jejak nelayan dari kota itu. Tak ada yang berani pergi ke kota untuk mencarinya. Terlalu berbahaya, pikir mereka. Mereka malah memutuskan untuk memakamkan Arnan dan melupakan peristiwa pahit itu. Mereka tahu Arnan bekorban untuk mereka namun mereka tak merasa memiliki daya yang cukup untuk menegakkan keadilan bagi Arnan, bahkan setelah Arnan tak bernyawa lagi.

Sejak saat itu, Rina tak pernah menjaga kedai ayahnya lagi. Ia berbaring seharian di ranjang sambil mendengarkan instrumental dari kotak musik pemberian calon suaminya. Ia tak pernah keluar kamar, apalagi keluar rumah. Ayahnya dan Edna bahkan seluruh kerabatnya sudah mencoba mengajaknya bicara. Namun, ia tidak merespon sedikit pun. Ia tetap berbaring seperti putri duyung yang bisu. Bibirnya terus mengucapkan nama Arnan seperti boneka tali yang rusak. Ia juga selalu mengenakan pakaian putih seperti saat ia terakhir kali memeluk Arnan. Menurutnya, Arnan akan selalu terasa nyata saat ia menghirup aroma pakaian itu. Aroma Arnan, orang yang sangat dicintainya. Orang yang telah meninggalkannya pula, untuk selama-lamanya.

Hingga suatu hari alunan melodi dari kotak musik itu tak terdengar lagi. Saat itu juga, Rina pergi meninggalkan ayahnya. Rina tak sanggup hidup tanpa seberkas pun bayang-bayang Arnan. Aroma pakaian itu menurut Rina sudah berubah. Bukan aroma tubuh Arnan lagi, tetapi aroma pakaian kotor yang tidak pernah dicuci. Dan alunan simfoni itu, melodinya terputus di tengah-tengah. Wajar saja, Rina tidak pernah menutupnya sejak ia membukanya di pagi ia tahu Arnan pergi. Dan baterai kotak musik itu sekarang telah habis sehingga alunan simfoni itu terhenti. Rina percaya Arnan-lah yang yang memutus alunan itu. Menghentikan alunan simfoni biru ombak mereka sebagai isyarat, sudah saatnya Rina pergi menemuinya.

Ulasan

”Misteri”

oleh F Moses

Cerita yang baik, entah lisan atau tulisan dalam tradisi sepanjang masa, baik pahit-manis hingga kegetirannya, acap dianggap penyimpan ”misteri berpenuh energi” dan enigmatik yang tertunda. Selalu dianggapnya demikian. Kalau tidak ya omong kosong, lah. Dan sekalipun dianggapnya omong kosong, setidaknya satu catatan (mungkin) perlu diingat: selalu disediakannya ”rasa klise”—entah nyata atau tidak, fakta atau bukan, bahkan benar terjadi atau justru sebaliknya—yang mesti memesona dalam penceritaannya. Kalau tidak, jangan salahkan pembacanya ngacir. Dan puji syukur, ini kali saya tidak menjadi pembaca seperti itu.

Cerpen karya Theodora Cyntia Wijaya, dalam konteks cerita remaja (maaf saya menyebutnya demikian—bukan lantaran masih pelajar apalagi cerita sebatas penikmat kalangan remaja saja), setidaknya mampu mendekati ”jalan misteri” penceritaan yang ditempuhnya. Sekalipun ada saja yang membuatnya ketidaksabaran saat menunaikan penceritaan; kesan terburu-buru dan ”penalaran/ logika bercerita yang masih terendus ke sana kemari”. Boleh saja dibilang tidak soal, ini kan cerpen (sangat dituntut pemadatan semaksimal mungkin). Ya, memang, tetapi andai sekali sentuh lagi, bisa saya bilang cerpen Simfoni Biru Laut adalah prosa menarik dari seorang penulis remaja. Sebab, lagi pula, pemadatan juga tidak berarti menghalalkan segala cara terhadap penceritaan yang akan ditempuh, kan?

Baiklah, selanjutnya, saya sebagai pembaca, ada kewajiban yang mungkin saya anggap perlu menjadi catatan apresiasi cerpen pada umumnya. Tentunya untuk kita bersama juga. Pun Theodora.

Pengenalan—penulis yang baik selalu membuka pintu penceritaan dengan perlahan (bukan lambat), itu adalah hal penting, kala lintasan awal cerita secara tidak langsung menuntut daya tarik keingintahuan (suspense) dari seluruh indera pembacanya. Sekalipun awal cerita memang juga ada yang langsung ”menggebrak”dengan konflik, semata itu adalah siasat untuk menurunkan irama penceritaan ke tahap berikutnya. Maka mahirlah bersiasat.; ”mencuri rasa ingin tahu pembacanya”. Mungkin seperti saya sebut di atas: enigmatik yang tertunda.

Timbul Konflik—dari sinilah pembaca mulai ”tergerayangi”, terusik, bahkan terganggu oleh situai penceritaan yang mesti ”seperti ini dan itu”, mengapa bisa begini dan begitu, hingga tahap pembaca mulai sedikit emosi. Sesungguhnya penulis yang demikian sudah mulai bikin ”bergidik” pembacannya.

Klimaks—untuk hal demikian penulis dituntut memberikan hiperbarik kepada pembacanya. Sehingga pembaca secara langsung maupun tidak langsung seperti berada ditengah-tengah konflik yang sedang penulis hadirkan. Grafik emosi pembaca pun meninggi.

Pengakhiran—semacam mengistirahatkan pembaca. Setelah sejak awal ia berenang di kolam penceritaan. Biasanya, inilah tahap ”sentuhan” terakhir dari penulis ke pembacanya. Maka berilah sentuhan yang paling berkesan ke pembaca; entah penjernihan atau justru membuatnya semakin larut bahkan tenggelam. Bergantung, sekali lagi, dari siasat penulisnya itu sendiri. Entah lewat cara maupun strategi yang bagaimana.

Lantas, bila kembali saya kaitkan apresiasi tersebut terhadap cerpen milik Theodora, adakah kelaikan bahkan kepantasan? Dalam hal ini saya tidak bisa langsung menjawabnya secara matematis, kecuali pendekatan terhadap teks karya itu sendiri—dari saya sebagai pembaca. Dan, sepertinya, beruntunglah saya untuk kedua-kalinya: sebagai pembaca cukup merasakan adanya jalinan penceritaan (pengenalan, timbul konflik, klimaks, dan pengakhiran) yang cukup teratur.

Alangkah bahagia lagi kalau saya ditambah dengan ketertibannya bercerita. Sayang, saya belum mengendus ke arah ”tertib bercerita” dari cerpen Simfoni Biru Laut. Ketertiban yang saya maksud sebagai ”kekurangsabarannya” terhadap rambu lalu lintas penceritaan; semacam ada marka yang seharus dan semestinya membiarkan pembaca yang menagkapnya. Seperti kalimat, Pemuda itu sebatang kara karena ditinggal oleh kedua orang tuanya, yang di paragraf sebelumnya sudah dijelaskan tentang riwayat arnan. Selain itu, toh, pemuda sebatang kara secara tidak langsung sarat akan ”kesendiriannya”. Dan hal sama juga terjadi pada kalimat Arnan dibunuh. Ia mati. Ia pergi. Dan tak akan pernah kembali—sebab bila dibunuh dengan cara yang benar sudah pasti mati, kan? Dan akhirnya memang pergi dan tidak akan bisa kembali lagi. Jadi, seyogianya, tidak perlu lagi untuk menjelaskan kepada pembaca dengan maksud memberikan penjelasan sejelas-jelasnya

Semoga bukan maksud saya dalam artian ”tak ada gading yang tak retak”. Ah, andai saja saya bisa beruntung untuk ketiga-kalinya. Semoga mungkin masih tertunda saja, dan akan akan digenapi oleh Theodora selanjutnya. Ke dalam cerpen-cerpen berikutnya, tentunya. Yang mungkin saja suatu satu saat saya jumpai di media-media yang lain. Teruslah berkarya, ke dalam misteri strategi penyelamatan cerita selanjutnya. Salam sastra.

Sumber: Radar Lampung, Minggu, 17 April 2011


Sajak-sajak F. Moses

Kisah Semalam

setiap malam meyaksikan matahari pagi dari sebalik punggungmu

berharap kau bilang: selamat pagi kekasih, akulah pagimu

kamulah pagiku, katamu menambah

pagi dari malam berkabut semalaman kita tersesat dalam tragedi

tragedi kebekuan kebersamaan kita senyata payah.

Kecuali sengal napasmu, memacu derak ranjang yang jauh aku kuasai. Berakhir kau menguasaiku, terlebih ranjang ini

selalu kembali kita membakarnya selepas malam bersahutan; dari matahari pagi sebalik punggunggu. Bukan sekadar kembali menghangatkan, melainkan panas tubuhku yang ini kali mampu membakar tubuhmu.

aku hangus, katamu.

Gg Manyar-Telukbetung, Februari 2010

Yang Terjadi

begini jadinya;

kita tak pernah sama

di istana keabadian

berperabot angin, daun, dan pot berakar tanpa pernah menyiraminya

seperti daun berjatuhan tertangkup dengan bibir

seperti lembab pagi jauh bersentuh matahari

seperti tangis bayi pagi hari kehabisan air susu

dari perjalanan terakhir seorang yang selesai menjadi ibu

terlebih seperti kering matamu memerhatikan langkah ini

seolah takkan kembali lagi

dari benak musim yang selalu enggan kita beri nama

;dalam kesetiaan kita bersandiwara di dunia entah ini

Telukbetung-Jakarta, 2010

Depan Gereja Tanjungkarang

mendung menggantung

berdedas hujan tiada henti

bunyi serupa detak kerinduan kita

mengemas cinta

merangkum tanya

mendesah pasrah

betapa puluhan tahun jauh dari sua

kita berkarat lantaran larat

seperti kapal enggan sauh

dalam kota menua dan menahun

kita senantiasa mencari persamaan

:tentang siapa lebih tua dari tubuh dan tembok-tembok itu.

Hening. Bening. Tertampar tanya. Lonceng menggema duabelas kali.

Kau pun tersenyum.

2010, Tanjungkarang

Dari Sebutir Debu

“mataku kerasukan debu,” katamu setelah perjalanan jauh

aku seka matamu. Aku seka keringat di lehermu. Aku tiup matamu.

Dari perjalanan jauh ini

perjalanan kita memang selau dipenuhi berahi.

Berahi api selalu membakar ranjang kita semalaman. Tiada henti. Tiada percuma.

Berahi selalu mengantar api menjadikannya abu, sela penyair tua itu. kata-katanya masih membekas dalam ingatanku.

Sekali waktu, aku melihatmu tak berdaya. Dicumbu berpeluk debu yang sedemikian sengat. Aku hangus dipeluk debu, katamu tadi pagi.

Kau tinggal rangka.

Kecuali kata-katamu, senantiasa kuziarahi di dalam tubuhku.

2010

Wajah Baru di Tahun Baru

“mari kita buka,” katamu.

Berpuluh tahun kita menutupnya.

Kita memang sekumpulan pemalas yang suka jarang membuka. Kecuali mengganda dan gemar melipatgandakannya. Di antara penyihir kita mengelabuinya.

Ah, sebentar lagi tahun baru. Aku ingin buka yang selalu setia menutup wajah ini; topeng

2010

Sumber: Lampung Post, 6 Maret 2010


Karena Sesuatu yang Satu itu

F. Moses

APAKAH sekarang dia masih mencintaiku? Firasatku dia mencintai yang lain. Sepengamatanku dia masih sangat mencintaiku, terlebih sesuatu yang tergenggam ini. Luar biasa dan selalu bikin terpesona, katanya. Wah, semakin teringatnya.

Zaman pacaran, tak hanya dia yang terpesona oleh sesuatu yang satu itu, tapi juga kedua orang tuanya. Pernah, ketika diperkenalkannya bahwa aku pujaan dan pilihan dari hatinya dalam sehidup-semati, kedua orang tuanya langsung menyetujui tanpa ba-bi-bu. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menyuruhku diperkenalkan oleh pihak keluarga kapan aku mau. Kami siap, kata mereka. Betapa bahagia kedua orang tuaku saat kusampaikan pesan itu. Lalu saling bertemulah mereka, mengatur segalanya untuk pernikahan kami.

Meski sudah lima tahun tanpa anak yang, kami tetap bahagia. Rahasia kebahagian kami sederhana saja; lantaran ada paling disukainya. Diam-diam juga, memang lebih mencintainya ketimbang diriku.

Kecintaannya dengan sesuatu sudah bukan rahasia lagi. Teman-temannya sampai heran, mengapa dia—seorang wanita cantik rupawan nan menawan—lebih mencintai sesuatu milik suaminya. Tak ada dicintainya selain sesuatu yang satu itu.

***

Sebagai aparat yang kerap bertugas di daerah pedalaman terpencil, komandan dari kesatuan yang membawahi 51 prajurit, aku memang ditugaskan untuk meredam pemberontak yang akhir-akhir ini semakin brutal. Belum terjadi satu prajurit gugur dalam meredam pertikaian, pokoknya selalu sukses dan beres. Makanya, selama konflik masih berlangsung hingga kini, bertahun-tahun pula masih dipercaya sebagai kepala kesatuan. Namun apa daya, aku tetap lelaki biasa, apalagi sudah beristri. Mengangeninya adalah kedahsyatan.

“Iya Sayang, awal bulan kita pasti berjumpa. Hmm, iya, aku kangen kamu juga,” kataku. Dia sangat mengangeni aku. Dia selalu menunggu aku supaya cepat pulang dari tempat ini.

Setiap aku pulang, permintaannya satu, agar membawakan sesuatu yang agak panjang itu. Ah, apa susahnya membawa yang satu itu. Sebagai komandan sepertiku, apalagi permintaan istri sendiri.

***

Satu hingga empat bulan adalah hal biasa dia menyukainya. Tapi setiap bulan berikutnya, aku mulai tak habis pikir, mengapa hanya menginginkan itu. Untuk oleh-oleh mertuaku juga tak jauh beda, yakni sesuatu yang satu itu.

“Cukup kamu tunjukan saja sesuatu itu, dan biarkan mereka untuk sekadar melihat dan memegangnya. Mereka sangat menyukainya, Mas.”

Aku masih tak habis pikir mengapa mereka hanya menginginkan sesuatu itu. Terlebih dia, istriku. Sering aku memergokinya, mendengar dia berbicara seorang diri dengan sesuatu yang satu itu. Aku tercekat, dia lebih mencintainya. Gila.

Setiap malam dia kerap memainkan sesuatu itu. Bahkan berbicara dengannya. Sambil diremas-remas dan dielusnya. Seringkali aku marah karena itu. Keterlaluan, dia lebih mesra saat memperlakukannya. Diam-diam aku tenggelam cemburu.

Hingga suatu saat aku mesti kembali bertugas, ini kali pertama pula dia memaksa agar kutinggalkan sesuatu itu di rumah. Sebagai ingatan, katanya. Tentu saja tak kuberi, bagaimana mungkin aku dipisahkan dari milikku yang satu itu.

“Kenapa tak kau belikan saja dia mainan yang persis dengan sesuatu itu?” kata temanku lewat SMS. Segera kutelusuri banyak toko mainan. Aku mendapatinya dan mirip. Lumayan mahal. Hampir sejumlah gaji sebulan. Semoga dia cukup terhibur dan mengingatku.

***

“Maaf, Pak, Ibu lagi tak bisa diganggu karena sedang sibuk di kamar.”

“Iya…. Tapi, coba paksa bilang aku mau bicara.”

“Ehm… hmm, katanya lagi sibuk dengan, maaf, ya, sesuatu itu, Pak,” katanya terdengar cengengesan.

Saban malam menghubunginya, selalu begitu kata pembantu di rumah. Aneh. Sungguh aneh. Mengapa dia malah sibuk dengan mainan yang mirip sesuatu itu. Biarlah, semoga dia tetap selalu bahagia karena sesuatu yang satu itu.

***

Tak terasa sudah kembali pada kepulangan bulan berikutnya.

Katanya, nyonya selalu menyibukkan diri di kamar, Pak. Ah, paling juga sibuk dengan mainan sesuatu itu lagi. Pasti akan lebih senang kalau tiba saja aku mengejutkannya dengan sesuatu yang asli ini. Sambil melangkah pelan menuju kamar. Kulihat dia tengah bersila di atas ranjang menghadap foto dinding pernikahan kami. Perlahan aku menghampirinya.

Aku kecup bibirnya. Aku kecup hidungnya. Aku kecup matanya yang terpejam. Aku kecup hidungnya. Lalu aku kecup keningnya. Dan pada kecupan selanjutnya, dia menolak. Lagi-lagi dia justru memilih sesuatu itu. Begitu pandainya dia membelai-belai sesuatu yang satu itu. Dimanjanya. Berkali-kali pula diciumnya. Berakhir dipeluknya erat-erat.

“Kau boleh kembali pergi lagi, Mas. Asal sesuatu yang satu ini tetap dalam genggamanku,” katanya memohon. Sontak kularang keinginannya itu. Karena dengan memberikannya sesuatu mainan seharga hampir sejumlah gajiku itu sudah lebih dari cukup.

“Kita sudah hidup tanpa anak, sekarang kau tak memperbolehkan aku dengan sesuatu milikmu, Mas!”

“Kau jangan gila…!”

“Kau yang jangan gila, Mas. Ini permintaan terakhirku. Pokoknya kau boleh pergi untuk selebihnya kembali pada bulan berikutnya asalkan sesuatu itu kau tinggal. Pokoknya aku ingin sesuatu itu, Mas. Titik!” tukas istriku.

Aku tak mengerti. Aku malu dengan pertengkaran macam begini setiap pulang. Bahkan tetangga di luar pun mungkin sampai bosan mendengarkan pertengkaran kami. Dari pertengkaran yang hanya karena masalah sesuatu yang itu-itu juga. Tak bisa kubiarkan seorang istri hanya mencintai sesuatu yang satu itu.

Aku bilang masalah ini kepada mertua. Namun, mereka malah selalu membela alasan istriku.

Solusi terbaik, mungkin, kalau segera kurundingkan dengan atasanku.

“Goblok, masalah begitu kau ceritakan kepadaku!” seru atasanku lewat telepon.

“Maaf, Pak. Ini bukan masalah sesuatu yang lain. Tapi masalah sesuatu yang kebetulan milikku yang selalu aku pergunakan.”

“Hah!”

“Iya, Pak. Betul. Benar, Pak. Istriku itu sangat tergila-gila dengan sesuatu itu. Coba mohon dengar sekali lagi Pak, masak aku diperbolehkannya pergi asalkan sesuatu yang satu itu ditinggal. Mohon maklum, Pak, istriku itu cinta betul dengan sesuatu itu. Kalau Bapak berkenan, izinkan aku kembali berdinas tanpa membawa sesuatu yang satu itu. Aku tak ingin dia menjadi perempuan yang iseng sendirian, Pak.”

Setelah berunding cukup lama. Akhirnya diperbolehkan.

***

Seperti biasa setiap Minggu, kedua orang tuanya, yang kebetulan juga menyukai sesuatu yang satu itu, berkunjung ke rumah menantunya. Mereka memang tahu betul kalau setiap bulan selalu berkumpul.

Inilah awal bulan yang dipastikan dapat menemui mereka semua. Di samping harapan bercakap-cakap saling tukar cerita nantinya. Tentang rencana ke depan dalam berumah-tangga. Mulai dari kapan memiliki momongan hingga memiliki rumah tetap. Dan paling seru, mereka bisa melihat sesuatu milik menantunya itu. Karena bagi mereka itulah keberhasilan mempunyai menantu seorang anggota berpangkat komandan. Berdinas di luar kota pula. Lengkap dengan seragam yang tampak jumawa. Bagi mereka itulah keberhasilan luar biasa.

***

Meski mendung di langit tampak menggantung hebat, pintu pagar tetap dibuka dengan tenangnya. Keanehan tak mampu menembus perasaan mereka. Melepas sepatu dan sandal di muka pintu. Membiarkannya di luar tanpa takut terpercik hujan.

O, pintu tak terkunci. Mungkin mereka sedang berduaan di kamar, pikirnya.

Kedua orang tua itu memilih bersantai sejenak di ruangan tamu. Membuka penganan yang sedari rumah dibungkus rapi satu per satu. Sambil memandang tenang ke arah jendela. Di luar hujan perlahan menderas.

Mereka belum melangkah ke belakang, tepatnya dapur. Mungkin sebentar lagi, untuk seperti biasanya mengambil es batu dari baki dalam kulkas.

Dan tepat di muka kulkas, sepasang suami-istri tertelungkup, bersimbah—entah karena bunuh diri atau pertengkaran, menggunakan sesuatu yang satu itu: pistol.

Telukbetung, Juni-Oktober 2010

Sumber: Lampung Post, 8 Januari 2010


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.